Sulami, Tokoh Pejuang Kesetaraan Gender - Atorcator

Sulami, Tokoh Pejuang Kesetaraan Gender

Penulis : Tito Gatsu

Sulami (1926-2002) adalah sosok wanita yang berjuang bagi kebebasan kaumnya dari segala bentuk ketertindasan. Ia juga bertekad memperjuangkan cita-cita Revolusi Agustus 1945, yakni mengakhiri imperialisme dan feodalisme, demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Melalui Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), sebuah organisasi wanita revolusioner pada masanya, wanita kelahiran Sragen ini memperjuangkan aspirasi ideologisnya. Dia adalah Sulami.

Sulami dan Gerwani

Sulami sudah aktif dalam dunia pergerakan sejak perang kemerdekaan. Selepas pengakuan kedaulatan, Sulami berkiprah di organisasi Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) yang berdiri tahun 1950. Organisasi ini sendiri menurut Sulami adalah sebuah gerakan yang berjuang untuk melawan akar penindasan terhadap perempuan, yakni budaya feodal dan sistem ekonomi-politik kolonialis dan kapitalis. Gerwis berpandangan, membela hak-hak wanita tanpa menyelesaikan akar permasalahannya tidak akan dapat membebaskan kaum wanita dari penindasan.

Di tahun 1954, melalui kongresnya yang kedua, diputuskanlah bahwa nama Gerwis dirubah menjadi Gerwani. Tak lama kemudian, Gerwani bergabung ke dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk menjadi organisasi ‘mantel’ dari partai itu. Sulami pun tetap terlibat penuh dalam perjuangan Gerwani, hingga akhirnya terpilih sebagai Wakil Sekjen II DPP Gerwani. Sebagai salah satu tokoh sentral Gerwani itu pula, pada tahun 1958 Sulami dipercaya sebagai wakil Gerwani dalam Kongres Wanita Sedunia di Wina, Austria.

Selain menolak poligami dan isu-isu kewanitaan, spektrum aksi Gerwani pun meluas. Gerwani juga aktif dalam program pembernatasan huruf (PBH) dan melakukan pendidikan usia dini melalui pendirian TK Melati di berbagai daerah. Gerwani memang memiliki tujuan memajukan kesejahteraan perempuan dan anak-anak melalui pendidikan. Sulami terlibat aktif dalam berbagai program Gerwani ini.

Disamping itu, Gerwani juga turut mendukung secara langsung perjuangan kaum tani dalam mempertahankan hak-haknya atas tanah dari pencaplokan yang dilakukan aparat negara dan perusahaan perkebunan, seperti pada kasus Tanjung Morawa, Sumatera Utara (1955) dan kasus Jengkol, Kediri (1957). Dalam berbagai konflik agraria itu, beberapa pengurus Gerwani terlibat langsung dalam perlawanan kaum tani di lapangan.

Lebih jauh dari itu, Gerwani pun turut merespon berbagai isu politik nasional, seperti turut serta dalam kampanye pembebasan Irian Barat, mendukung politik konfrontasi Bung Karno terhadap Malaysia, serta mendukung perjuangan nasional melawan Nekolim seperti yang diserukan Bung Karno. Sejalan dengan PKI, Gerwani juga berdiri di belakang Bung Karno dalam rangka mengganyang Nekolim.

Dukungan penuh Gerwani kepada Bung Karno sempat membuat Gerwani dicibir oleh organisasi wanita lainnya, seperti Perwari, karena ‘tutup mata’ atas poligami yang dilakukan Bung Karno. Namun, Gerwani berargumen, kala itu kontradiksi pokok yang harus dihadapi rakyat adalah melawan Nekolim. Dan Bung Karno berada di garda terdepan perjuangan melawan Nekolim itu, meskipun Gerwani dan PKI tetap berprinsip menentang poligami.

Pejuang Hingga Akhir

Setelah bergumul dalam berbagai ‘medan juang’, Gerwani dan Sulami memasuki masa sulit, yang juga bisa dikatakan titik balik dalam perjuangan mereka. Meletusnya peristiwa Gerakan Satu Oktober (Gestok) tahun 1965 yang menewaskan beberapa perwira Angkatan

Darat menjadi pertanda datangnya pukulan balik kaum kontra-revolusi yang selama ini ‘gerah’ dengan perjuangan Gerwani.

Setelah peristiwa itu, seluruh kekuatan politik dan ormas yang berafiliasi pada PKI ‘digulung’ oleh militer/Angkatan Darat pimpinan Soeharto beserta milisi-milisi sipil binaannya. Sebagai Wasekjen II Gerwani, Sulami menjadi salah satu target militer untuk ditangkap. Hal ini membuat Sulami harus hidup ‘nomaden’ selama 15 bulan. Dalam pelariannya itu, Sulami masih sempat menjadi anggota Panitia Pendukung Komando Presiden Soekarno sebagai bukti loyalitasnya kepada sang Proklamator dikala semakin masifnya aksi-aksi demonstrasi anti Bung Karno dan anti PKI.

Namun, pelariannya berakhir pada bulan Februari 1967. Sulami ditangkap militer atas perintah langsung Panglima Kodam Jaya Amir Machmud. Wanita pejuang ini dijebloskan ke tahanan militer di Bukit Duri, Jakarta Selatan. Di dalam tahanan inilah, ia kerap disiksa oleh aparat, mulai dari siksaan fisik hingga psikis. Suatu hal yang juga dialami oleh ribuan orang kader PKI dan Soekarnois pada masa yang sama.

Ketika menghadapi saat-saat penyiksaan tersebut, seperti yang diungkapkannya ketika diwawancarai harian Sinar Harapan pada tahun 2002 lalu, Sulami mengaku hanya membayangkan pengorbanan rakyat Vietnam yang berjuang mengusir imperialis yang lebih berat dibanding penderitaan yang dirinya hadapi. Setelah mengalami masa-masa mengerikan di tahanan selama 8 tahun, Sulami baru diadili pada tahun 1975. Sebuah fakta yang konyol sekaligus mengerikan, ketika seorang tahanan dibui dan disiksa selama bertahun-tahun terlebih dahulu, baru kemudian diadili. Dalam pengadilan yang penuh manipulasi itu, Sulami divonis bersalah dengan hukuman 20 tahun dipotong masa tahanan.

Ketika menjalani masa tahanannya itu, Sulami tidak hanya diam terhanyut dalam derita. Ia kembali menggunakan kemampuan menulisnya untuk membuat sebuah buku yang kemudian diberi judul “Perempuan, Kebenaran dan Penjara” (Kisah Nyata Wanita Dipenjara Selama 20 Tahun Karena Tuduhan Makar Dan Subversi). Dalam buku ini, Sulami menguraikan pengalamannya selama berjuang di era perang kemerdekaan dan masa pra 1965, hingga penderitaannya di penjara bersama para tahanan lainnya. Buku ini baru bisa ditertibkan pada tahun 1999, setelah rezim Soeharto tumbang.

Setelah bebas dari penjara dan tumbangnya kediktatoran Orde Baru, Sulami tidak ‘beristirahat’ dari medan juang. Bersama dengan kawan-kawan mantan tapol 1965 lainnya seperti Pramoedya Ananta Toer, Hasan Raid, Koesalah Subagyo Toer, Sumini Martono, dan dr. Ribka Tjiptaning, Sulami mendirikan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP) di tahun 1999. Yayasan yang juga diketuai oleh Sulami tersebut dibentuk untuk meneliti dan mengungkapkan data korban pembunuhan massal tahun 1965/1966 yang kabarnya berjumlah hingga 3 juta orang.

Berbekal tekad tersebut, YPKP berupaya melakukan penelitian dengan membongkar makam para korban pembantaian 1965/1966 di berbagai daerah, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketika diwawancarai oleh majalah Gamma tak lama setelah yayasan ini berdiri, Sulami berujar, “Kami ini bergerak dalam alur kemanusiaan, keadilan, dan hukum melalui yayasan ini,”. Dalam kesempatan yang sama, Sulami tegas menyatakan Soeharto selaku pimpinan militer ketika itu bertanggung jawab penuh atas terjadinya pembantaian jutaan manusia tanpa proses peradilan di tahun 1965/1966.

Namun, belum tuntas perjuangan Sulami dan kawan-kawannya melalui YPKP, takdir Tuhan menentukan lain. Sang wanita pejuang harus beristirahat dari medan juang untuk selamanya pada tahun 2002 akibat stroke yang dideritanya, ketika usianya sudah 76 tahun. Seorang pejuang wanita yang tiada lelah berjuang bagi kaum dan bangsanya telah pergi, namun sejarah telah mencatat ketangguhan jiwa sang Srikandi Merah ini dengan tinta emasnya. (Source : Status Facebook Tito Gatsu)

komentar

Related Posts