Bagaimana Rokok Menjadi Hal Pokok? - Atorcator

Bagaimana Rokok Menjadi Hal Pokok?

Ilustrasi; gangkecil

Dunia kepesantrenan itu bisa lebih ‘nyeleneh’ dan bisa lebih formil ketimbang dunia luar pesantren. Ada sekian banyak kenyelenehan yang cukup banyak dirasakan oleh santri di antaranya adalah gosop.

Jika kalian santri pasti tahu, bahwa nggosob sandal itu tidak boleh. Dilarang oleh hukum fikih. Bahkan di dalam kitab tertera jelas hukumnya. Ada bab yang membahas masalah penggosoban. Tapi, di lingkungan santri sendiri masih sering terjadi yang namanya penggosoban sandal.

Istilah nggosob sandal di lingkungan santri sudah menjadi hal lumrah. Di mana pun kalian yang pernah nyantri, insya Allah tidak akan luput dari persoalan nggosob-menggosob sandal antar santri. Dalilnya mudah, seandainya kalian ditanya “kenapa kamu ghosob sandal?” jawabannya: “ghulima ridhohu,” yang punya sandal sudah ridho

Lebih ekstrim lagi penggosoban tidak hanya terjadi di antara kaum santri. Tapi, juga sudah dialami oleh kalangan Asatidz. Maksud saya yang nggosob itu santri. Mungkin dia kebelet pipis atau emang nggak liat-liat kalau itu sandal gurunya.

Begitulah santri dengan dunianya. Sudah tau ada aturan yang melarang, namun realnya kasus gosob masih terjadi. Memang kalau di suatu kalangan sudah saling rela (baca: ridho) maka tidak masalah. Itu maksud dari dalil di atas.

Jadi, kalau kalian yang mau berkunjung ke pesantren harap hati-hati ketika memakai alas kaki. Mending jangan sandal jepit deh. Pakek aja sandal yang bagus sekalian. Sepatu juga boleh. Karena kalau sandal jepit, kumuh lagi, dijamin akan cepat lenyap.

Selain nyelenehnya santri tadi, ada hal-hal yang patut kita perhatikan. Misal seperti kegiatan puasa sepuluh hari bulan muharram di pesantren saya.

Saya yakin di luar dunia pesantren tidak akan ada undang-undang atau aturan yang mewajibkan puasa sepuluh hari ini. Hukum asal puasanya sih sunnah. Tapi menjadi wajib karena ada peraturan yang melekat pada ketetapan pengasuh pesantren.

Puasa sunnah yang menjadi wajib ini bukan hal nyeleneh. Apalagi mengada-ada. Kegiatan yang sifatnya sunnah kemudian menjadi wajib di pesantren itu maklum (baca: diketahui). Memang pesantren itu kan lembaga pendidikan. Jadi, ya, peraturan yang demikian itu memang memiliki tujuan untuk mendidik. Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin disebutkan: amaliah yang hukumnya sunnah bisa berubah menjadi wajib, karena dalam rangka memberi pendidikan kepada peserta didik.

Tidak hanya puasa sepuluh hari bulan muharram saja. Puasa tarwiyah dan arafah yang dilaksanakan dua hari sebelum Idul Adha juga menjadi wajib di pesantren. Sebagian pesantren juga mewajibkan para santrinya melaksanakan shalat dluha bahkan tahajjud, hajat dan witir. Jangan kaget ya kalau kalian nanti mondok dan menemukan peraturan seperti ini. Ingat-ingat, itu sudah maklum dan memang tujuannya mendidik.

Seperti biasa, dari puasa yang ditunggu-tunggu adalah waktu berbuka. Tentu tidak makan seperti biasa lah yaw. Bersegera untuk berbuka saja sunnah nabi. Pun hidangan yang sunnah untuk dilahap pertama kali adalah “yang manis-manis.” Tidak dengan sahur. Sunnahnya malah diakhirkan.

Yang namanya puasa pasti menyangkut masalah buka dan sahur. Buka dan sahur adalah kegiatan yang secara dhohir berkenaan dengan per-daharan, per-unjukan dan otomastis per-lambungan. Untuk menyambung hidup.

Termasuk kategori kesunnahan adalah mengisi perut yang sesuai dengan kapasitas. 1/3 ruang untuk makanan, 1/3 lagi untuk minuman, dan 1/3 terakhir untuk nafas. Demikian adalah anjuran Nabi agar isi lambung ini terjaga dari kemungkinan yang tidak diinginkan.

Namun begitu, tidak bagi sebagian santri yang memiliki predikat “ahli hisab,”pembagian perut tidak lagi 1/3. Pembagiannya menjadi 1/4. Bagian 1/4 pertama untuk makan, kedua untuk minum, ketiga untuk nafas dan 1/4 yang lain untuk rokoan.

Rokokan bagi ahli hisab adalah sebagai nikmat. Sabda rokok mengatakan: “ni’matul ‘udud ba’da dhahar” nikmatnya rokokan (udud) itu setelah makan.

komentar

Related Posts