Akhlak Ibnu Taimiyah yang Hilang Dari Pengikutnya Dalam Maulid Nabi - Atorcator

Akhlak Ibnu Taimiyah yang Hilang Dari Pengikutnya Dalam Maulid Nabi

 

Ilustrasi: sekilas media

Salah satu akhlak Syaik Ibnu Taimiyyah yang hilang dari para pengikutnya adalah menghargai perbedaan pendapat orang lain. Hal ini bisa kita lihat dalam pandangan beliau dalam menanggapi maulid Nabi. Di mana Ibnu Taimiyyah adalah salah seorang ulama’ yang menganggap perayaan maulid adalah bid’ah sebagaimana ditegaskan dalam Majmu’ Fatawa beliau

“وَأَمَّا اتِّخَاذُ مَوْسِمٍ غَيْرِ الْمَوَاسِمِ الشَّرْعِيَّةِ كَبَعْضِ لَيَالِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ الَّتِي يُقَالُ إنَّهَا لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ، أَوْ بَعْضُ لَيَالِي رَجَبٍ، أَوْ ثَامِنَ عَشْرَ ذِي الْحِجَّةِ، أَوْ أَوَّلُ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبٍ، أَوْ ثَامِنُ شَوَّالٍ الَّذِي يُسَمِّيه الْجُهَّالُ “عِيدُ الْأَبْرَارِ”، فَإِنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَسْتَحِبَّهَا السَّلَفُ وَلَمْ يَفْعَلُوهَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ« – مجموع الفتاوى

“Menjadikan musim selain musim yang ditentukan syariat seperti sebagian malam bulan Rabi’ul Awwal yang disebut sebagai malam maulid atau sebagian malam bulan Rajab atau tanggal 18 Dzul Hijjah atau malam Jum’at pertama bulan Rajab atau tanggal 8 Syawwal yang disebut dengan hari raya al-Abrar, maka semua itu adalah perbuatan bid’ah yang tidak dianggap sunnah oleh Salaf dan mereka tidak mengerjakannya”

Meski menganggap Maulid bid’ah sikap beliau kepada orang yang memperingati maulid sangat toleran dan tidak keras. Hal ini bisa dilihat dari pernyataan beliau dalam kitabnya Iqtidha’ al-shirat al-mustaqim

فتعظيمُ المولد، واتخاذُه موسمًا، قد يفعله بعضُ الناس، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم

“Mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai musim berkala terkadang dilakukan oleh sebagian manusia. Dan dia mendapatkan pahala yang besar karena niatnya yang bagus dan mengagungkan Rasulullah”

Sikap toleran Ibnu Taimiyyah tersebut beliau contoh dari imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan ulama’ panutannya. Beliau melanjutkan pernyataannya

ولهذا قيل للإمام أحمد عن بعض الأمراء: إنه أنفق على مصحفٍ ألفَ دينار، أو نحو ذلك فقال: دعهم، فهذا أفضل ما أنفقوا فيه الذهب، أو كما قال. مع أن مذهبه أن زخرفة المصاحف مكروهة. – اقتضاء الصراط المستقيم لمخالفة أصحاب الجحيم (2/ 126)

“Karena itu, ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang sebagian penguasa yang membelanjakan 1.000 dinar (setara 4 M) untuk sebuah mushaf al-Qur’an beliau menjawab: ‘Tinggalkan mereka karena emas adalah sedekah terbaik mereka untuk al-Qur’an’. Padahal Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal hukum menghias mushaf al-Qur’an adalah makruh.”

Sikap toleransi lainnya dari Imam Ahmad dalam menghadapi orang yang berbeda pendapat juga diceritakan oleh al-’Alwani dalam kitab Adab al-Ikhtilaf

وكان الامام احمد بن حنبل يرى الوضوء من الرعاف والحجامة فقيل له: فإن كان الامام قد خرج من الدم ولم يتوضأ هل يصلى خلفه؟ فقال: «كيف لا أصلي خلف الامام مالك وسعيد بن المسيب» – اداب الاختلاف في الاسلام للعلواني

“Menurut imam Ahmad orang yang mimisan (keluar darah dari hidung) dan bekam wudhu’nya batal sehingga shalatnya juga batal. Tetapi ketika beliau ditanya bagaimana hukum shalat di belakang imam yang keluar darah dan dia tidak wudhu’ lagi, maka imam Ahmad menjawab “Bagaimana mungkin saya tidak mau shalat di belakang Imam Malik dan imam Sa’id bin al-Musayyib?”

Andaikan akhlak Imam Ahmad bin Hanbal dan Syaikh Ibnu Taimiyyah tersebut diikuti oleh para pengikutnya sekarang, niscaya setiap tahun menjelang bulan Rabiul Awwal umat Islam tidak selalu disibukkan dengan polemik maulid Nabi.

komentar

Related Posts