Kiai Madura Perannya Tetap Nomor Satu - Atorcator

Kiai Madura Perannya Tetap Nomor Satu

Berbicara masalah pemimpin yang informal mungkin Madura rajanya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Informal adalah tidak resmi. Dari kata tidak resmi itu kita dapat menyimpulkan bahwa Pemimpin Informal adalah pemimpin yang tidak resmi dan tidak butuh surat-surat atau tanda tangan dari aparat desa bahkan pemerintah kota.

Tidak resmi dalam artian tidak membutuhkan Surat Keterangan (SK) dari pihak pemerintah. Maka, syarat dari pemimpin informal ini adalah cukup butuh pengakuan dari masyarakat setempat. Contoh: Kiai di pulau Madura.

Madura, merupakan sebuah pulau yang kerab disebut sebagai “Pulau Seribu Pesantren” kenapa? karena kiai di Madura memang cukup banyak. Dan banyak pula kiai di Madura memikili pesantren-pesantren atau pondok besar. Seperti di ponpes Asshomadiyah dan Syaikhona Khalil, Bangkalan, Al-Mubarok dan Al-Ihsan, Sampang, ponpes Banyuanyar, Pamekasan, Al Amien Prenduan, Sumenep, dan Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep. Dan Masih banyak lagi pesantren-pesantren besar lainnya di Pulau Madura.

Kiai di pulau Madura merupakan orang yang paling disegani oleh masyarakat setempat. Kiai di Madura kedudukannya jauh lebih mulia daripada DPR, Bupati Bahkan sekelas Presiden pun tetap Kiai lah yang nomor satu. Ya, itulah penilaian masyarakat terhadap Kiai.

Tak heran jika di Madura kiai disebut sebagai Pemimpin Informal atau pemimpin yang tidak resmi, namun perannya perannya tetap nomor satu dan dianggap paling sentral.

Orang Madura atau masyarakat yang ada di pulau garam ini menyebut dan memilih kiai sebagai orang yang paling berpengaruh dalam perubahan kehidupan umat. Walaupun sebenarnya tidak semua perubahan yang mereka pilih tergantung kepada mereka yang ia pilih.

Seperti contoh, jika kiai memerintahkan ini-itu kepada masyarakat, maka masyarakat mayoritas langsung setuju, apapun itu jenisnya. Yang penting bukan disuruh berbuat zalim dan kejam.

Kalau dipikir-pikir, mana ada kiai menyuruh umat berbuat hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, mana mungkin seorang kiai, yang memiliki ilmu pengetahuanya tentang agama (Islam) akan menyuruh masyarakat berbuat zalim. Yang jelas tidak. Pasti apa yang diperintahkan oleh kiai itu adalah baik dan demi kebaikan masyarakat. Disitulah mengapa masyarakat Madura lebih memilih kiai.

Sekali lagi, Kiai di pulau Madura menempati urutan kelas sosial paling puncak atau paling atas. Karena berbicara masalah kiai rasanya kurang etis dan kurang lengkap jika tidak menyinggung regiusitas orang Madura dan pulau Madura itu sendiri.

Tak heran jika di Madura Kiai itu menduduki posisi yang sangat sentral. Selain karena mempunyai keagamaan yang mempuni dan santun dalam memimpin umat, kiai juga menurut orang Madura adalah aktor penting dalam tulang punggung dan sendi kehidupan masyarakat Madura.

Sebelumnya sudah dikatakan, bahwa kiai adalah orang yang memikiki kealiman dan ilmu agama (Islam) yang sangat luas. Sedangkan di pulau garam ini atau pulau Madura mayoritas agama masyarakatnya (asli orang Madura) adalah beragam Islam. Bahkan bisa dikatakan seratus persen orang Madura adalah agamanya Islam.

Buppa’-babu’ guruh-ratoh (Ayah, Ibu, Guru dan Raja) itu adalah figur utama dalam masyarakat Madura yang harus dihormati. Ya, Ayah dan Ibu adalah keluarga yang pada hakikatnya harus dihormati, karena beliau lah yang melahirkan kita dan mendidik kita hingga kita dewasa. Sedangkan dalam Elemen utama masyarakat Madura tetap Keaeh (Kiai) dan Raja (Ratoh atau pemerintah).

Kiai bagi orang Madura adalah sebagi bapak dari orang tua. Kenapa? karena beliau lah yang mengayomi masyarakat, mendidik, paku bumi, serta melayani masyarakat yang sangat penuh dengan kesabaran. Maka masyarakat Madura tentu merasa puas dengan hal itu.

Tunduk dan patuh merupakan balasan dari masyarakat kepada kiai. Maka disitulah pentingnya kiai bagi orang Madura.

komentar

Related Posts