Indonesia Sehat Tanpa FPI

Demokrasi dibenam Familikrasi.

Inilah demokrasi liberal cenderung liar. Oposan boleh mengkritik rezim bebas sesuka hati. Sebaliknya Rezim bebas menekan sekuat baja. Sikap represif rezim berbanding lurus dengan sikap oposan.

Hanya ada dua pilihan model mengelola kekuasaan, meminjam istilah Prof Mochtar Mas’oed: politik sebagai panglima atau ekonomi sebagai panglima. Agaknya rezim reformasi cenderung mengulang orde lama: politik sebagai panglima. Diukur dari banyaknya partai politik, kebebasan berserikat dan berbicara adalah indikasi bahwa politik menempati urut satu.

Reformasi adalah orde politik bukan pendekatan ekonomi atau kesejahteraan yang menjadi arus utama, jadi jangan berharap hidup enak, sembako murah di masa ketika politik menjadi panglima. Selain kegaduhan karena kebebasan berbicara dan berkerumun yang berlebih. Ini jaman ketika semua orang boleh berbicara sesuka hati dan rezim menekan sekuat baja.

Negara akan disibukkan dengan urusan perbedaan pendapat, dan riuh ideologi politik dan abai pada social walfare apalagi keadilan bagi semua. Kontrol politik makin menguat, ongkos demokrasi juga makin mahal. Politik transaksional makin menggurita . Pilpres Pileg Pilgub dan Pilkada menjadi tujuan bukan alat. Semua energi dihabiskan disana. Demokrasi dibenam Familikrasi.

Imam besar dibui. FPI nya dibubarkan tanpa alasan. Enam anggotanya ditembak mati. Pesantrennya dirampas. Bukan kezaliman tapi buah demokrasi liberal ketika politik menjadi panglima.

Kebenaran politik adalah pilihan yang dipertaruhkan—- di Mesir puluhan ulama dibungkam, Diktatur Gamal Abdul Nasser jatuh kemudian lahir Diktatur baru Anwar Sadat. Di Indonesia kurang lebih sama: para ulama juga dibui. Soekarno dijatuhkan lahir Diktatur baru Soeharto.

Ustadz Abu Bakar Baasyir masih dibui dan dilupakan. Allahuyarham Ustadz Abdullah Sungkar, Amrozi, Muklas, Imam Samudra, Dul Matin menjalani taqdirnya. Sebagian menyebutnya mujahid sebagain yang lain menyebutnya teroris.

Islam tidak bergantung pada satu atau dua ormas tertentu atau seseorang yang diberhalakan. Islam tak bisa sirna apalagi hilang dari semesta—- FPI boleh tiada. Dakwah amar ma`ruf nahy munkar tak boleh berhenti : masih ada Muhammadiyah, NU, Al Irsyad, Persis, Nahdhatul Ummah, Al Wahiliyah dan puluhan lainnya yang tak bisa disebut. Telah ada, bahkan sebelum Indoensia merdeka. Berdakwah dan beramal tidak bergantung siapa rezim berkuasa.

Imam besar boleh menyusul ustadz Abu Bakar Baasyir di bui. Tapi Masih ada puluhan ulama mulia : Prof Haidar Nashir, Kyai Aqiel Syiradz, Habib Yahya bin Lutfi, Habib Umar bin Hafidh, ustadz Abdul Shomad, Ustadz Adi Hidayat dan lainnya yang tak kalah mulia. Hidup adalah perjuangan dan jalan dakwah adalah pilihan. Begitulah hukum kekuasaan berjalan. Semua akan mendapatkan. Wallahu taala a’lam

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Related Posts