Mengenal Akidah Jahmiyah dan Para Rivalnya

Ilustrasi: al-Khoirot

Banyak yang menyebut Jahmiyah sesat tetapi tak paham betul akidah Jahmiyah seperti apa. Yang parah bahkan menyamakan antara Jahmiyah dan Asy’ariyah, ini level parah sekali tidak pahamnya. Dan, sayangnya beberapa tokoh, seperti Syaikh Ibnu Taymiyah, memang sengaja tak mau paham kayaknya.

Langsung saja, Jahmiyah adalah aliran yang dinisbatkan pada Jahm bin Shofwan (78-128 H). Ia seorang ahli ibadah, zuhud, cerdas dan yang jelas hidup di era salaf karena masih di abad pertama. Ini bukan mau memuji loh ya, sekedar memberitahu bahwa orang dengan profil seperti itu juga bisa berakidah sesat. Apalagi Jahm tidak berguru pada para ulama, ia pemikir otodidak yang kebetulan terpengaruh dengan pemikiran Ja’ad Bin Dirham yang pernah ia temui sebelumnya.

Jahm punya pemikiran nyleneh soal Allah. Pernah suatu hari dia ditanya: “Coba ceritakan sifat Tuhanmu padaku”. Ia lalu masuk ke rumahnya dalam waktu yang lama, mungkin berpikir dan merenung. Setelah itu ia keluar dengan jawaban:

هو هذا الهواء مع كل شيء وفي كل شيء ولا يخلو منه شيء

“Dia (Allah) adalah udara ini. Bersama segala sesuatu, di dalam segala sesuatu dan tak ada satu pun yang tanpanya.”

Dari jawaban itu kemudian terkenal ungkapan “Allah di mana-mana, di semua tempat”. Itu adalah ungkapan khas pengikut Jahmiyah yang bikin heboh dunia persilatan. Dia mengkhayal bahwa Dzat Allah itu meliputi semua tempat sehingga ada di mana-mana, kayak udara ini lah gampangnya.

Konon pada suatu waktu ada seseorang berkata: “Allah ada di atas Arasy”, lalu istri si Jahm langsung menyindir dengan berkomentar:

محدود على محدود

“Berarti Allah terbatas, di atas tempat yang juga terbatas”

Maksudnya, Allah kok cuma terbatas bertempat di atas Arasy saja sih, harusnya tak terbatas tempat tertentu tetapi ada di mana-mana meliputi semua tempat. Di atas sana ada, di bawah sini juga ada.

Kalau ada sekarang yang berpikir sendiri lalu sampai pada khayalan ini, maka artinya tanpa sengaja jadi Jahmiyah. Kapan hari saya dikirimi link youtube yang isinya ceramah seorang penulis buku berjudul “Bersatu Dengan Allah”. Isinya sama dengan khayalan nyleneh Jahm ini, di mana Allah dibilang benar-benar meliputi segala sesuatu; bukan ilmu atau kekuasannya tetapi betul-betul Dzat Allah sendiri. Dia seorang penulis otodidak yang sebelumnya juga menulis buku yang menyimpulkan bahwa akhirat tidak kekal. Memang begitu kalau otodidak, khayalannya liar ke mana-mana, tapi malah bangga karena tak sadar akan kekonyolan dirinya.

Parahnya, dia sering melabeli dirinya sebagai pegiat tasawuf modern. Tasawuf asli yang bersanad tak ada ceritanya ikut-ikutan Jahmiyah. Mereka yang berpikir sendiri ngaku-ngaku sufi lalu merasa seolah telah “menyatu dengan Allah” sambil bangga seakan dirinya telah mencapai hakikat karena berasumsi Allah meliputi segala hal dan kita semua ada di dalam Allah, sebenarnya hanya muslim bodoh yang mundur 13 abad. Demikian juga yang memodifikasi khayalan penyatuan ini dengan beberapa perubahan.

Berbeda dengan Jahmiyah, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah kompak menekankan bahwa Allah berbeda mutlak dengan makhluk. Bila makhluk bertempat, maka Allah tidak bertempat. Mereka mengatakan bahwa Allah itu:

بَائِنٌ مِنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ

“Berbeda tak terkait dari semua makhluknya”

Ungkapan-ungkapan seperti “Allah di langit” atau “Allah di atas Arasy”, bagi Ahlussunnah semuanya adalah ungkapan untuk mematahkan asumsi Jahm di atas. Maksudnya tak ada lain kecuali untuk menegaskan bahwa Allah tak relevan dikaitkan dengan tempat mana pun. Langit atau Arasy biasa digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang lain, yang ghaib, yang samar, yang tak sama dengan yang ada di dunia ini. Itu saja maksudnya.

Jadi, bukan malah dalam rangka rebutan mengklaim tempat bagi Allah seperti kelakuan para Mujassimah. Mujassimah juga menolak keras pemikiran Jahmiyah, tapi maksud mereka hanya berebut klaim tempat saja. Bagi mereka Allah tidak bertempat di mana-mana tetapi bertempat di satu area di atasnya langit saja tak ada di area lain. Saya sering membahas mereka ini, tak perlu diulang.

Imam al-Baihaqi menjelaskan soal ini sebagai berikut:

قَوْلُهُ: «بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ» . يُرِيدُ بِهِ مَا فَسَّرَهُ بَعْدَهُ مِنْ نَفْيِ قَوْلِ الْجَهْمِيَّةِ لَا إِثْبَاتِ جِهَةٍ مِنْ جَانِبٍ آخِرَ، يُرِيدُ مَا أَطْلَقَهُ الشَّرْعُ

“Ungkapan “Berbeda tak terkait dari semua makhluknya” maksudnya adalah apa yang ditafsirkan setelah ungkapan itu berupa penafian ucapan Jahmiyah, bukan malah menetapkan satu arah dari sisi yang lain. Ia bermaksud pada istilah yang dipakai secara umum oleh syariat”. (al-Asma’ was shifat)

Yang dijelaskan Imam Baihaqi itu adalah akidah Asy’ariyah. Akidah ini melawan Jahmiyah dan Mujassimah sekaligus yang keduanya selalu berusaha menghubungkan Allah dengan tempat meskipun kesimpulan akhirnya berbeda.

Soal sifat Allah, Jahmiyah juga nyleneh. Bagi mereka Allah tak punya sifat apa-apa. Tak ada sifat mendengar, melihat, berkuasa, berkehendak, kalam, rahmat, atau apa pun. Semua itu tak ada sebab dalam asumsi mereka yang ada hanyalah Dzat Allah saja tanpa atribut apa pun. Ini juga dibantah keras para ulama sebab Al-Qur’an dan hadis jelas menetapkan banyak sifat bagi Allah.

Lagi-lagi Mujassimah juga ikut menyerang Jahmiyah soal ini, tapi mereka lagi-lagi berlebihan. Bukannya berhenti pada kesimpulan bahwa Allah punya banyak sifat, mereka justru menambah dengan khayalan tambahan bahwa sifat-sifat itu seperti sifat lain yang dikenal manusia. Meski mereka kompak berkata bahwa Allah tak serupa dengan makhluk (laisa kamitslihi syai’un), tetapi mereka meyakini bahwa Allah mendengar, melihat, bergerak, naik, turun, menggenggam, berkalam dalam makna seperti yang dikenal manusia, yakni pakai organ dan pasti ada tempatnya.

Kebanyakan mujassimah modern takut menyebut kata “organ”, “badan” atau “bertempat”, cuma beraninya bilang bahwa itu maknanya sudah jelas dalam arti jelas seperti makna yang dikenal dan berlaku pada manusia. Mereka menolak keras dianggap menyamakan Allah dengan makhluk, cuma yang modern tidak sadar bahwa sejak awal seluruh mujassimah juga tak bermaksud menyamakan Allah dengan makhluk.

Tak ada ceritanya ada mujassimah yang menyatakan bahwa Allah sama dengan makhluk, tangan Allah sama dengan tangan makhluk, jisim Allah sama dengan jisim makhluk dan semacamnya. Dari sini kita bisa merasa aneh terhadap pernyataan Imam Ishaq bin Rahawaih/Rahuyah rahimahullah yang berkata bahwa tidak menyerupakan Allah apabila berkata tangan Allah tidak seperti tangan makhluk, yang menyerupakan hanyalah ketika berkata bahwa tangan Allah seperti tangan makhluk. Loh memangnya ada muslim yang berkata Allah seperti makhluk? Tak ada. Karena tak ada kasusnya, seharusnya beliau tak perlu menjadikan ucapan itu sebagai kaidah penyerupaan. Percuma.

Ada pun Ahlussunnah wal Jama’ah, mereka menetapkan semua sifat yang warid dari Allah dan Rasulullah melalui jalur sahih. Tetapi sifat-sifat itu tidak dipahami dalam makna yang dikenal pada manusia atau makhluk apa pun. Allah ya Allah, tak ada yang sama dengannya dan tak ada bandingannya.

Kalau pun istilahnya sama, sifat Allah bukan seperti yang berlaku pada manusia. Misalnya:

◾Manusia mendengar dan melihat dengan organ dan dalam arah tertentu, Allah mendengar dan melihat tidak dengan organ atau arah tertentu.
◾Manusia nuzul dengan bergerak atau berpindah lokasi, Allah nuzul tanpa bergerak atau berpindah lokasi;
◾Manusia istawa dengan bertempat atau duduk bersemayam, Allah istawa tanpa bertempat atau duduk bersemayam;
◾Manusia berkalam dengan mengeluarkan gelombang suara, Allah tak berkalam dengan mengeluarkan gelombang suara;
◾Manusia menguasai sesuatu setelah sebelumnya tidak menguasai, sedangkan Allah selalu berkuasa sejak awal tanpa perlu berebut kekuasaan;
◾Manusia punya kasih sayang dan marah dalam arti perubahan mood dan hormon, sedangkan Allah punya sifat tersebut tidak dalam arti perubahan mood atau hormon.

Dan demikian seterusnya, bagi Ahlussunnah wal Jama’ah seluruh sifat Allah sama sekali bukan dalam makna yang dikenal dan berlaku pada manusia. Ia sama sekali berbeda dan sama sekali tidak jelas. Tapi tak masalah dan tak perlu dipermasalahkan dengan pertanyaan “kok begitu” atau “bagaimana bisa begitu” sebab iman memang tentang sesuatu yang tidak jelas alias ghaib.

Semoga dengan ini menjadi jelas perbedaan masing-masing.

Related Posts