Tiga Doa yang Diajarkan Al-Quran untuk Membentuk Anak Saleh

Ilustrasi: Gaya-tempo

Anak saleh adalah idaman setiap orang tua. Saleh berakar dari kata shaluha-yashluhu-sulhan yang berarti “pantas/layak.” Dengan pengertian ini, anak saleh berarti “mereka yang memantaskan diri dalam setiap perilaku kesehariannya dengan ajaran agama.”

Contoh, seorang satpam bisa dikatakan saleh, asal dirinya mampu memantaskan dirinya agar selalu jujur dalam bertugas, amanah, menjaga keamanan dan bertanggung jawab. Keberhasilan dalam mengemban tanggung jawab sebagai satpam adalah kesalehan. Demikian pula tukang parkir, dianggap saleh apabila bekerja dengan jujur, ramah dan beretika saat bertugas. Intinya mampu menselaraskan pekerjaannya dengan agama.

Sampel di atas menandai bahwa menjadi saleh tidak perlu alim. Akan tetapi, cukup memasukkan nilai-nilai positif bernilai ibadah dalam aktivitas kesehariannya sesuai dengan kepantasan etika yang berlaku pada aktivitas tersebut. Kalau orang saleh hanya khusus bagi orang alim, otomatis orang awam tidak memiliki celah menjadi saleh.

Demikian kiranya agama membuka lebar peluang bagi orang-orang yang ingin mencapai derajat saleh. Tidak perlu alim, yang terpenting mampu memantaskan dirinya pada aktivitas harian. Dari sini kita bisa memahami ihwal banyaknya wali yang strata sosialnya amat rendah.

Kesalehan yang terpenting ada pada sisi sosial, sebab hal ini sangat berdampak pada organisme alam. Kesalehan ritual juga penting, akan tetapi memarjinalkan makna kesalehan pada sisi spiritual adalah anomali beragama. Memadukan antara keduanya merupakan titik kulminasi kesalehan dalam agama dan itu bisa diraih dengan tahapan-tahapan yang tak mudah.

Setiap aktivitas pasti menimbulkan kesalehan asal hati dan niat terus ditata sedemikian bersih. Mulai sekarang, Anda bisa ukur, seberapa saleh Anda dengan cara memantaskan tanggung jawab Anda selama ini?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata saleh dimaknai dengan ketaatan dan kesungguhan menjalankan ibadah atau orang suci dan beriman. Dengan istilah ini, kesalehan sangat bergantung dengan kondisi hati yang tidak boleh sepi dari semangat ibadah yang menggebu.

Ibadah adalah segala ritual yang dilakukan dengan akhir misi menuju Allah. Secara tidak langsung, pengertian ini juga mengantarkan bahwa menjadi ahli ibadah harus selalu menyisipkan nilai-nilai ibadah dalam aktivitas harian.

Tafsir al-Thabari mengabarkan pengertian lain kata saleh, saat menafsiri an-Nisa’: 49 bahwa saleh adalah,

كل من كان صلحت سريرته و علانيتة

Setiap orang yang secara lahir dan batin adalah baik.”

Artinya, seseorang bisa disebut shalih apabila antara ruang batin dan lahir sama-sama melahirkan nilai kebaikan. Mengkompromikan antara sisi batin dan lahir sama-sama dalam rel kebaikan tentu tidak mudah. Perlu beberapa tips dan tempo yang tak pendek.

Lalu bagaimana cara menimbulkan sifat saleh?

Sikap saleh bisa diraih antara lain dengan ikhtiar istiqamah dalam kebaikan yang telah ditanamkan sejak dini. Minimal dalam sisi akidah dan kesalehan sosial. Ini penting bagi para orang tua yang menginginkan generasi berkualitas dari sisi agama, karena karakter yang dibangun dari dini akan mengitari ruang kedewasaan.

Selain penanaman akidah dan kesalehan sosial, karakter saleh juga perlu dibangun melalui premis pemahaman agama yang matang, meskipun tidak banyak. Dalam arti, pemahaman agama yang utuh secara meyakinkan melahirkan tindak laku yang penuh kesalehan.

Kekuatan doa juga sangat mempengaruhi kesalehan seseorang. Dalam hal ini, kitab suci al-Quran telah mendidik kita untuk tawakkal berdoa meminta kesalehan diri dan generasi penerus.

Berikut tiga doa meminta anak shaleh yang diajarkan Alquran,

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِی مُقِیمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّیَّتِیۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَاۤءِ [سورة إبراهيم 40]

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku (Qs. Ibrahim: 40).”

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَ ٰ⁠جِنَا وَذُرِّیَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡیُنࣲ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِینَ إِمَامًا [سورة الفرقان 74]

“… Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (Qs. al-Furqan: 74)”

رَبِّ أَوۡزِعۡنِیۤ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِیۤ أَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَعَلَىٰ وَ ٰ⁠لِدَیَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحࣰا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِی فِی ذُرِّیَّتِیۤۖ [سورة الأحقاف 15]

“…… Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku…. (Qs. Al-Ahqaf: 15).”

Tiga doa ini dilakukan tentu dengan diawali usaha (ikhtiar) untuk mencapai keberhasilan mempunyai anak shalih. Selain tirakat dari orang tua yang mempengaruhi kesalehan anak, perlu juga diikhtiari dengan doa yang tak kenal lelah baik sebelum maupun setelah lahir ke dunia.

Jangan lupa menyelipkan tiga doa di atas di saat sedang bersimpuh pada Allah Swt. agar anak turun kita selalu terlimpahi keberkahan dunia akhirat.

Related Posts