Teror Poso dan HRS Hindari Swab Bukti Negara Lemah

Teroris beringas di Poso bukan hal kebetulan. Sementara Rizieq Shihab mati-matian berkoordinasi dengan rumah sakit yang menjadi kaki tangannya, jaringannya. RS Ummi Bogor. Kerjasama yang rapi. Walikota Bogor, Kapolres Bogor, Bos Satgas Covid-19 dibuat mati kutu. Kalah telak.

Kekalahan pertama koordinatif aparat keamanan, TNI/Polri/Satgas Covid-19. Yang ditarik ke atas bukti kekalahan dan kelemahan negara. Sebaliknya itu wujud kekuatan koordinatif Rizieq Shihab yang publik tidak paham.

Betapa sejak awal, kedatangan Rizieq Shihab telah menimbulkan ketakutan. Rizieq Shihab adalah provokator pemicu pembangkangan publik. Oposan. Apapun yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi tidak ada yang benar. Semua salah. Itu tugas Rizieq Shihab sebagai proxy dan buzzer para cukong.

Betapa tidak semakin menjadi-jadi jika pendukung Muhammad Rizieq Shihab (MRS) ini orang seperti Jusuf Kalla. Anies Baswedan. Novel Baswedan. Ridwan Kamil. Riza Patria. Keluarga Cendana, Cikeas dan Keluarga Kalla. Bahkan Ma’ruf Amin pun ingin dialog dengan Rizieq Shihab. Perhitungan kepentingan politik dan uang tanpa batas.

Partai yang dekat dengan kepentingan ini ya PKS, lewat teriakan mulut Hidayat Nur Wahid. Lainnya, Partai Demokrat yang membesarkan FPI. Yang masih malu-malu: NasDem. Mereka hanya punya satu: duit. Negara bukan wilayah yang mereka bela.

Peristiwa Poso sejatinya adalah peringatan komprehensif kaum radikal, teroris. Ahmad Sahal pernah mengingatkan. Intoleransi, radikalisme, dan terorisme adalah tahapan keruntuhan negara. Ditambah dengan keterlibatan para cukong, koruptor, bandar narkoba (ingat Freddy Budiman), maka kaum intoleran akan bersatu dengan teroris. Plus propaganda hoax, hasilnya jelas: runtuhnya Suriah dan Iraq.

Rizieq Shihab adalah proxy dan buzzer lambang pembangkangan sipil. Oposan Jokowi. Simbol perlawanan. Maka tak salah kalau pendukungnya ya orang-orang seperti tersebut di atas. MRS ini secara terbuka minta para anggota KAMI dibebaskan. Minta teroris Abu Bakar Ba’asyir dibebaskan. Jelas kecondongan aliran ideologinya.

Namun demikian, di balik kekuatannya MRS juga manusia. Rizieq adalah seorang pengecut. Takut. Takut terkena Corona. Takut hasil positif Corona. Padahal, Covid-19 tidak pandang bulu. Jangankan Rizieq Shihab, Donald Trump, Boris Johnson dan Jair Bolsonaro kena Covid-19. Tidak ada yang kebal.

Maka dia menghindar dari test swap. (Tak terdengar teriakan tegas Doni Monardo dan Erick Thohir. Karena konon mereka dekat dengan Jusuf Kalla – maka tidak akan tegas. Jokowi harusnya paham soal ini.)

MRS menolak test di Jakarta. Kabur dari RS UMMI Bogor. Itu bukan hal sepele. Wujud pembangkangan. Bukti unjuk kekuatan. Yang dilawan adalah Kapolda Jabar, Polresta Bogor, dan TNI/Polri. Walikota Bima Arya usah dihitung. Targetnya: menunjukkan pemerintahan Jokowi lemah. Rizieq kuat.

Konsolidasi yang digemborkan FPI tengah berlangsung. Rizieq tetap memainkan strategi membangkang. Tidak patuh. Untuk menggiring pada pembangkangan sipil. Ini sudah dibuktikan dengan kerumuman di Bandara, Tebet, Petamburan, dan Megamendung. Yang Anies dan Ridwan Kamil melakukan pembiaran.

Strategi teror dari proxy yang lain dimainkan. Uang dan logistik digeber. Indonesia tidak boleh damai. Maka para teroris pun digerakkan. Aparat keamanan diharapkan mengalihkan isu bahaya laten provokasi strategis Rizieq Shihab yang tengah tiarap ke Poso.

Sejatinya, teror pembunuhan oleh teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir di Poso adalah upaya strategis kaum intoleran. Targetnya Jokowi lemah. Soal semangat menghancurkan perlawanan Rizieq Shihab agar kendor.

Maka Jokowi tetap fokus memerintahkan TNI/Polri, Pangdam Jaya, Pangdam Jabar, Kapolda Metro, Kapolda Jabar untuk tetap menegakkan hukum. Hancurkan simbol perlawanan pembangkangan sipil yang menggerogoti wibawa negara.

Related Posts