Kajian Hadis: Kemarau di Zaman Rasulullah

Musim hujan sepertinya baru saja berpamitan menyirami bumi, terik panas dan hembusan angin kemarau sudah mulai terasa. Begitulah siklus alam dari tahun ketahun namun seperti biasanya di sebagaian daerah negeri ini, ketika kemarau sudah lama melanda banyak sawah, sungai dan sumur mengering hingga banyak masyarakat mengheluh kekurang air bersih untuk keperluan sehari-hari dan minuman ternak.

Dalam Islam, ketika menghadapi kekeringan yang panjang, kita memang diajarkan untuk memohon kepada Allah ﷻ agar diturunkan hujan dengan melaksanakan salat Istisqa dan memperbanyak doa. Hal tersebut juga pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Sayyidah ‘Aisyah berceritan: “Orang-orang mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang musim kemarau yang panjang. Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan”. Aisyah lalu berkata, “Rasulullah ﷺ keluar ketika matahari mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau ﷺ bertakbir dan memuji Allah ﷻ, lalu bersabda:

«إنكمُ شَكَوْتمْ جدْبَ دياركُم وقدْ أَمركُمُ الله أَن تَدْعُوهُ وَوَعدَكُمْ أَن يَسْتجيبَ لَكُمْ»

“Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah ﷻ telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Ia berjanji akan mengabulkan doa kalian”.

Kemudian beliau ﷺ mengucapkan:

«الحمْدُ لله ربِّ العالمينَ، الرَّحمن الرَّحيم، مَالِك يَوْمِ الدينِ، لا إلـه إلّا الله يَفْعَلُ ما يُريدُ، اللهُمّ أَنْتَ الله لا إله إلّا أَنْتَ، أَنْتَ الْغنيُّ ونَحْنُ الْفُقَراءُ، أَنزل عَلَيْنا الْغَيْثَ واجْعَلْ مَا أَنْزلْتَ علينا قُوَّةً وبلاغاً إلى حين»

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan, Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang di tetapkan.”

Kemudian beliau terus mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau. Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun dari mimbar dan shalat dua raka’at. Lalu Allah ﷻ mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan idzin Allah ﷻ. Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda:

أَشْهَدُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَأَنِّيْ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوِلِهِ

“Aku bersaksi bahwa Allah ﷻ adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no.1173).

Dalam hadits lain sahabat Anas Bin Malik ra menceritakan:

“Seorang lelaki memasuki masjid pada hari jum’at melalui pintu yang searah dengan daarul qadha. Ketika itu Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah dengan posisi berdiri. Lelaki tadi berkata: ‘Wahai Rasulullah, harta-harta telah binasa dan jalan-jalan terputus (banyak orang kelaparan dan kehausan). Mintalah kepada Allah ﷻ agar menurunkan hujan!’. Rasulullah ﷺ lalu mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan:

«اللَّهُمّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا»،

“Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, turunkan hujan pada kami. Ya Allah, anugerahkanlah hujan pada kami”

Anas ra berkata: “Demi Allah ﷻ, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan tebal maupun yang tipis. Awan-awan juga tidak ada di antara tempat kami, di bukit, rumah-rumah atau satu bangunan pun”. Anas berkata, “Tapi tiba-tiba dari bukit tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan pun menyebar dan hujan pun turun”. Anas melanjutkan, “Demi Allah ﷻ, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari’” (HR. Bukhari no.1014, Muslim no.897).

Waallahu A’lamu

Related Posts