Kisah Pendeta Mendatangkan Hujan dengan Tulang Nabi

Ilustrasi: laduni

Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy (w. 974 H) dalam salah satu karya bernama As-Shawaiqu al-Muhriqah fi Raddi Ahli Bid’ati wa az-Zandaqah mengisahkan tentang Abu Muhammad al-Hasan al-Khalish al-‘Asykari (w. 203 H) atau biasa dipanggil al-Mundzir [1].

Ketika al-Hasan al-Asykariy di penjara terjadilah musim paceklik yang parah dan hujan tidak mau turun, kemudian Khalifah al-Mu’tamid bin Mutawakkil memerintahkan segenap orang untuk keluar rumah dan sholat istisqo’ selama 3 hari namun ternyata tidak ada hasilnya.

Kemudian orang-orang nasrani keluar bersama pendetanya, ketika sang pendeta mengulurkan tangannya ke langit tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya.

Di hari yang kedua juga melakukan hal yang sama hingga sebagian orang-orang bodoh menjadi bimbang keimanannya bahkan sebagian yang lain telah menjadi murtad, hal ini membuat Khalifah al-Mu’tamid resah. Melihat hal itu Khalifah memerintahkan agar Hasan al-Khalish di datangkan lalu Khalifah berkata kepada Hasan:

أدْرك أمة جدك رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قبل أَن يهْلكُوا

“Temuilah ummat kakekmu Muhammad sebelum mereka semua binasa”

يخرجُون غَدا وَأَنا أزيل الشَّك إِن شَاءَ الله

“Perintahkan, orang-orang besok keluar dari rumahnya, aku akan menghilangkan keraguan mereka.” balas al-Hasan al-Khalish.

Hari itu al-Hasan juga berbicara kepada Khalifah agar melepaskan teman-temannya dari penjara, dan khalifah pun melepaskan mereka.

*****

Ketika orang-orang telah keluar dari rumahnya untuk sholat istisqo’ berdoa, sang pendeta mengangkat tangannya diikuti orang-orang Nasroni. Tiba-tiba langit berawan hitam, al-Hasan pun memerintahkan agar memegang tangannya sang pendeta, ternyata di tangan sang rahib terdapat tulang manusia. Lalu diambillah tulang tersebut dari tangannya sembari berkata: “Sekarang mintalah hujan”. Saat sang pendeta mengangkat tanganya, hilanglah awan hitam dan tampaklah matahari bersinar lagi.

Menyaksikan kejadian itu, orang-orang menjadi heran. Khalifah berkata kepada al-Hasan: “Apa ini wahai Aba Muhamad”

هَذَا عظم نَبِي ظفر بِهِ هَذَا الراهب من بعض الْقُبُور وَمَا كشف من عظم نَبِي تَحت السَّمَاء إِلَّا هطلت بالمطر فامتحنوا ذَلِك الْعظم.

“Ini adalah tulang seorang Nabi, pendeta ini mendapatkannya dari sebagian kuburan, dan tidaklah digelar tulang seorang Nabi di bawah langit kecuali langit akan mencurahkan hujan dengan lebatnya”. Jawab al-Hasan al-Khalish

Kemudian orang-orang mencoba membukti kehebatan tulang tersebut dan terjadilah seperti apa yang dikatakan oleh al-Hasan hingga leyaplah keraguan dari mereka, setelah itu al-Hasan kembali kerumahnya dengan tenang dan dimuliakan.

Sementara Khalifah al-Mu’tamid bin Mutawakkil terus menjalin silatur rahim setiap waktu hingga al-Hasan wafat dengan membawa selaksa cerita rahasia tentang dirinya. Dimakamkan disamping Ayah dan pamannya pada usia 28 Tahun.

[1] Asy-Syarif Abu al-Qasim Muhammad bin al-Hasan al-‘Askariy bin Ali al-Hadiy bin Muhammad al-Jawwad bin Ali ar-Ridha bin Musa al-Kadzimiy bin Sayyid Ja’far al-Shadiq bin Sayyid Muhammad al-Baqir bin Sayyid Zanal Abidin bin Sayyid Ali Sayyidana Husain bin Sayyidana Ali bin Abi Thalib al-‘Alawiy al-Husainiy. Menurut al-Imam Adz-Dzahabiy, al-Hasan al-Khalish al-‘Asykariy merupakan pamungkas dari 12 sayyid yang diklem sebagai imam-imam mereka yang dianggap makshum (terjaga dari dosa)—dan tidak ada manusia yang makshum Nabi (Muhammad).

خاتمة الاثني عشر سيدا ، الذين تدعي الإمامية عصمتهم -ولا عصمة إلا لنبي- ومحمد هذا هو الذي يزعمون أنه الخلف الحجة ، وأنه صاحب الزمان ، وأنه صاحب السرداب بسامراء ، وأنه حي لا يموت ، حتى يخرج ، فيملأ الأرض عدلا وقسطا ، كما ملئت ظلما وجورا . فوددنا ذلك -والله- وهم في انتظاره من أربعمائة وسبعين سنة ، ومن أحالك على غائب لم ينصفك ، فكيف بمن أحال على مستحيل ؟ ! والإنصاف عزيز . فنعوذ بالله من الجهل والهوى .
.

Wallahu a’lamu

Referensi

🚩Syaikh Ahmad bin Hajar al-Haitamiy | As-Shawaiqu al-Muhriqah fi Raddi Ahli Bid’ati wa az-Zandaqah| Darul al-Kutub al-Ilmiyah hal 313-314

Related Posts