Empat Level Pembacaan Kitab Ala Pesantren

*Foto: almarhum Abuya Dimyathi Banten bersama dampar, tumpukan kitab-kitab, dan lampu teploknya.

Elementary (pengejaan); mengenali dan membunyikan rangkaian huruf. Ditemukan dalam kegiatan ngaji TURUTAN.

Inspective (pemahaman): memahami maksud atau isi suatu teks. Ditemukan dalam kegiatan ngapsahi bandongan.

Analitic (penelitian): menelaah aspek-aspek dalam teks, mulai dari tata bahasa, susunan kalimat, gaya bahasa, konteks, dan lainnya. Dipraktikkan dalam kegiatan sorogan.

Syntopic (perbandingan): menyandingkan satu teks dengan teks-teks lain untuk menemukan jawaban atas suatu masalah, atau merumuskan ide-ide baru. Ditemukan dalam kegiatan Bahtsul Masail.

Empat level ini dijabarkan panjang lebar di buku ‘How to Read a Book’, sebuah buku teoretis tentang ilmu membaca buku. Menurutku ada satu level lagi pembacaan teks yang ada di pesantren tapi nggak ada di buku ini. Yaitu;

Mystic: bahwa membaca kitab ala santri bukan sekadar upaya memahami pengetahuan. Tapi juga menjadi bentuk sambung rasa dengan guru, gurunya guru, dan seterusnya sampai penulis kitab. Maka di awal pembacaan pastilah ada kirim Fatihah, doa manfaat dan berkah, lalu setelah tuntas diadakan khataman kitab, dilengkapi pengakuan transmisi ilmiah karya tulis tersebut berupa ijazah.

Nah, level kelima ini tak kita jumpai di luar budaya pesantren. Entah di sekolah dasar, menengah, bahkan kuliah; baik saat menelaah buku-buku agama maupun bukan.

Padahal berkah adalah kunci. Lha wong sebelum diasupi rejeki makanan zhahir ke perut saja kita berdoa minta berkah. Masa iya mau diasupi rejeki makanan batin berupa ilmu ke akal dan jiwa nggak butuh berkah?

Related Posts