Menempatkan Ilmu dengan Tepat

Menurut hemat kami, menyampaikan kaidah-kaidah agama yang berat dan sulit kepada masyarakat awam, terutama yang baru semangat-semangatnya hijrah di kajian-kajian umum, seperti kajian model mingguan, atau bulanan, atau takblig akbar, tanpa diiringi dengan penjelasan yang detail dan memadai, merupakan keputusan yang tidak tepat.

Mungkin karena ustadznya sendiri tidak (belum) paham, atau dijelaskan tapi pemahaman ustadznya keliru, atau karena ada sebab-sebab yang lain. Jika dijelaskan dengan rinci pun, mereka belum tentu paham karena minimnya kemampuan akademis yang mereka miliki. Maka keduanya (dijelaskan rinci ataupun tidak), sangat beresiko. Maju kena, mundur kena.

Hal seperti ini hanya akan melahirkan jamaah yang prematur dalam ilmu dan pemahaman, tapi paling berani dan semangat dalam menyalahkan. Mereka akan memahami sendiri kaidah-kaidah yang disampaikan ustadznya secara liar. Hanya diterjemahkan secara tekstual, tanpa referensi (acuan atau rujukan) yang jelas, dan tanpa didukung oleh kemampuan akademis yang mencukupi.

Setelah itu mereka mengklaim diri di atas “kebenaran mutlak”, lalu memaksa semua orang untuk menerimanya, dan menyesatkan siapa saja yang tidak sependapat dengannya. Maklum, orang yang baru awal hijrah, biasanya semangat “menyalahkan orang lain” lebih besar dari menyalahkan diri sendiri. Jadi, fenomena seperti ini muncul disebabkan oleh kesalahan metode tarbiyah sedari awal.

Contoh kaidah “Ibadah itu harus di dasarkan dalil”. Kaidah ini tidak salah, tapi tidak bisa hanya dilempar begitu saja. Masih perlu dibedah secara detail. Harus dijelaskan apa makna ibadah, lalu pembagian ibadah ada yang mahdah dan ghairu mahdah, lalu furuq (perbedaan) antara ibadah dengan adat, lalu makna dalil dan macam-macamnya, baik yang disepakati (Quran, hadis, ijmak, qiyas) atau yang diperselisihkan (istihsan, istiqra, dll), lalu berbagai metode istidlal dan lain sebagainya.

Kalau seperti ini, serius akan disampaikan kepada masyarakat awam ? Jangankan orang awam, selevel ustadz saja mungkin masih ada (banyak) yang belum mampu memahaminya dengan baik dan benar. Dan ini baru satu contoh, masih banyak kaidah-kaidah lain yang bertebaran di kalangan orang awam yang baru hijrah yang dipahami secara keliru dan brutal.

Masyarakat awam lebih baik diberi ilmu-ilmu praktis dan sederhana saja dalam masalah yang mereka butuhkan agar bisa segera diamalkan. Tidak perlu disibukkan dengan hal-hal njlimet dan sulit. Oleh karena itu sahabat Ali bin Abi Thalib ra menyatakan :

حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ

“Sampaikan kepada manusia dengan apa yang mereka bisa memahaminya. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan ?.” [HR. Al-Bukhari secara mu’allaq].

Abdullah bin Mas’ud ra berkata :

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً

“Tidaklah engkau berbicara dengan suatu kaum sebuah pembicaraan yang akal-akal mereka tidak mencapainya, kecuali hal itu akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.” [HR. Muslim dalam muqaddimah].

Lain halnya jika kaidah-kaidah tersebut diajarkan di majelis khusus kepada orang-orang khusus, seperti para santri atau para penuntut ilmu syar’i yang memang bergelut di bidang agama dengan penjelasan yang lengkap dan detail, maka tidak masalah. Justru ini hal yang baik. Wallahu a’lam bish shawab.

Related Posts