Tuhan, Guru dan Media - Atorcator

Tuhan, Guru dan Media

ilustrasi; idn times

Wabah Covid 19 bisa jadi merupakan cerminan sifat Al Qohar Tuhan yang Maha Memaksa. Bayangkan wabah ini mampu memaksa banyak orang untuk merubah kebiasaan mereka dalam banyak hal, mulai cara beribadah, bergaul dan belajar. Sehingga selama kurang lebih empat bulan kita dipaksa hidup dengan tata cara protokol Covid-19 yang seringkali berlawanan dengan kebiasaan lama. Dulu hampir semua aktivitas ibadah, kerja, sekolah dll, di laksanakan di luar rumah. Setelah wabah datang semua dipaksa kembali ke dalam rumah masing-masing.

Semua awalnya terkejut dan takut, rumah ibadah, kantor, tempat usaha dan sekolah semua tutup. Tinggal toko sembako dan rumah sakit saja yang diperkenankan buka. Semua alat transportasi publik dibatasi dan bahkan dihentikan sementara jam operasionalnya. Orang dipaksa untuk menggunakan transportasi pribadi yang juga dibatasi kapasitasnya. Padahal sebelumnya selalu dihimbau menggunakan transportasi umum untuk mengurangi kemacetan. Semua menjadi serba terbalik dari apa yang telah dipelajari dan diajarkan di sekolah dan di media.

Guru adalah sosok paling berkuasa dalam mengkonstruksi cara berpikir para siswa. Merekalah yang menguasai hidup para pelajar selama kurang lebih 5-7 jam sehari dalam sebuah struktur dan sistem yang “berdisiplin” atau bisa memaksa. Jangan pernah berharap bisa menemukan sekolah yang bisa membuat anak kita berpikir merdeka.

Alih-alih dapat pencerahan yang membebaskan manusia, sekolah-sekolah saat ini lebih seperti tempat kursus yang bertugas mengajari ketrampilan menguasai pengetahuan. Bukan mendidik untuk melahirkan manusia kreatif yang bisa melahirkan pengetahuan. Maka sedikit sekali proses pendidikan di sekolah yang ada adalah proses pembelajaran. Maka lihatlah anak-anak sekarang yang jauh sekali kualitas karakter sebagai pencari ilmu. Mereka dibesarkan dalam kesadaram mencari ijazah dan kerja untuk sekadar bertahan melanjutkan hidup.

Kehadiran teknologi informasi juga semakin membuat proses belajar semakin kering dari sentuhan proses pendidikan yang menekankan pada transfer of value dan bukan semata transfer of knowledge dalam proses pembelajaran. Tiba-tiba saja guru berubah menjadi media (pengajar) saja untuk menghafalkan tata cara mendapatkan pengetahuan dengan efektif dan efisien. Guru bukan lagi pendidik yang berusaha mengembangkan potensi moral, spiritual dan intelektual para siswa. Logika industrial inilah (yang telah berlangsung sejak ideologi ” pembangunan” yang materialistik menjadi panglima kebijakan orde baru) yang merusak pondasi sistem pendidikan yang membebaskan yang sudah diinisiasi oleh pesantren dan pendidikan rakyat lainnya.

Kehadiran media sosial pun juga demikian, justru dimanfaatkan untuk mencengkeram siswa dalam “ketergantungan” pada guru. Tidak ada lagi kemandirian dan kreatifitas dalam membaca, menulis dan berimajinasi dengan hitungan. Semua menjadi serba kaku dan seragam.

Mungkin inilah salah satu rahasia Tuhan menghadirkan Covid-19, sehingga menyadarkan kita bahwa guru sekolah bukanlah satu-satunya yang bertanggung jawab mendidik siswa. Tapi orang tualah yang seharusnya lebih berperan sebagai figur guru kehidupan anak-anaknya yang telah “rusak” logika berpikirnya akibat sistem yang salah kaprah selama ini.

Namun sekali lagi manusia ternyata tidak mau belajar dari kesalahannya sendiri. Alih-alih membantu guru dengan mengembangkan karakter dan potensi kemanusiaannya yang otonom. Mereka justru terjebak dalam ketergantungan “materi formal sekolah” yang dipaksa dijejalkan lewat media daring yang diskriminatif.

Maka ke depan saya kira anak orang-orang miskin yang terhindar dari doktrin media (karena kemiskinannya) jauh lebih berpotensi bisa dikembangkan karakter kemandiriannya dibandingkan anak-anak manja yang telah mabuk media online. Meskipun sebenarnya orang-orang kaya bisa menguranginya dengan menciptakan suasana kebersamaan dengan mereka yang miskin dengan memberikan bantuan dan kepedulian perhatian pada anak-anak yang kurang beruntung itu.

Perhatian dan kepedulian inilah yang justru akan menjadi nilai penting dalam proses pendidikan. Sayang ketakutan akan terpapar Covid 19 membuat yang kaya juga takut bergaul dengan yang miskin. Jadi sempurnalah fitnah akhir zaman dalam dunia pendidikan.

Tuhan masih menyisakan harapan ‘hidup’ pendidikan yang membebaskan di pesantren-pesantren tradisional yang otonom dan tidak bergantung pada pemerintah dalam segala aspeknya, termasuk kurikulumnya. Pesantren yang tetap menjadikan santri sebagai manusia sejati dan bukan tong kosong yang hanya diisi sampah pengetahuan tanpa kesadaran mengendalikannya.

Itulah kenapa kitab-kitab dasar pendidikan di pesantren berisi penanaman karakter hamba Tuhan yang hanya takut sama Allah. Nilai-nilai ketauhidan dan kamanusiaan serta ilmu pengetahuan disandingkan dengan sangat harmonis dalam bait-bait syair yang indah yang bisa dihafal dan dinikmati dalam senandung yang menghibur dan menentramkan hati. #SeriPaijo

komentar

Related Posts