Membedah Dalil Wajib Mencintai Keluarga dan Keturunan Nabi ﷺ - Atorcator

Membedah Dalil Wajib Mencintai Keluarga dan Keturunan Nabi ﷺ

Dalam in box messenger saya ada teman bertanya tentang tafsiran Ayat:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ

“…Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (QS Asyura: 23).

Yang marak disematkan dalam postingan sebagian warga Netizen akhir-akhir ini sebagai salah satu dalil keharusan orang Islam mencintai Ahlu al-Bait (keluarga dan keturunan Nabi Muhammad ﷺ).

Benarkah Ayat ini mengandung perintah agar semua umat Nabi Muhammad ﷺ wajib memuliakan dan mencintai Ahlu al-Bait? Bagaimanakah kronologi turun Ayat ini sebenarnya?

Em, demi menghargai pertemanan terpaksa saya iseng membuka kitab tafsir Hasyiyah ash-Shawiy kesayangan yang milikiku, barang kali di sana ada jawabannya. 😁

So, karena malas membacanya, akhirnya saya ganti dengan kitab Hasyiyah ash-Shawiy versi Pdf yang lebih praktis dan mudah di-screenshot. 😆

Dalam kitab tersebut, Syaikh Ahmad ash-Shawiy al-Malikiy menjelas satu persatu kandungan Ayat di atas dengan panjang lebar dan detail. Beliau berkata: “Adapun tafsiran dari firman Allah ﷻ:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا

adalah “Wahai Muhammad! Katakan pada semua umatmu, bahwa engkau dalam menyampaikan risalah dan kegembiraan dari-Ku tidak mencari atau mengharapkan imbalan sepeser pun baik imbalan dari kalian dan hal ini bukan berlaku pada dirimu secara khusus bahkan pada semua Nabi selain dirimu—tidak pernah mengharapkan imbalan karena meminta imbalan atas urusan akhirat adalah sebuah kekurangan bagi selain para Nabi apalagi bagi mereka.”

Sedangkan mengenai tafsiran kalimat berikutnya Syaikh ash-Shawiy memaparkan: “Para ahli Tafsir berbeda pendapat, kala mengartikan firman Allah ﷻ:

إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

Ada 3 tiga penafsiran dari para ulama yang mengemuka: Pertama, penafsiran dari Ibnu Abbas ra, Beliau mengatakan: “Bahwa jalur nasab Nabi Muhammad ﷺ adalah Wasthu Nasab (jalur nasab yang tengah-tengah) dari keturunan Quraisy, baik dari jalur ayah atau ibu karena tidak dari satu perut mereka yang mengandung kecuali telah melahirkan Nabi Muhammad ﷺ. Otomatis mereka semua memiliki hubungan karabat dengan Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu Allah ﷻ berfirman:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ

“…Katakanlah wahai Muhammad, aku tidak meminta balasan kebaikan apa pun pada kalian, melainkan mengasihi keluarga.” (QS Asyura: 23).

Artinya: “Antara aku dan kalian ada hubungan karabat dekat” dengan kata lain “Bila kalian tidak mau mengikuti ajaranku, maka jagalah hubungan kekerabatan kita. Sambunglah silaturrahim dan janganlah kalian menyakitiku maka manfaat akan kembali pada kalian”. Berdasarkan hadits:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ اَللّٰهُمَّ صِلْ مَنْ وَصَلَنِي وَاقْطَعْ مَنْ قَطَعَنِي

“(Pohon) Kasih sayang itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Ya Allah sambunglah! Barang siapa yang menyambung (dengan)ku dan putuslah! Barang siapa yang memutus (dari)ku”.

Maka buahnya akan kembali pada mereka bukan pada Nabi Muhammad ﷺ. #Bersambung….

Wallahu A’lamu

Referensi:

📖 Syaikh Ahmad ash-Shawiy al-Malikiy| Hasyiyah ash-Shawiy ala Tafsir al-Jalalin| Daru al-Fikr Juz 4 hal 47-48

komentar

Related Posts