Orang Keramat yang Tersesat - Atorcator

Orang Keramat yang Tersesat

Dulu sewaktu usia sekolah saya pernah diajak Abuyah untuk sowan ke Kyai Munir (alm) di dhalemnya di desa Kemuning, Jember. Beliau bercerita bahwa suatu saat rumahnya pernah didatangi seorang kyai yang kata orang-orang adalah sosok yang keramat: kaya, banyak tamu dan pasiennya. Kita sebut saja namanya kyai keramat biar mudah.

Kyai Munir, Kyai Alim pendiri Ponpes al-Inaroh itu, bertanya pada tamunya sang kyai keramat, amalan apa yang anda baca kok bisa keramat gini? Dia menjawab: “Gampang kyai, jenengan kalau baca al-Fatihah, kata iyyaka dibaca iyyaqa saja. Cukup itu saja”. Kyai Munir terkejut mendengar itu. Spontan beliau bilang: “Keluar kamu!. Qur’an kok diubah-ubah” (aw kama qala). Gantian si kyai keramat yang terkejut karena tiba-tiba diusir.

Setelah itu saya mendengar beberapa perkataan beliau yang mengungkapkan betapa Kyai Munir sangat jengkel pada perbuatan orang yang diceritakan itu. Wajar saja, al-Qur’an diubah bacaannya secara sengaja hingga artinya berubah. Apalagi dalam kasus ini perubahan artinya fatal meskipun hanya satu huruf. Kalimat “iyyaka na’budu” artinya hanya kepada-Mu Allah kami menyembah, diganti menjadi kepada iyyaqa kami menyembah. Siapa iyyaqa? Entah, mungkin setannya, yang jelas bukan Allah.

Dari situ kita tahu keramatnya dari mana. Dari setan. Macam-macam cara setan membuat orang tersesat dengan iming-iming jadi orang keramat; kaya, didatangi banyak tamu atau mampu menyembuhkan orang sakit. Yang pasti cara-cara setan selalu yang melanggar aturan atau melecehkan agama.

Padahal iming-iming semacam itu bukan keramat yang sebenarnya. Keramat yang sebenarnya berasal dari kata “karamah” yang artinya mulia, dan kemuliaan itu didapat dari mengikuti rambu-rambu agama. Soal kemudian punya pengikut atau diberi kelebihan, maka itu cuma bonus tak penting. Ketika bonus ini justru dianggap tujuan penting, maka hilanglah “karamah” itu dan cuma tersisa “keramat” dalam arti berbeda yang tak membawa kemuliaan sama sekali di akhirat.

komentar

Related Posts