Konseling Sistem Keluarga Sebagai Penerapan Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Anak - Atorcator

Konseling Sistem Keluarga Sebagai Penerapan Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Anak

Ilustrasi: pixabay

Studi Tanggung Jawab Orang Tua Kepada Anak dalam QS. Al-Tahrim ayat 6

Anak Sebagai Anugerah dan Tanggung Jawab

Anak adalah titipan Tuhan kepada orang tua. Kelahiran anak adalah salah satu anugerah besar yang selalu dinanti oleh pasangan suami istri. Kebahagiaan memiliki seorang anak hanya akan dapat dirasakan oleh kedua orang tua yang telah memperjuangkan kehadirannya. Sosok ibu yang merawat anak sejak dalam kandungan dan bapak yang selalu ada di setiap fase perkembangan tumbuh kembang anak selama dalam kandungan. Begitu juga perjuangan ibu yang melahirkan sang buah hati yang taruhannya adalah nyawa. Bapak juga berperan dalam proses persalinan ini dengan membiayai dan menemani sang istri ketika berjuang melahirkan calon penerus keluarga.

Peran orang tua dalam pertumbuhan anak sangatlah vital. Sebab lingkungan keluarga merupakan lingkungan terdekat yang dimiliki anak. Seorang anak dididik dalam lingkungan keluarga sejak usia nol sampai remaja oleh orang tua. Kalaupun ia sudah mulai memasuki usia sekolah, sang anak tetap memiliki waktu paling banyak untuk dihabiskan bersama keluarga. Untuk itulah keluarga memiliki peran yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak.

Walau demikian peran ayah dan ibu tentu berbeda. Namun sinergi keduanya dalam mendidik anak dan menciptakan suasana rumah yang mendukung terhadap perkembangan anak sangatlah penting. Pendapat Biller menyebutkan bahwa adanya pola interaksi dan kerja sama yang baik di antara ayah dan ibu dapat membawa pengaruh dalam perkembangan perilaku positif anak terhadap orang lain. Adanya peran serta yang baik antara ayah dan ibu dapat membantu anak menjadi mudah menghadapi permasalahan yang akan terjadi di masa mendatang. Hal ini dapat mewujudkan keluarga yang damai.

Alquran sebagai pedoman hidup bagi umat Islam juga memberikan perhatian besar terhadap peran orang tua khususnya ayah dalam mengelola keluarga sehingga diharapkan seluruh keluarganya bisa terbebas dari api neraka. Hal ini dapat dilihat dalam Alquran surat al-Tahrim ayat 6 yang memiliki arti,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ayat tersebut menjelaskan tentang perintah Allah kepada kepala keluarga untuk senantiasa menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Anggota keluarga yang dimaksud salah satunya adalah istri dan anak. Hamid Baedowi menjelaskan beberapa pendapat ulama tentang tafsir dari ayat ini. Pertama, menurut Ibnu Abbas dalam kitab Tafsir Al-Qurtubi perintah dalam ayat tersebut adalah perintah untuk menjaga diri sendiri dan menjaga keluarga dan memerintahkan keluarga untuk berzikir dan berdoa kepada Allah sehingga keluarga tersebut dijaga dari api neraka berkat perintah ayah atau suami sebagai kepala keluarga.

Kedua, pendapat yang dikemukakan dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa ayat tersebut mengandung upaya untuk pencegahan atau preventif dengan cara seorang kepala keluarga memerintahkan anggota keluarganya, termasuk anak untuk melaksanakan perbuatan baik dan melarang melakukan perbuatan tercela, supaya tidak terjerumus ke dalam api neraka. Pendapat ini sejalan dengan salah satu fungsi konseling yaitu sebagai upaya pencegahan atau preventif, tidak sebatas kuratif.

Tugas Perkembangan Anak (Usia Anak-anak dan Remaja)

Supaya dapat memberikan pendidikan yang efektif, orang tua perlu memahami tugas perkembangan anak. Baik saat usia anak-anak maupun ketika usia remaja. Tugas perkembangan anak di usia anak-anak meliputi beberapa hal yang berkaitan dan sesuai dengan usianya. Tugas perkembangan usia dibagi menjadi dua, tugas perkembangan masa kanak-kanak awal (2-6 tahun) dan tugas perkembangan usia kanak-kanak akhir (6-13 tahun).

Menurut Robert J. Havighurst (1961) tugas perkembangan usia kanak-kanak awal ada 6. Pertama, toilet training atau latihan untuk buang air kecil dan buang air besar yang bisa diterima secara sosial. Kedua, belajar untuk membedakan jenis kelamin dan dapat melaksanakan kerja sama dengan jenis kelamin lainnya. Ketiga, anak diharapkan bisa belajar mencapai stabilitas fisiologis. Keempat, tugas perkembangan berupa pembentukan konsep sederhana seputar kenyataan fisik dan sosial. Kelima, belajar melakukan kontak perasaan dengan orang lain, seperti orang tua, keluarga. Serta mampu menghubungkan diri sendiri secara emosional. Keenam, belajar untuk membedakan sesuatu yang baik dan yang buruk dan mengembangkan apa yang terlintas dalam hati.

Pada usia kanak-kanak akhir tugas perkembangannya menurut Robert J. Havighurst meliputi 9 hal. Pertama, belajar tentang keterampilan fisik yang perlu dalam permainan umum. Kedua, membangun perilaku dan sikap yang sehat tentang dirinya sendiri dalam kapasitasnya sebagai makhluk yang sedang mengalami pertumbuhan. Ketiga, belajar beradaptasi dengan teman sebayanya. Keempat, memulai mengembangkan peran sosial sebagai pria atau wanita dengan tepat. Kelima, mengembangkan keterampilan sehari-hari yang diperlukan. Keenam, mengembangkan pengertian yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Ketujuh, melakukan pengembangan hati nurani, pemahaman moral, tata, dan tingkatan nilai. Kedelapan, mengembangkan sikap sosial kepada kelompok sosial dan lembaga. Kesembilan, mencapai kebebasan pribadi.

Sedangkan pada remaja, terdapat beberapa tugas perkembangan yang selayaknya dilakukan dalam usia masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst yang dikutip Elfi Mu’awanah dalam bukunya Bimbingan Konseling Islam Memahami Kenakalan Remaja dan Memilih Upaya Pendekatannya dalam Konseling Islam meliputi: Pertama, penerimaan terhadap kondisi fisik dan perannya sebagai lelaki dan perempuan. Kedua, mampu menjalin hubungan baik dengan teman sebayanya, baik sesama jenis maupun yang berbeda jenis kelamin. Ketiga, mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua dan pihak dewasa lainnya. Keempat, memperoleh kepastian kebebasan pengaturan ekonomis.

Kelima, mampu menentukan pilihan dan menyiapkan diri semaksimal mungkin dalam bidang karier jabatan atau pekerjaan. Keenam, mengembangkan keterampilan diri dan konsep intelektual untuk menjadi bekal hidup sebagai warga negara yang baik. Ketujuh, mengharapkan dan bisa bertindak sesuai norma yang berlaku di masyarakat. Kedelapan, menyiapkan diri untuk meniti pernikahan dan hidup berumahtangga. Kesembilan, menyusun nilai-nilai kata hati yang sesuai dengan gambaran dunia, bersumber dari wawasan ilmu pengetahuan yang memadai.

Konseling Sistem Keluarga

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan dalam upaya konseling anak dalam keluarga adalah dengan menerapkan konseling sistem keluarga atau juga dikenal sebagai terapi keluarga. Menurut Gladding yang dikutip Ellen Amatea dan Dayna Watson pendekatan terapi keluarga adalah setiap usaha psikoterapeutik yang difokuskan untuk mengubah interaksi di antara anggota keluarga dan usaha untuk meningkatkan fungsi keluarga sebagai unit dan pemfungsian masing-masing anggota keluarga.

Ada empat ciri pendekatan konseling sistem keluarga yang disebutkan oleh Northey dkk. Pertama, intensitas pertemuan anak dengan anggota keluarga lainnya secara bersama dilakukan sesering mungkin. Perjumpaan anggota keluarga dalam satu waktu akan menguatkan emosional anggota keluarga, termasuk anak. Rumah benar-benar menjadi tempat yang merekatkan hubungan antar keluarga. Tidak hanya sebatas di meja makan, namun juga pada kegiatan lainnya. Pertemuan tersebut bisa berupa bersih-bersih halaman rumah secara bersama atau kegiatan lain yang mempertemukan semua anggota keluarga. Ketika bertemu hampir dapat dipastikan akan ada interaksi bersama, saat itulah seorang ayah dapat memberikan nilai-nilai baik bagi keluarganya.

Kedua, kebutuhan keluarga termasuk anak menjadi salah satu prioritas fokus. Kebutuhan anggota penting menjadi perhatian serius oleh ayah sebagai kepala keluarga. Orang tua sudah selayaknya memperhatikan kebutuhan anak-anaknya. Baik berupa kebutuhan yang menyangkut sandang, pangan, maupun papan. Kebutuhan yang tidak terpenuhi tanpa adanya penjelasan rawan menjadi akar dan awal mula konflik batin yang dipendam oleh seorang anak. Sebisa mungkin semua pemenuhan kebutuhan dilakukan dengan adil. Ingat, adil tak harus selalu sama, namun sesuai porsi.

Ketiga, mempertimbangkan pola keluarga berinteraksi dan berpikir. Hal ini bisa memberikan kontribusi pada perilaku bermasalah yang terjadi pada diri seorang anak. Seorang anak dapat dengan mudah meniru pola perilaku orang tua yang dia lihat dalam kehidupan sehari-harinya. Maka pola interaksi dalam sebuah keluarga hendaknya benar-benar diperhatikan dan menjadi salah satu prioritas dalam upaya pembentukan lingkungan yang ramah kepada anak dan anggota keluarga lainnya.

Keempat, penyelesaian masalah difokuskan pada anak yang mengalami masalah atau anggota keluarga lainnya yang dianggap perlu menyelesaikan masalah yang ada. Masalah yang terdapat dalam keluarga tentu sangatlah kompleks. Penyelesaiannya sulit untuk diselesaikan semua secara bersamaan. Maka peran orang tua adalah memilah masalah yang menjadi prioritas terlebih dahulu untuk diselesaikan. Salah satu yang dapat didahulukan adalah masalah yang terjadi pada anak diselesaikan sebelum masalah anggota keluarga lainnya.

*) Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Program Studi Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi Bimbingan dan Konseling Islam.

Referensi:

Elfi Mu’awanah, 2012, Bimbingan Konseling Islam Memahami Kenakalan Remaja dan Memilih Upaya Pendekatannya dalam Konseling Islam, Yogyakarta: Teras.

Sondra Smith-Adcock dan Catherine Tucker, 2019, Konseling Anak-anak dan Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Miftahul Jannah, Tugas-tugas Perkembangan Pada Usia Kanak-kanak. Dalam Gender Equality: Internasional Journal of Child and Gender Studies Vol. 1, No. 2, September 2015

David, Daharnis & Azrul Said, Persepsi Anak terhadap Peran Ayah dalam Keluarga dan Implikasinya terhadap Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Dalam Jurnal Konseling dan Pendidikan Volume 2 Nomor 1, Februari, 2014.

https://bincangsyariah.com/khazanah/surah-al-tahrim-ayat-6-mendidik-keluarga/

komentar

Related Posts