Disrupsi Agama dan Dua Perubahan Polarisasi Mainstream - Atorcator

Disrupsi Agama dan Dua Perubahan Polarisasi Mainstream

Saya ekslusif dalam iman, tapi inklusif dalam pergaulan antar iman.

Siapa bisa bantah tentang dua mainstream saling menjauh, saling melawan dan saling mengalahkan: benarkah jika keberadaan agama mulai dipertanyakan karena pemeluk agama dan pengguna iman gagal membuktikan ?

Pertama, mainstream yang ingin menjadikan agama sebagai identitas, benar salah, jumlah pemeluk mayoritas dan minoritas, atas dan bawah dalam memandang relasi dengan kekuasaan, dan puncaknya adalah menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menjalankan syariat agama. Kekuasaan untuk mengintimidasi, menindas dan menghilangkan siapapun yang berbeda.

Kedua, menjadikan agama sebagai inspirasi bukan aspirasi, meletakan agama dalam kesetaraan, komunikasi yang sehat dan harmoni antar iman, moderasi untuk menciptakan ruang dialog dan afirmasi perbedaan dan keragaman dalam konteks humanitas. Bahwa tidak ada paksaan dalam beragama sebagai wujud moderasi dan sikap tengahan (wasath- al awsath).

Anda berdiri pada yang mana ?

Identitas dan agama di politiki— dijadikan kuda tunggangan untuk merebut kekuasan— bukan kedamaian yang di dapat tapi kekacauan di mana-mana, umat terbelah dicabik puluhan aliran madzab dan sekte.

Kresten pernah luluh lantak dan merasakan betapa sakit dan menderitanya selama puluhan abad, ketika gereja menjadi alat untuk membunuh dan menghilangkan siapapun yang berbeda dan ‘melawan Tuhan’. Pun dengan imam Ahmad bin Hanbal yang harus jubaku mempertahankan pendapat di depan khalifah Al Mu’tashim yang kebetulan berbeda madzhab tentang Quran itu makhluk atau bukan. Tegas menjelaskan bahwa perbedaan dan perang bisa terjadi dalam se-iman, jika kekuasaan dijadikan pendekatan.

Setiap agama punya sejarahnya sendiri — ketika identitas dijadikan alat pandang yang terjadi adalah perpecahan permusuhan dan berakhir perang — dan tak satupun masalah bisa diselesaikan dengan perang kecuali kesengsaraan umum. Buya HAMKA menjelaskan dalam tafsir Al Azhar bahwa titik temu agama dalam iman adalah pada substansi ajaran bukan pada bentuk formalnya

Lantas bagaimana meletakkan agama dalam perbedaan ? Dimanakah moderasi dan wasathiyah bisa diletakkan proporsional dan berperan signifikan? Pertanyaan klasik dan tak mudah diurai— sebab realitasnya masing-masing agama punya watak destruktif dikarenakan sifatnya yang ofensif.

Disinilah reduksi ajaran agama bermula. Perang Suci atau perang sabil mendapatkan bahan bakarnya, untuk menyalakan amuk karena iman. Lantas kaum atheis bertanya sinis : masih perlukah agama jika adanya hanya membuat kacau dan penyebab semua konflik ? Tidak perlu repot- repot bikin jawaban, para pemeluk agama dan pengguna iman cukup hanya membuktikan bahwa agama yang dipeluknya masih diperlukan.

komentar

Related Posts