Roan Pesantren, Cara Santri Takzim Guru dan Khidmat Ilmu

Ilustrasi: hidayatuna

Tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu bisa masuk dari mana saja dan menuju ke siapa, sebab tuhan punya banyak cara dalam mentransfer ilmunya.

Kita tahu ilmu bagaikan cahaya akan tetapi kembali ke diri kita masing-masing, apakah kita mau membuka cela sedikit demi sedikit untuk mempersilahkan cahaya itu masuk dan memberikan manfaat ataukah sebaliknya.

Bagaimana dengan ro’an? apakah bisa jadi washilah datangnya ilmu?

Didalam dinamika pesantren sudah tak asing lagi seorang santri merasakan kesenangan tersendiri ketika diberi mandat atau perintah oleh gurunya, mulai dari bersih-bersih, angkat barang, dan lainnya.

Karena mereka tahu bahwa perintah dari seorang guru merupakan salah satu cara mereka dalam berkhidmat serta ta’dim terhadap ahli ilmu. Yang mana di dalamnya merupakan pembelajaran & irsyad, sebab hal ini menjadi nilai penting bagi seseorang yang tholabul ilmi.

Syekh imam Az-Zarnuji mewanti-wanti dalam kitabnya Ta’lim Al- Muta’alim dalam pasal “fii ta’dimil ilmi” :

اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به الا بتعظيم العلم واه‍‍له، وتعظيم الاستاذ وتوقيره.

“Ketahuilah bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh dan memanfaatkan ilmu kecuali dengan menghormati ilmu dan ahli ilmu, serta memuliakan dan menghormati guru”

Dalam dawuh ini ada semacam “tanbih” (peringatan), betapa celakanya diri seseorang yang berilmu ketika mereka lepas kendali lupa akan siapa yang mendidiknya, yang mana hal ini merusak tatanan akhlak seorang yang tholabul ilmi.

Sebab ada ungkapan : “Aku lebih menghargai orang yang beradab dari pada berilmu, kalau hanya berilmu iblis pun lebih tinggi ilmunya dari pada manusia”, Syekh Abdul Qodir Al-Jalani

Dalam permasalahan ini, ada banyak cerita dari guru-guru saya dan terbukti nyata bukan fake.

“Ada banyak alumni yang sukses menjadi guru, pengusaha, pejabat negara, dan yang paling istimewa mampu mendirikan pesantren, padahal secara keilmuan ketika mengaji di pondok terlihat biasa saja. Bahkan 70% realita kehidupannya dihabiskan untuk mengabdi” kurang lebih seperti itu yang dikisahkan guru saya.

Yang jelas banyak hikmah dari segala sesuatu yang bisa kita dapat. Maka dari pembahasan ini bisa kita tarik sedikit benang kesimpulan, bahwasanya tidak ada yang tidak mungkin kalau tuhan sudah menghendaki, jalan pasti ada, dan dari mana saja serta hal yang terpenting juga dalam tholabul ilmi:

“Niat dandani awak, ora golek penak” KH Muhammad Nafi

Serta pertanyaan yang paling besar ketika sudah hasil ilmu, mau dibawa kemana dan untuk apa?

Sebab dengan ilmu diri kita bisa lebih dekat dengan tuhan, dengan ilmu juga bisa jadi penghalang bagi kita.

Jawabannya ada di diri kita masing-masing!.

Sekian

Wallahu a’lam

Related Posts