Negara Milenial: Bukan Khilafah atau Demokrasi tapi Small Country

Small Country itu model Negara Mileneal, meski kecil tapi efisien. Tidak banyak pengeluaran yang menjadi beban utang. Luas wilayah dan jumlah penduduk tidak menjadi ukuran, khilafah atau demokrasi tidak menjadi pilihan sebab kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran menjadi yang utama.

*^^^*
Small Country tidak mengutamakan bentuk tapi substansi. Bukankah konsep awal negara khilafah dan negara demokrasi tidak di disain untuk negara berskala besar baik penduduk maupun wilayah — taruhlah ada, pasti banyak masalah dan berjalan tidak ideal. Jadi dua model itu sudah ketinggalan jaman,

Small Country ternyata lebih memikat dibanding negara-negara besar. Lebih terawat dan terurus, maka Small Country semacam Singapura, Brunei, New Zealand, Abu Dhabi, Bahrain, dan negara-negara kecil lainnya lebih layak dijadikan model negara masa depan yaitu social welfare, negara berbasis kesejahteraan sosial.

Mc-Iver negarawan Eropa
terkemuka menyebut bahwa luas wilayah kerap menjadi simbol hegemoni atas kekuasaan—berasal dari spirit imperium untuk menguasai dan menjajah — wilayah kekuasaan hanya berfungsi sebagai koloni yang di peras dan disengsarakan. Diambil kekayaannya untuk ‘negara induk’. Dari sinilah segala kesengsaraan, kezaliman dan ketidakadilan bermula.

*^^^*
Umumnya penguasa hanya mengedepankan simbol luas wilayah sebagai hegemoni bukan dengan tujuan membuat rakyatnya sejahtera, koloni-koloni hanya sesembahan unyuk sesuatu yang sama sekali berada di luar spirit bernegara.

Singapura dan Brunei Darussalam adalah contoh ‘small country’ yang sangat dekat — keduanya lebih pas disebut ‘negara kota’ sebagaimana konsep Plato. Dua negara ini sangat efisien dan lincah, luas wilayah dan jumlah penduduk tidak menjadi ukuran sebab kemakmuran dan kesejahteraan menjadi yang prioritas, maka kerajaan, khilafah atau republik tidak menjadi pilihan.

City-state (negara kota) lebih mengedepankan kebajikan dan pengetahuan. Para filsuf dan ulama (The Philosophiers King) yang paling berhak memerintah dengan kebajikan dan pengetahuan — Herodhotus dan Aristophanes memberi banyak inspirasi bagaimana mengelola ‘small country’ dengan pengetahuan dan kebijakan (virtuouso)

Mengelola negara sebesar Indonesia dengan banyak agama, ideologi, pulau, suku, bahasa dan penduduk yang amat besar tentu lebih rumit dibanding mengelola negara Singapura atau Brunei Darussalam. Ke depan, skema Small Country akan menjadi pilihan menarik karena lebih punya prospek — dibanding negara besar tapi sarat beban.

*^^^^*
Bentuk negara konvensional semisal Amerika, India, Tiongkok, Rusia bahkan Indoenesia sudah amat ketinggalan dan tidak relevan dengan perkembangan. Apa yang dibanggakan dari wilayah luas dan jumlah penduduk selain utang besar, kekacauan sosial, ketidak merataan ekonomi, kemiskinan dan ketidak adilan— ?

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Related Posts