Belajar Mengeja Keadilan Berpikir: Gus Dur Vs HRS

Masih ingat waktu Habib M.R.S bersuara lantang menghinadina Mbah Wali Gus Dur saat menjelang RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) disahkan tahun 2006 dan menuduh beliau sebagai pendukung porno?

Padahal maksud Mbah Wali Gus Dur ialah:

1. UU tersebut jangan sampai menghancurkan budaya lokal yang sudah ada turun temurun. Misalnya: busana orang pedalaman, tarian daerah tertentu, ritual adat tertentu dll.

2. Barang porno itu tidak perlu dicegah berlebihan, tapi cukup diatur distribusinya. Siapa dan dimana yang boleh mendapatkan, dan selebihnya harus ada pembatasan dengan syarat dan ketentuan yang diatur melalui perundangan.

3. Negara tidak boleh masuk wilayah privat warganya. Pelaku pornografi dan pornoaksi tidak boleh dipidanakan. Tapi diserahkan pada negara untuk direhabilitasi saja jika diperlukan. Selebihnya biar hukuman moral dari masyarakat saja. Sebab, pelanggarannya ialah pelanggaran moral, jadi jangan ditarik ke ranah hukum pidana. Terlebih lagi jika pelakunya ialah korban akibat ada pihak yang sengaja merekam dan atau menyebarluaskan untuk tujuan tertentu.

4. Pelaku penyebaran materi pornografi dan pornoaksi secara ilegallah yang wajib dikejar dan bisa dipidanakan.

Tetapi bukannya dipahami dengan baik malah menjadi semakin garang memaki habis-habisan ke Mbah Wali. Bahkan MUI sempat mengeluarkan fatwa untuk mempercepat pengesahan RUU tersebut.

Akhirnya RUU APP benar-benar disahkan dan secara lahiriyah tampak Mbah Wali Gus Dur kalah telak. Namun, beliau santai saja. Dan beliau dhawuh, ” Tidak apa-apa. Kita kalah terhormat”.

Jaman berganti, dan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi ini benar-benar memakan banyak korban.

Belum lagi jika kelak pasal-pasalnya bisa ditafsirkan menjadi pasal karet yang bisa digunakan untuk menjerat orang-orang tertentu dengan tujuan tertentu sehingga membuka peluang bagi penguasa atas nama negara untuk masuk ke wilayah privasi warganya.

Salah satunya ialah Imam Besar FPI, Habib M.R.S itu sendiri. Hingga saat ini prosesnya masih diteruskan setelah sempat di-SP3-kan. Selama belum ada putusan pengadilan, maka kita tidak boleh memvonis apapun kepada beliau.

Saya haqqul yaqin. Seyakin-yakinnya. Jika Mbah Wali Gus Dur masih sugeng, maka beliau secara terbuka akan tampil membela Habib M.R.S untuk masalah ini, bukan malah mempermalukan beliau di depan publik dan menyebarkan aibnya kemana-mana. Itu jelas bukan akhlak Mbah Wali.

Beliau telah tiada, perkara terus bergulir dan kita tidak bisa tampil membela Habib M.R.S dalam hal ini. Oleh karena itu, sebagai pecinta Mbah Wali Gus Dur hendaknya kita memasrahkan hal ini kepada proses hukum yang berlaku.

Bukan malah ikut menyebarkan aib, bukan malah ikut memvonis padahal belum ada putusan hukum tetap akan hal ini.

Daripada kita salurkan energi kita untuk hal yang mendatangkan energi negatif, lebih baik kita salurkan untuk mengenang, dan mendoakan Mbah Wali Gus Dur. Juga kita menjalin silaturahim dengan sesama pecinta Mbah Wali di seluruh belahan dunia. Untuk meneruskan perjuangan dan cita-cita beliau. Perdamaian dunia dan memanusiakan manusia.

Owh iya, Mbah Wali sudah legowo dan memaafkan semua orang yang pernah mencacimaki dan menghinadina beliau, sekalipun pelakunya tidak pernah merasa bersalah dan tidak pernah minta maaf hingga akhir hayat Mbah Wali.

Dan yang ahli di bidang hukum dalam membaca pasal perpasal, ayat perayat, kalimat perkalimat serta kata perkata dalam Undang-undang tersebut yang berpotensi sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Mbah Wali sebaiknya melakukan kajian secara mendalam dan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi untuk membatalkannya sebelum korban bertambah banyak lagi.

Salam cinta Mbah Wali Gus Dur, salam cinta Indonesia… Al Fatihah….

Related Posts