Saya Rindu Abah Hasyim Muzadi untuk Meneduhkan Keributan Negeri ini

Negeri ini sudah kadung ributnya hingga lupa pada persoalan yang sesungguhnya ada di depan mata. Keributan ini seperti diagendakan dan teragenda tiap tahun, bulan dan bahkan hari. Keributan ini jelas ada pemicunya, walau pada posisi tertentu ada yang memang suka dengan keributan, provokator, kerjaannya suka ribut dan selalu menginginkan keributan di negeri ini.

Dan apakah dari sekian banyak keributan negeri ini mampu diselesaikan oleh pemerintah saja? Saya rasa tak cukup, butuh orang-orang yang memang mampu jadi teladan dan layak dituakan dan paham nilai-nilai berdirinya bangsa ini. Tidak mudah memang, semua butuh proses dan pertimbangan yang cukup bijak.

Ambil saja contoh misalkan soal HRS yang memang jadi buah bibir negeri sejagad maya dan nyata hingga tak kenal ruang dan waktu yang pada titik-titik tertentu diakui atau tidak ceramah dan orasinya yang kadung viral sangat membahayakan keselamatan bangsa ini yang jelas berdiri berdasarkan hukum UU. Jadi penyelesaian dan sesuatunya mestinya bisa diselesaikan dengan langkah-langkah hukum yang berlaku secara prosedural dan positif.

Negara ini dibangun dengan konsep hukum yang manusiawi dan beradab. Tak ada hukum penggalan kepala dengan cara tak beradab. Memenggal kepala hewan sembelihan saja ada adab dan sopan santunnya. Lah, ini manusia yang harus diperlakukan di atas perlakuan hewan pada umumnya.

Karenanya, Indonesia ini menurut saya butuh orang seperti Abah Hasyim Muzadi. Ya ini menurut saya saja. Karena saya tahu betul ketika beliau harus rela berkunjung ke kediaman atau majelis HRS yang bersamaan dengan pengajian rutin FPI waktu itu. Banyak orang bertanya, bagaimana mungkin sekelas sosok KH. Hasyim Muzadi yang dikenal dengan ceramahnya yang santun, mantan ketua umum PBNU bisa masuk markas FPI dan disambut dengan penuh riang gembira dan pada saat tertentu juga HRS berlawanan dengan Gus Dur.

Ya, memang semua dibikin kaget termasuk HRS sendiri yang tak tau kedatangan KH. Hasyim Muzadi itu ke kediamannya itu. Namun kenapa mereka begitu sangat welcome hingga diberi panggung untuk memberikan sedikit pencerahan dan bahkan HRS sendiri rela dikritik di depan jamaahnya sendiri. Menurut saya, sama halnya dengan kebanyakan orang, Abah juga sangat prihatin dengan dengan cara-cara HRS dalam berdakwah dan memberantas kemungkaran. Mulai dari orasi dan ceramahnya sampai tindakan yang diambilnya.

Namun keprihatinan itu tak pernah disampaikan ke publik, apalagi ke media massa. Namun Abah yakin bahwa HRS sangat bisa dan mampu mengubah pola dakwahnya yang cenderung tak cocok dengan karakter bangsa ini. Nah keyakinan ini tidak hanya sebatas keyakinan saja, optimis Abah bisa berkomunikasi dengan HRS akhirnya pun bisa dilakukan di sebuah forum terhormat. Bukan main sindir-sindiran di forum-forum dan media massa yang berpotensi bisa dijadikan bola liar dan jadi kontroversi. Nah sekarang ini banyak seperti ini. Diubah oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab yang pada intinya sebuah pesan baik diolah dan dibumbui dengan hal-hal yang bisa bikin kontroversi dan ribut.

Apa yang disampaikan Abah Hasyim Muzadi ketika beliau berkunjung ke markas HRS dan diberikan mic oleh jamaah dan panitia. HRS ini pada dasarnya orangnya baik. Cuma karena beliau keturunan Arab, jadi kurang paham untuk membedakan antara merangkul dan mithing (Jawa) (melingkar tangan di leher orang lain sehingga orang merasa tercekik). Kritik ini tak membuat sedikitpun HRS dan jamaah keberatan dan marah bahkan semua tertawa menikmati tausiah Abah itu. Seolah-olah ketegangan NU dan FPI ini hilang, suasana segar dan riang gembira.

Semua tahu bagaimana Abah memilih diksi dalam setiap ceramahnya, bagaimana menyusun kata-kata supaya mudah dipahami, dan dimengerti dengan mudah. Bagaimana ketenangan beliau dalam menyampaikan pesan-pesannya begitu runut dan sangat mudah dipahami dari segala lapisan masyarakat awam hingga modern. Dan beliau sangat mampu menempatkan posisi dan konteks persoalan dengan bijak. Tidak serta merta dilakukan dengan cara-cara yang sama pada umumnya. Bahkan sebuah kritikan saja masih dengan dikemas dengan kata-kata yang indah dan manawan.

Pesan Abah ketika beliau berbincang-bincang dengan Kiai Abdi Kurnia Djohan , mengarahkan gaya amar ma’ruf dan nahyu munkar yang digunakan HRS butuh waktu yang tidak pendek. Sebagai orang yang lebih tua, beliau mengatakan punya kewajiban untuk membimbing HRS.

Dan pasca pertemuan itu, HRS mulai rutin mengkaji konstitusi Pancasila, dan cukup bisa dibilang berhasil mengubah pola dakwah HRS walaupun tak semuanya. Bahkan pandangannya terhadap NU pun mulai sedikit berubah.

Saya sedih sekali pertemuan-pertemuan semacam ini mestinya diagendakan dengan rutin dan intensif di kalangan ummat Islam yang mengalami ketegangan dan perbedaan pandangan. Dan lebih sedihnya lagi, Tugas Abah belum purna sepenuhnya membimbing HRS Allah SWT memanggilnya terlebih dahulu.

Kepulangan Abah menuju ke haribaan-Nya ketika itu jelas menjadi pukulan yang begitu menyedihkan dan bikin banjir air mata Ummat Islam Indonesia. Tak terkecuali HRS yang memang hadir di tengah-tengah pemakaman beliau dan ikut serta mendoakan yang kabarnya sangat sedih dan menangis tersedu-sedu ketika berdoa karena ditinggal Abah Hasyim Muzadi.

Silakan ambil pesan dan pelajaran dari kisah pertemuan Abah Hasyim Muzadi dan HRS waktu…

Alfatihah untuk Abah Hasyim Muzadi…..

Related Posts