Cara Bodoh Menghindari Korupsi

Akar dari korupsi itu pernah saya diskusikan dengan temen kuliah sekaligus teman sekantor selama 5 tahun. Umumnya, karena orang terlalu bersemangat dan terlalu banyak yang diingat. Serius.

“Bukan mental ya, Bung?”

“Bukannnn…”

Perilaku korup banyak dituntun karena ingat di rumah belum punya Pajero, ingat rumahnya sering kemasukan kadal, ingat kalo anaknya minta dibeliin Kawasaki Ninja, ingat kalo pacarnya minta dibeliin Wuling, dan seterusnya.

Ingatan-ingatan tersebut menimbulkan semangat dalam bekerja dan menambah kesibukan. Terlalu semangat malahan. Seperti para pejabat yang akhirnya ketahuan korup, misalnya. Mereka sungguh-sungguh bekerja, semangat dengan pekerjaannya, tapi juga sibuk belanja dengan cara ngentit duwit rakyat.

Setelah kaya, eh masih tetap begitu, tambah bersemangat dan semakin banyak yang diingat. Kalo selevel Edhy dan Juliari lain lagi apa yang diingatnya. Misal,

Ingat kalo belum punya punya sedan mercy pintu enam belas, ingat rumahnya masih bisa kemasukan semut, ingat kalo anaknya pingin kuliah di Universitas Kutub Utara, ingat kalo pacarnya pingin punya dealer Wuling. Ini tuh umpamane ya.

Sore itu, selesai mendiskusi hal tersebut, saya menyorongkan pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya. Gerak geriknya lemes, tatapan matanya kosong, tiada semangat saat menerima laporan untuk satu kementerian yang harus dikoreksi tersebut. Jawabannya sungguh membuat bangga dan esmosi sekaligus.

“Saya kok lemes dan ga ingat apa-apa ya, Bung…”

Bener-bener teman yang tidak akan mungkin melakukan korupsi. Tak bersemangat dan tak ingat apa-apa… tapi menimbulkan amarah. (Source: Status Facebook Haryo Setyo Wibowo)

Mat Dogol

Lapar sampe lemes, tapi lupa enaknya makan apa

Related Posts