Menyisir Prilaku Politik Santri - Atorcator

Menyisir Prilaku Politik Santri

Megawati adalah simbol tokoh politik ‘nasionalis-sekuler’. Begitu fenomenal, karena bisa menyatukan dan menepis banyak perbedaan. Mungkin ada yang gak suka, tapi ini realitas politik.

Bahkan sangat mungkin ia adalah politisi wanita terkuat di Asia atau dunia saat ini, setelah Margaret Thatcher tiada dan era Angela Markel surut —- ia satu-satunja politisi wanita yang kuat, digdaya dan kharismatik dikalangan pengikutnya. Pengamat politik Robert F Hefner dan Indonesianis William Lidle banyak memberikan pujian meski sebelumnya pernah meragukan kemampuan politik putri proklamator ini.

Saya hanya hendak mengatakan bahwa kekuatan politik kaum nasionalis sekuler sangat solid dan kokoh dibawah komando ibu Megawati. Kesatuan politik inilah yang saya pikir membuat kekuatan politik kubu nasionalis sekuler begitu kuat dan sukses memenangi di banyak pemilihan.

Komparasi ini sengaja saya lakukan sebagai ilustrasi pernyataan Sayidina Ali ra betapa kemunkaran yang di organisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak di-organisir. Saya tidak mengatakan bahawa kekuatan peta politik umat Islam tercerai-berai meski realitasnya demikian. Hal ini karena tiadanya tokoh yang menyatukan dan isu politik yang bisa menggerakkan.

Situasi kepolitikan umat Islam (baca politik santri) justru berbalik. Tidak ada tokoh sentral yang bisa menyatukan— banyak kelompok dan terbelah. Aksi bela Islam setahun lalu bagi saya sangat fenomenal, jutaan massa umat Islam bergerak, sebuah pemandangan yang sangat indah tapi sayang tidak efektif sebagai kekuatan politik real.

Ironisnya makin ke sini politik umat Islam justru mengalami polarisasi— tidak ada isu strategis yang bisa ditawarkan, tiadanya tokoh yang bisa menyatukan bahkan sesama umat Islam justru saling melemahkan karena kepentingan politik yang berbeda.

Mestinya Imam Besar Habib Rizieq Syihab tetap dijadikan tokoh sentral pergerakan— disamping kharismatik sebagai ulama dengan jumlah pengikut siginifikan karena militan. Berbeda jauh dengan tokoh KAMI Jendral Gatot Nurmantyo yang tiba tiba mengaum lantang setelah lengser jadi panglima atau Prof Din Syamsudin yang overlap dengan seniornya Prof Amien.

Dengan tidak mengurangi rasa ta’dzim pada tokoh Islam yang lain, imam Besar Habib Rizieq Syihab masih lebih menjanjikan. sayang sekali jika pemimpin politik muslim punya agenda sendiri-sendiri yang tidak saling berkait, umat Islam hanya besar dalam jumlah tapi sangat lemah karena tidak berada dalam shaf yang rapat. Sebab para pemimpin politik Islam tak ada yang legowo menjadi makmum. Semua ingin menjadi imam.

Sampai tahap ini, grasroote umat Islam dibikin bingung — tentang kaitan Aksi Bela Islam, PA 212, Koalisi Indonesia Makmur, KAMI serta partai-partai Islam lainnya atau FPI dan HTI dengan tidak menyebut peran, adalah kekuatan politik yang terpecah-pecah karena perbedaan ideologi dan kepentingan.

Narasi dan Isu politik yang dibangun pun juga beragam dan terkesan jalan sendiri-sendiri: Kebangkitan PKI, kooptasi China, khilafah (negara Islam) dan ganti rezim, tapi jujur hampir semua isu terasa sumir dan tidak fokus. Akibatnya jelas, minim dukungan dan kehilangan militansi. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya peta kekuatan politik umat islam selalu riuh di awal dan kalah pada injure time — Wallahu taala a’lam

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

komentar

Related Posts