Mengenal Sultan Mahmud Al-Ghoznawi (1) - Atorcator

Mengenal Sultan Mahmud Al-Ghoznawi (1)

“Mahmud al-Ghaznawi adalah penguasa pertama dalam sejarah dunia yang mengenakan gelar sultan secara resmi, pendiri Dinasti Ghaznawiyah.”

Sultan adalah gelar kebangsawanan dengan beberapa makna sejarah. Awalnya, itu adalah kata benda abstrak bahasa Arab yang berarti ‘kekuatan’, ‘kekuasaan’, ‘pemerintahan’, atau ‘kediktatoran’, berasal dari kata dasar (masdar) ‘sultoh’ ( سلطة), yang berarti ‘kekuasaan’ atau ‘kekuatan’. Kemudian, sultan digunakan sebagai gelar penguasa tertentu yang mengklaim kedaulatan penuh secara praktis, tanpa mengklaim kekhalifahan secara keseluruhan, atau untuk merujuk pada seorang gubernur yang kuat dari sebuah provinsi di dalam kekhalifahan. Dinasti dan wilayah yang diperintah oleh sultan disebut sebagai kesultanan. Bentuk feminim sultan yang digunakan oleh orang Barat adalah ‘sultana’ atau ‘sultanah’; dalam beberapa referensi sultana bisa juga mengacu kepada istri seorang sultan, atau seorang sultan perempuan.[1]

Dunia Islam mengenal nama-nama raja besar ternama yang memakai gelar sultan, misalnya saja Sultan al-Muzhafar Saifuddin Qutuz dari Dinasti Mamluk, Sultan Suleiman Agung dari Dinasti Ustmani (Ottoman), Sultan Salahuddin Ayyubi dari Dinasti Ayyubi, dan Sultan Malik Syah dari Dinasti Seljuk. Sementara itu, di Indonesia sendiri, meskipun sekarang sudah masuk ke dalam sistem kenegaraan republik, beberapa wilayah masih menggunakan gelar kesultanan yang merupakan warisan monarki dari masa sebelum kemerdekaan, misalnya saja Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Cirebon. Namun, sebenarnya siapakah Sultan pertama di dalam dunia Islam?

Di dalam buku karya Riad Aziz Kassis yang berjudul The Book of Proverbs and Arabic Proverbial Works, dikatakan bahwa Khalifah Abu Ja’far Abdallah ibn Muhammad al-Mansur (714-775 M), atau biasa disebut Khalifah al-Mansur, khalifah ke-2 Dinasti Abbasiyah, memiliki gelar lain sebagai “Sultan Allah”. Makna sultan di masa itu adalah “bayangan Allah di muka bumi”.[2] Meskipun demikian itu bukan titel resmi, secara resmi al-Mansur adalah seorang khalifah.

Sultan Pertama

Penguasa pertama dalam sejarah dunia yang mengenakan gelar sultan secara resmi adalah Sultan Mahmud Ghaznawi, pendiri Dinasti Ghaznawiyah. Gelar tersebut disematkan kepadanya dengan makna bahwa dia merupakan seorang Khalifah Muslim, pemimpin tertinggi dalam otoritas keagamaan, dan pemimpin politik dari sebuah wilayah kekuasaan yang sangat luas, yang mana mencakup Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, Afghanistan, Pakistan, dan India utara pada hari ini.[3]

Pada tahun 971 M, Yamin ad-Dawlah Abdul-Qasim Mahmud bin Sabuktegin, atau lebih dikenal sebagai Mahmud Ghaznawi, lahir di kota Ghazna, sekarang di Afghanistan tenggara. Ayahnya, Abu Mansur Sabuktegin, adalah orang Turki, mantan prajurit Mamluk dari Ghazni.[4] Kata “Mamluk” berasal dari bahasa Arab yang berarti “seseorang yang dimiliki”, maknanya setara dengan kepemilikan terhadap barang tertentu, atau bila disederhanakan, Mamluk artinya adalah “budak”. Meskipun Mamluk secara faktanya memang budak, namun penting untuk diketahui bahwa gambaran tentang sosok Mamluk jauh dari gambaran umum tentang budak.[5]

Mamluk adalah prajurit elit yang tadinya merupakan tawanan perang, kemudian dipekerjakan untuk mengabdi secara militer kepada seorang khalifah. Pemanfaatan orang-orang Mamluk sebagai komponen utama tentara Muslim, yang nantinya akan menjadi ciri khas peradaban Islam, pertama kalinya terjadi pada awal abad ke-9. Praktek ini dimulai di Baghdad oleh khalifah Abbasiyah pada waktu itu, al-Muʿtaṣim (833–842). Segera setelahnya praktek ini menjadi menyebar ke seluruh dunia Muslim.[6]

Masa Kecil Mahmud Ghaznawi

Ketika Dinasti Samaniyah (819–999), yang berbasis di Bukhara (sekarang di Uzbekistan) mulai runtuh, Sabuktegin mengambil alih kekuasaan di kampung halamannya di Ghazni pada tahun 977. Dia kemudian melanjutkan penaklukkan terhadap kota-kota besar Afghanistan lainnya, di antaranya Kandahar. Kerajaan yang dibangunnya membentuk inti dari kekuasaan Dinasti Ghaznawiyah yang akan datang, dan dia dinobatkan sebagai pendiri tonggak awal dinasti. Ibu Mahmud kemungkinan adalah istri muda Sabuktegin yang tadinya merupakan seorang budak, namun siapa namanya tidak diketahui.

Tidak banyak yang diketahui tentang masa kecil Mahmud. Informasi yang diketahui hanya bahwa dia memiliki dua adik laki-laki. Adiknya yang pertama bernama Ismail, dia merupakan anak dari istri pertama Sabuktegin. Namun, faktanya Ibunda Ismail adalah seorang wanita berdarah bangsawan yang terlahir sebagai manusia merdeka. Persoalan keturunan ini nantinya akan menjadi kunci dari proses suksesi yang terjadi ketika Sabuktegin meninggal selama kampanye militer pada tahun 997.

Di pembaringan, Sabuktegin menyerahkan tahta kekuasaan kepada Ismail. Mahmud, waktu itu berusia 27 tahun, yang merupakan anak pertama, dan secara militer dan diplomatik sebenarnya lebih unggul, dilewati oleh adiknya tirinya sendiri. Besar kemungkinan alasan Sabuktegin memilih Ismail adalah karena dia adalah satu-satunya anak yang lahir dari keturunan bangsawan dari pihak Ibunya. Tidak seperti Mahmud dan adik ketiganya yang baik ayah maupun ibunya berasal dari kalangan budak. [7].

Bersambung ke edisi 2

Catatan Kaki:

____________________________________________

[1] “Definitions for Sultan”, dari laman https://www.definitions.net/definition/SULTAN, diakses 28 Agustus 2018.

[2] Riad Aziz Kassis, The Book of Proverbs and Arabic Proverbial Works (Brill: London, Boston, dan Cologne, 1999), hlm 66-67.

[3] Kallie Szczepanski, “Mahmud of Ghazni”, dari laman https://www.thoughtco.com/mahmud-of-ghazni-195105, diakses 28 Agustus 2018.

[4] Ibid.

[5] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 135-136.

[6] “Mamlūk”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Mamluk, diakses 4 Juli 2018.

[7] Kallie Szczepanski, Ibid.

________________________________________________

Diperoleh dari: https://ganaislamika.com/mahmud-ghaznawi-1-sultan-pertama-di-dunia/#_ftn6

komentar

Related Posts