Mengenal Jejak khilafah Nabi - Atorcator

Mengenal Jejak khilafah Nabi

Menyebut khilafah sebagai pemerintahan yang sah dan wajib hukumnya dalam Islam itu bentuk interpolasi. Memaksakan dalil ke dalam kerangka berpikir yang sebenarnya tidak relevan dengan tujuan dalil.

Ali Abd al-Raziq dalam kitab Islam wa Ushul al-Hukm mengatakan bahwa khilafah bukan garis yang harus ditempuh dalam agama, melainkan sekedar garis politik pada umumnya. Islam tidak mengakuinya, tidak juga menolaknya. Tidak menyuruhnya, tidak juga melarangnya.

Tidak ada satupun dalil dalam Al-qur’an yang menyebut bahwa muslim wajib mendirikan khilafah sebagai sistem pemerintahan. Surah Al- Maidah ayat 48-49 yang sering disebut sebagai dalil bahwa muslim wajib mendirikan pemerintahan dalam bentuk khilafah itu jumping of conclusion. Kata ahkam (hukama, hakim) dalam ayat itu tidak bisa dipaksa artinya menjadi penguasa/khalifah.

Pertama, hakim dalam ayat itu berkaitan dengan pengambilan kuputusan tentang persoalan agama seperti yang menjadi alasan turunnya ayat tersebut (asbab al-nuzul). Kedua, kenabian bukan rezim pemerintahan. Nabi Muhammad memberikan keputusan (pada saat itu) bukan sebagai kepala pemerintahan, tapi sebagai pembawa pesan kebenaran dari Allah. Karena itu jika mengikuti ayat itu secara benar harusnya tidak mengartikan kata “ahkam” sebagai khalifah tapi sebagai regulator.

Dalam al-Qur’an hanya ada dua kata “khalifah”, dalam Surah Al Baqarah ayat 30 dan Surah Shad ayat 26. Surah pertama menyebut bahwa Allah menciptakan manusia di bumi untuk menjadi khalifah, surah kedua menyebutkan bahwa Allah menjadikan Nabi Dawud sebagai khalifah. Sedangkan “khilafah” sebagai kata tak ada dalam al-Quran, apalagi sebagai konsep bernegara/pemerintahan.

Dua ayat tersebut dengan jelas menyebut bahwa setiap manusia adalah khalifah secara individual dan khalifah yang diemban oleh Nabi Dawud adalah khalifah publik/politik. Hanya Dawud satu-satunya Nabi yang disebut sebagai khalifah dalam Al-qur’an, sedangkan Nabi Muhammad tidak disebut sebagai khalifah sebagaimana Nabi Dawud sehingga apa yang kita warisi dari Nabi Muhammad adalah misi kenabian bukan misi kenegaraan/pemerintahan. Itu mengapa Abu Bakar disebut dengan khalifah ar-Rasul (pengganti Rasul Muhammad), menggantikan kepemimpinan Nabi dalam misi kenabian/kerasulan.

Setelah Abu Bakar penyebutan “Khalifah ar-Rasul” tak lagi digunakan. Umar, Usman, dan Ali disebut “Amirul Mukminin”, bukan “khalifah” sebagaimana Abu Bakar. Dari aspek menyebutan saja kita seharusnya tahu bahwa kekhalifahan berhenti di masa Abu Bakar, sebab penggantinya, Umar bin Khatab tidak mau disebut sebagai “Khalifah al-Khalifah ar-Rasul”, pengganti penggantinya Rasul. Umar lebih nyaman di sebut sebagai Amir al-Mukminin, pemimpin orang-orang beriman. Usman dan Ali juga disebut dengan Amirul Mukminin.

Apakah pengangkatan Abu Bakar sebagai pengganti Nabi oleh sebagian Sahabat Nabi di Saqifah Bani Sa’idah bisa kita jadikan dalih bahwa kekhilafahan merupakan keharusan dalam Islam? Suksesi di Saqifah adalah adalah peristiwa politik yang menjadikan sabahat Nabi pecah menjadi tiga kelompok dan saling mengancam. Ada kelompok Sa’ad bin Ubadah, kelompok Ali dan triumvirat Abu Bakar-Umar-Abu Ubaidah.

Umar bin Khatab bahkan akan membunuh Sa’ad bin Ubadah di Saqifah saat terjadi perdebatan untuk memperebutkan kepemimpinan pasca Nabi. Kelompok Abu Bakar-Umar-Abu Ubaidah juga mengancam akan membakar rumah Fatimah jika mereka tidak membaiat/menyetujui pengangkatan Abu Bakar sebagi Khalifah Nabi. Ancaman ini yang menjadikan Fatimah, putri Nabi tidak mau berbicara dengan Abu Bakar dan Umar sampai akhir hayatnya enam bulan berikutnya.

Tentang peristiwa seputar Saqifah silakan baca kitab Ma’alim Madrasatain Jilid 1 karangan Sayid Murtadha Al Askari; kitab Saqifah karangan Abu Bakar al-Jauhari jilid 2; kitab Al Imamah wa Al Siyasah jilid 1 dan 2 karangan Ibnu Qutaibah Al Dinawari; kitab Tarikh Ummam wa al-Muluk jilid 4 karya at-Thabari ; kitab Muruj adz-Dzahab jilid 1 karya al-Mas’udi ; Ibnu Abd Rabbih dalam kitab Iqd al-Farid jilid 2, dan Sarah Nahjul Balagha karya Ibnu Abi Hadid.

Ada dua hal yang ingin aku katakan terkait dengan peristiwa di atas.

Pertama, peristiwa Saqifah merupakan ijtihad sebagian sahabat—persisnya ijtihad politik—di mana pada saat itu Ali, Fatimah, dan para keluarga Bani Hasyim sedang mengurus mayat Nabi Muhammad. Sebagian sahabat melakukan ijtihad karena tidak ada petunjuk secara langsung dari Nabi tentang suksesi pasca-Nabi. Kalau sistem pemerintahan dianggap sangat penting dalam misi kenabian, tidak mungkin petunjuk tentang suksesi tidak diajarkan oleh Nabi.

Sepanjang peradaban Islam, apa yang disebut sebagai sistem khilafah memiliki model suksesi yang berbeda-beda. Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali menjadi pemimpin dengan model sukses berbeda-beda, sedangkan pemerintahan Islam berikutnya lebih cenderung menjadi monarkhi; berbeda sama sekali dengan era empat sahabat Nabi itu. Sampai di sini kita tahu betapa vitalnya suksesi dalam pergantian kepemimpinan. Sistem suksesi bukan hanya menentukan stabilitas politik, juga keberlanjutan kekuasaan. Berikutnya sejarah mencatat betapa brutal dan kejinya perebutan kekuasan akibat tak ada sistem suksesi yang diwariskan Nabi.

Kedua, para sahabat dari kelompok Ali dan Sa’ad yang memilih berbedah dengan kelompok Abu Bakar-Umar-Abu Ubaidah menunjukkan bahwa dalam hal cara berpolitik umat boleh memilih, tidak harus mengikuti satu cara, lebih-lebih mengikuti klaim bahwa khilafah merupakan satu-satunya sistem pemerintahan yang Islami. Dan yang paling penting dari peristiwa itu; Ali dan kelompoknya serta Sa’ad bin Ubadah dan kelompoknya TIDAK PERNAH DISEBUT KAFIR oleh kelompok Abu Bakar-Umar- Abu Ubaidah meskipun mereka tidak mengakui/tidak baiat kepada kekhalifahan Abu Bakar.

Setelah terpilihnya Abu Bakar di Saqifah bani Saidah sebagai pengganti Nabi apakah konflik politik selesai? Tidak, peristiwa di Saqifah memiliki ekor yang panjang, bahkan sampai hari ini!

Sa’ad bin Ubadah, lawan politik Abu Bakar mati dibunuh. Empat pengganti Nabi yang disebut sebagai khulafa’ ar-Rashidun juga mati dibunuh. Usman bin Affan, khalifah ketiga bahkan mati dengan cara tragis, dibunuh beramai-ramai oleh warganya sendiri, mayatnya diludahi, dipatahkan tulang-tulangnya, dan tak boleh dikuburkan di Baqi’, kuburan umat Islam, terpaksa mayat orang tua berumur 82 tahun itu tanam di pekuburan Yahudi di Madina oleh kerabat dekatnya.

Puncak dari konflik politik di antara para sahabat utama Nabi adalah dua perang basar. Pertama, perang Jamal; pertemuan antara pasukan yang dipimpin oleh Aisyah, janda Nabi melawan pasukan Ali bin Abi Thalib, sepupu dan menantu Nabi. Kedua, perang Shiffin, pertempuran antara pasukan Ali bin Abi Thalib melawan pasukan Mu’awiyah bin Abi Sofyan. Puluhan ribuh muslim mati sia-sia akibat peristiwa politik itu.

Apakah setelah dua perang besar itu masih ada lagi perang antar kaum muslimin yang saling berebut kekuasaan? Masih, dan jauh lebih mengerikan. Mereka masih berebut apa yang disebut sebagai kekhilafahan, sebuah kepemimpinan politik Islam di seluruh dunia hingga saat, termasuk yang sedang gencar dikampanyekan para pengasongnya di negeri ini.

komentar

Related Posts