Intrik Politik Dalam Rasail Arab

Tangkap menangkap sebenarnya hanya puncak gunung es yang tampak dipermukaan, sementara dikedalaman yang tidak terlihat, ada dinamika dan intrik politik yang tidak kita ketahui.

Tapi pada umumnya, dan sudah menjadi rahasia umum, artinya kita sudah sama-sama tahu, salah satu dana terbesar operasional partai dari setoran kader khususnya mereka yang duduk dikursi legislatif (DPR/DPRD) maupun di eksekutif (Presiden, menteri dll). Kalau gak korupsi apa cukup? Itulah alasan kenapa korupsi pernah dan akan dilakukan oleh menteri dari semua partai.

Dulu-dulu sekali, yang kita tahu dalam buku sejarah pertikaian antara Imam Ali, dan Sayidina Muawiyah karena perselisihan pendapat mengenai hukuman yang harus diberikan kepada ribuan orang yang terlibat dalam pembunuhan Sayidina Ustman bin Affan.

Tapi menurut Ali Sami Nasyar, ada 3 faktor yang membuat terjadinya revolusi perebutan kekuasaan pada era Ali dan Muawiyah, salah satunya ketimpangan secara ekonomi, kedua kontestasi antar marga (Bani Hasyim verses Bani Umayah).

Konon disamping Imam Ali banyak yang kekurangan secara ekonomi, dalam buku Tarikh Khulafa, Imam Suyuthi mengutip (konon) ucapan Abu Hurairah, yang suka datang dan pergi baik ke Imam Ali maupun Muawiyah (karenanya ia dibenci sekali kalangan Syi’ah), konon Abu Hurairah mengatakan, ” kalau sholat lebih khusu dibelakang Ali (jadi makmum Ali) kalau perut lebih kenyang dibelakang Muawiyah”.

Masih dalam bukunya Imam Suyuthi, Muawiyah digambarkan sebagai sosok yang hilim (pengampun dan pemaaf), hilim diartikan orang yang lapang dada mengampuni kesalahan orang yang sangat pantas mendapatkan hukuman atau teguran, dan beliau juga orang yang dermawan.

Sebenarnya bukan itu point’ utama yang ingin saya kisahakan, itu sekedar menggambarkan intrik politik dalam “politik” Islam mempunyai sejarah yang panjang. Saya beri tanda petik dalam kata politik karena ada yang alergi terhadap penyematan kata politik disamping kata Islam.

Intrik politik itu terjadi sejak hari pertama Nabi Saw wafat. Sampai sekarang. Disebut intrik artinya apa yang nampak tidak menggambarkan situasi sebenarnya, motivasi dibaliknya, aktor-aktor yang bermain, dan tujuan utamanya.

Intrik politik itu kalau sekarang mungkin hanya diketahui oleh intelejen dan aktor-aktor terlibat. Seperti peristiwa politik ditanah air kita hanya tahu penangkapan Kivlan Zen, Sri bintang Pamungkas, dll grand disegnt utuh kita tidak mengerti.

Kita bisa tahu intrik politik di era pertama Islam salah satunya melalui surat menyurat. Misalnya bagaimana ‘Amr bin ‘Ash “mengelebaui” Abdu Rohman bin Abu Bakar. Abdu Rahman mengantarkan surat pemecatan gubernur Mesir, tapi ditengah jalan ternyata isi surat yang ia bawa, ia ketuhui adalah surat perintah untuk membunuh dirinya.

Salah satu buku yang memuat surat-surat penting mulai surat Rasulullah Saw, surat para sahabat, surat Tabiin dan tokoh pergerakan revolusi dalam sejarah Islam awal termuat dalam buku “jamharatu rasail Arab”.

Misalnya dalam buku ini Anda akan menemukan surat-surat Ali bin Mukhtar Al-Tsaqafi yang berungkali membujuk Muhammad bin Ali al-Hanafiyyah (putra imam Ali bukan dari Sayidah Fatimah) untuk melawan Bani Umayah. Mukhtar Al-Tsaqafi menjanjikan ratusan ribu pasukan untuk membantu revolusi, jika Imam Muhammad al-hanafiyyah berkenan. Dalam surat balasannya beliau menolak dengan tegas tawaran itu.

Saya tertarik mengomentari politik ditanah air, sambil mengira-ngira grand desain sebenarnya dari sebuah peristiwa, apakah tujuannya menumbangkan presiden, memperkuat dinasti ataukah kontestasi parpol ataukah permainan para konglomerat untuk menguasai bidak percaturan kekuasaan ditanah air agar konglomerasi nya tidak terganggu bila terjadi peralihan kekuasaan.

Walhasil umat Islam seharusnya bisa belajar banyak dari akar sejarahnya yang sangat kaya, jadi kalau masih dikelabui politisi atau tokoh agamanya sendiri, kebangetan.

Untuk menyikapi politik ditanah air kita bisa memetik pelajaran dari Abu Hurairah, siapapun pemimpinnya kita tetap harus cari makan sendiri.

Jadi gak usah fanatik buta terhadap tokoh agama apalagi tokoh politik. Kalau merasa harus dukung mendukung tapi jangan berharap lebih, tetap kerja, tetap macul, tetap nyambut gawe. Wallahu A’lam.

Related Posts