Istri Adalah Orang Lain Yang Kebetulan Harus Diurus Suami?

Ya kalau begitu tidak usah nikah, cukup mengadopsi keponakan lalu dijadikan anak. Andaikan istri itu dari keluarga sedarah namanya Mahram, yakni wanita yang haram untuk dinikah. Makanya istri itu memang orang lain. Kalimat ‘yang kebetulan harus diurus suami’ juga tidak tepat. Sebab hanya kepada istrilah oleh Allah para suami halal melakukan apapun, yang hal tersebut dilarang untuk dilakukan dengan wanita lain yang belum halal, seperti melihat dengan syahwat, memegang, mencium dan seterusnya.

Soal nafkah dalam keluarga memang ada ditemukan 2 tipe suami. Ada yang menyerahkan uang hasil kerjanya kepada istri dan dikelola bersama. Ada pula seorang suami yang memberi jatah khusus kepada istri, seperti yang ada dalam gambar di bawah.

Terkhusus bagi suami tipe kedua ini pernah terjadi di masa Nabi:

ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ: ﻗﺎﻟﺖ ﻫﻨﺪ ﺃﻡ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻟﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﺇﻥ ﺃﺑﺎ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺭﺟﻞ ﺷﺤﻴﺢ، ﻓﻬﻞ ﻋﻠﻲ ﺟﻨﺎﺡ ﺃﻥ ﺁﺧﺬ ﻣﻦ ﻣﺎﻟﻪ ﺳﺮا؟ ﻗﺎﻝ: «ﺧﺬﻱ ﺃﻧﺖ ﻭﺑﻨﻮﻙ ﻣﺎ ﻳﻜﻔﻴﻚ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ»

Aisyah berkata bahwa Hindun, ibunya Muawiyah, bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: “Sungguh Abu Sufyan (suaminya) adalah lelaki yang pelit. Berdosakah saya jika mengambil uangnya secara diam-diam?” Nabi bersabda: “Ambillah olehmu dan anak-anakmu dari harta Abu Sufyan untuk kebutuhan kalian dengan cara yang baik” (HR Bukhari)

Mari perhatikan dalam hadis ini, Nabi mengizinkan para istri untuk mengambil uang milik suami ketika nafkah dari suami tidak mencukupi keperluan istri dan anaknya. Dan Nabi tidak menyebut istri seperti itu sebagai pencuri. Jika hal itu dilakukan oleh orang lain maka disebut pencuri, maling atau lainnya.

Maka jangan pernah menyebut istri sebagai ‘orang lain’ dalam arti memperlakukan seenaknya saja. Sebab hakikatnya istri adalah diri kita sendiri yang melahirkan dan memberi ASI.

Related Posts