Manaqib Kakek-Kakek Nabi (Part 3)

10. Sayyid ‘Abdu Manaf bernama asli al-Mughirah bin Qushayy. Beliau mendapatkan julukan Qamarul-Bathha’ (rembulannya Batha) karena wajahnya yang tampan dan badannya yang gagah rupawan laksana rembulan. Bathha’ (atau Batha) sendiri adalah sebuah lingkungan di kota suci Mekah di Provinsi Mekkah, tepatnya di sebelah barat Arab Saudi.

Beliau juga mendapatkan julukan al-Fayyadh (orang yang selalu mengalir dan meluap-luap kedermawannya) memandang sifat beliau yang sangat dermawan seperti ayahnya, Sayyid Qushayy.

Sayyid ‘Abdu Manaf adalah kakek tingkatan keempat dari Ustman bin ‘Affan ra. dan kakek tingkatan kesembilan dari Imam asy-Syafi’i ra.

Satu hal yang unik Sayyid ‘Abdu Manaf, beliau membuat dan mendirikan sendiri kelompok yang disebut Bani ‘Abdi Manaf sebagai kelompok keturunan khusus dari beliau.

Dalam kitab “Madarijush-Shu’ud” karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (hlm. 9) yang merupakan syarah Mawlid al-Barzanji disebutkan, Sayyid ‘Abdu Manaf dinamai dengan “‘Abdu Manaf” memandang derajat beliau yang luhur di tengah kaumnya. Pendapat lain mengatakan karena memandang postur badan beliau yang tinggi (jangkung). Menurut salah satu riwayat, nama laqab (julukan) “Manaf” merupakan julukan dari ibunya sendiri untuk beliau.

Sayyid ‘Abdu Manaf adalah tokoh elit di kalangan Arab dan kabilah Quraisy sendiri. Begitu pula saudara-saudaranya kecuali yang bernama ‘Abdud-Dar. ‘Abdud-Dar adalah orang yang lemah meskipun sebenarnya ia merupakan anak Sayyid Qushayy yang paling baik (abarru abnai Qushayy). Supaya saudaranya yang lemah tapi baik ini terangkat derajatnya di mata kaum Quraisy, Sayyid ‘Abdu Manaf bersumpah akan menyerahkan beberapa unit jabatan yang dikuasai ayahandanya, Sayyid Qushayy, saat masih hidup kepada saudaranya ‘Abdud-Dar kelak.

Beberapa waktu selanjutnya, ketika ayahnya telah meninggal dunia, beberapa unit jabatan pun dikuasakan kepada ‘Abdud-Dar. Unit-unit jabatan itu adalah Hijabah al-Bait (unit jabatan yang tugasnya memelihara dan melindungi Kakbah dan kunci-kuncinya), Siqayah al-Hajj (unit jabatan yang bertugas menyediakan kebutuhan air minum di Mekah, untuk penduduk Makkah sendiri dan persedian bagi para jamaah haji); ar-Rifadah (unit jabatan yang bertugas mengurusi pengadaan konsumsi untuk para jamaah haji); dan al-Liwa’ (bendera yang menjadi simbol atau lambang yang dipasang ditombak, mengiringi tentara kemana saja mereka berperang, juga sebagai pemberi isyarat pada saat perang). Demikian bentuk pengorbanan Sayyid Qushayy demi kesuksesan saudaranya.

Sumber:

1. Kitab “Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallama” karya Syekh Muhammad Ridha, hlm. 24;

2. Kitab “Madarijush-Shu’ud” karya Syekh Nawawi al-Bantani, hlm. 9.

3. Kitab “Hasyim Ibnu ‘Abdi Manaf” karya Syekh ‘Abdul-Hamid Jawdah as-Sahhar, hlm. 8—9.

Related Posts