Santri Mimpi Malaikat, dan Bertanya Kapan Akan Meninggal

Waktu kecil. Samar-samar teringat ayah ngaji bersama dengan kang-kang santri. Beliau cerita:

Dulu itu. Ada dua orang sama-sama alimnya. Yang satu bersahaja. Lainnya agak sedikit tinggi. Maklum banyak pengikutnya. Entah siapa yang memulai. Tapi yang tinggi hati ini seakan punya komitmen, “Pokoknya. Kalau ada masalah. Ga bakalan aku tanya pada dia. Hawong podo alime, je”

Suatu malam. Dia bermimpi. Dalam mimpinya, sekonyong-konyong ia bertemu malaikat. “Aha! Mumpung ketemu Mas Malaikat. Tanya hal ampuh, ah” batinnya.

“Ehem! Gini, Mas Malaikat. Saya mau tanya sama sampeyan. Boleh dong?”

Yang ditanya hanya tersenyum mengangguk.

“Kira-kira. Mati saya kapan?”

Sang Malaikat hanya tersenyum sambil membuka genggaman tangannya; isarat lima jari.

“Lima tahun?”

Ia hanya senyum menggeleng.

“Lima bulan?”

Lagi-lagi geleng-geleng.

“Lima hari? Lima jam? Lima menit? Lima detik???”

Yang ditanya hanya diam, senyum simpul, lalu menghilang. Dan disusul glagapan bangun tidur.

Berhari-hari ia memikirkan mimpinya. Dinanti lima detik setelah bangun, belum mati. Lima menit, masih sehat. Lima jam, malah perut kroncongan lapar, lalu makan. Eee lima hari, masih segar bugar.

Istrinya yang memperhatikan kejanggalan suaminya bertanya: “Ada apa to, Pakne? Kok berhari-hari Njenengan diam, seperti mikir berat begitu?”

Setelah difikir masak-masak, seperti kebiasaan orang-orang alim yang selalu mengantisipasi efek sebelum cerita. Akhirnya ia menggelontorkan keluh kesahnya. Namun …

“Hihihi … Oalah, Pakne … Pakne … Hambok gengsine njenengan itu diturunkan sedikit. Cobalah tanya pada kawanmu si Anu. Bukankah dia alim?”

“Tapi, Bune …” katanya terhenti.

“Terserah!” jawab istrinya cuek. Seperti kebanyakan istri yang kalau bilang terserah maksudnya adalah kebalikannya

Beberapa saat kemudian.

“Baik, Bune. Karena ini menyangkut ilmu. Aku akan kesana!”

Istrinya hanya diam sambil meneruskan masaknya.

….

Sampai di depan “rivalnya”. Setelah salam dan disilahkan duduk. Ia menjelaskan panjang lebar mimpinya pada tuan rumah. Dalam hatinya, ia ingin yang ditanya tidak bisa menjawab. Namun, yang mengejutkan. Sang alim bersahaja itu, malah ceria dan senyam-senyum, lalu berkata:

“Eh, Yi. Sampeyan apa lupa surat Luqman 34?”

Ia mikir sesaat. Kemudian …

“Astaghfirullahhhh … Astaghfirullah … Masya Allah. Matur nuwun sanget, Yi,” lalu diam sejenak, dan berkata, “Maaf, Yi. Sekali lagi maaf. Selama ini, hasud iri dengki telah merasuki diri saya. Saya jadikan sampeyan saingan. Padahal kita sama-sama menyebarkan agama Islam dan mencari ridha-Nya,”

Yang dimintai maaf hanya tersenyum, dan sedetik kemudian keduanya tertawa lebar, seperti dulu waktu sama-sama masih nyantri.

….

Dan surat Luqman 34 itu adalah:

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Related Posts