Sekilas Mengenal Shulhan, Pemikir Pendidikan dari Kampung - Atorcator

Sekilas Mengenal Shulhan, Pemikir Pendidikan dari Kampung

Kak Shulhan, begitu saya memanggilnya, kakak yang satu ini orang yang tau betul dinamika perjalanan karir pendidikan saya. Sebab beliaulah orang yang pertamakali memotivasi saya bahwa Indonesia harus diselamatkan dengan pendidikan. Pontang-panting sana sini yang akhirnya sayaberhasil mendapatkan beasiswa full tidak bisa lepas dari peran penting beliau selaku kakak sepupu dan juga guru. Dan beliau orang yang pertamakali yakin bahwa saya bisa mencapai cita-cita dan bisa sekolah tanpa biaya sedikitpun dari orangtua. Alhamdulillah wa biidznillah saya bisa.

Dan beliau pun sosok yang sangat konsen dalam dunia pendidikan, pemikir dalam dunia pendidikan yang visioner, enerjik dan progresif. Ketika beliau diskusi tentang pendidikan seolah-olah tak menemukan titik paripurna. Ini adalah salah satu contoh pandangan beliau terhadap dunia pendidikan yang sempat dimuat oleh alif.id https://alif.id/read/nns/lemahnya-penguasaan-bahasa-arab-di-perguruan-tinggi-islam-b222981p/ . Tulisan sederhana beliau ini sempat jadi sorotan orang-orang akademisi yang riuh di kolom komentar. Dan masih banyak lagi di jurnal-jurnal ilmiah.

Dan saya termasuk orang yang tau karir perjalanan pendidikan beliau. Memang suatu hal yang ingin dicapai dengan baik dan sempurna membutuhkan perjuangan yang tak kalah sempurna dan totalitas, tak terkecuali proses pendidikan beliau. Meskipun beliau anak petani dari kampung sebrang Madura Sumenep sana, tapi memiliki semangat luar biasa dalam mengejar cita-citanya untuk bisa mengenyam pendidikan yang sama dengan orang lain. Walaupun secara finansial tak memungkinkan. Namun hal itu tak membuat dirinya surut untuk terus berusaha ekstra ordinary hingga mendapatkan beasiswa full. Beliau lulusan IDIA Al-Amin Prenduan Sumenep (S1) dan Universitas Sunan Kalijaga (S2), dan saat ini masih calon Doktor. Saya selalu ingat pesan beliau bahwa finansial bukan satu-satunya penghambat kamu putus sekolah.

Dan beliau membuktikan itu, bahwa karir pendidikannya juga tak pernah dibiayai orangtua. Semua berbeasiswa. Saya juga ingat ketika beliau harus mengejar beasiswanya S2 nya. Beliau dituntut untuk ke Jakarta melakukan tes dan seleksi. Beliau sempat kebingungan karena tak punya uang sedikitpun untuk biaya transportasi. Akhirnya ia pamit ke guru-gurunya di MAN sumenep, tentu tujuannya tidak untuk meminta sango tetapi doa dan restu beliau yang sangat diharapkan. Niat yang baik pasti akan diberikan jalan Allah. Dan Alhamdulillah ia bisa berangkat ke Jakarta berkat guru-gurunya itu, walau di Jakarta beliau masih kebingungan untuk biaya hidup hingga pulang ke kampungnya. Akhirnya beliau lolos dan mendapatkan beasiswa itu dengan nilai yang cukup fantastis.

Beliau merupakan santri yang memilih jalannya sendiri untuk bermanfaat kepada umat. Keahliannya dalam mengkaji kitab-kitab turats mampu dielaborasikan dengan pengetahuan lain yang dibutuhkan zaman. Saya tau betul ketika beliau harus merevolusi pendidikan di desa yang dinilai kurang efektif. Sulit diterima oleh masyarakat, bahkan cemoohan dan cibiran datang silih berganti hingga pada penghakiman.

Namun baginya, itu hal biasa. Ia pun tak banyak merespon apa yang orang tidak paham atas apa yang ia lakukan. Memang sulit untuk merubah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sebenarnya nihil kemaslahatan. Teruslah beliau lakukan tanpa harus peduli dengan apa yang orang-orang yang katakan. Seperti kata Gus Dur “Klo ingin melakukan perubahan jangan tunduk terhadap kenyataan, asal kau yakin di jalan yang benar maka lanjutkan.

Kalau ingin ada perubahan, harus ada yang memulai. Dan kak shulhan ini adalah sosok yang mempelopori perubahan sistem pendidikan di desa itu. Ya, Tak bisa dipungkiri, bahwa tokoh pembaharu pasti tak lepas dari kontroversi yang melingkupinya, karena memang pemikiran para reformis biasanya melawan mainstream. Pertentangan menjadi keniscayaan yang mestinya bisa dilawan dengan ketekunan dan keikhlasan.

Dan hari ini beliau tak sebatas berwacana, posisi beliau yang cukup strategis dan signifikan mampu memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat dengan Sistem pendidikan “Thariqah Akademiknya” melalui Shulhan society school (3S) yang sangat relevan dengan perkembangan zaman dan teknologi informasi. Santri bisa hafal Al-Qur’an, bisa berbahasa Arab sesuai kaidah gramatika bahasa Arab (nahwu sharaf), bisa berbahasa Inggris, Menulis, dan Menguasai Teknologi informasi dan Sains. Itulah sekelumit pemikiran beliau yang saya tau. Dan Alhamdulillah sekarang sudah berjalan dengan cukup baik dan mengesankan.

“Pendidikan itu akan mengalami stagnasi klo penguasaan bahasanya lemah dan gaptek” begitu ucapan beliau ketika berbincang-bincang.

Dan selanjutnya akan saya ulas konsep dan pemikiran beliau tentang Thariqah Akademiknya. Dan akan menjadi wacana besar untuk dibicarakan di kalangan akademisi dan praktisi pendidikan.

komentar

Related Posts