Santri, Menulis, dan Sastra - Atorcator

Santri, Menulis, dan Sastra

Ilustrasi; pixabay

Santri adalah generasi penerus kyai/ulama. Ulama adalah generasi penerus para anbiya’. Ulama salafussalih dikenal dengan kesibukan aktivitasnya berupa mengajar, berdakwah, dan  berjihad, selain itu  juga menghasilkan buah karya berupa kitab-kitab klasik. Ada banyak ulama  salafussalih yang karyanya masih bisa kita nikmati, pelajari, bahkan  kita renungkan karyanya hingga saat ini, meski sudah ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu ditulis, tapi nyatanya karya-karyanya  tidak hilang ditelan zaman. Imam Ghazali misalnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin ahmad at-Thusi al-Ghazali yang kita kenal dengan Hujjatul Islam adalah sosok ulama tasawuf yang produktif sekali dalam berkarya.

Ada banyak karya menumental yang beliau hasilkan. di bidang filsafat dan ilmu kalam, ada Maqashid al-Falasifah, Tahafut al-Falasifah, Al-Iqhtishad fi al-I’tiqad, Al-Munqidz min al-Dhalal dan masih banyak lagi. Di bidang fiqih dan ushul fiqih, beliau menghasilkan kitab al-basith, al wasith, wajiz dan masih banyak lagi. Dan karya beliau yang sangat fenemonal adalah kitab Ihya Ulumuddin. Kitab yang mayoritas pesantren di Indonesai mempelajarinya.

Di negara kita sendiri, Indonesia juga mempunyai ulama-ulama besar yang produktif dalam berkarya. Hadrutsyaikh KH. Hasyim Asyari misalnya. Pendiri organisasi jamiyyah nahdlatul ulama, organisasi Islam terbesar di dunia yang memiliki pengikut lebih dari  sembilan puluh juta masa menjadi salah satu ulama Indonesai yang produktif dalam berkarya. Karya-karya yang beliau tulis diantaranya risalah ahlussunnah waljamaah, adabul alim wal mutaalaim, mawaidz dan masih banyak lagi.

Berkaca dari ulama-ulama salafussalih yang produktif dalam menulis tadi, semestinya kaum sarungan atau lebih akrab kita kenal dengan kaum santri dapat mengambil ibrah dalam berkarya. Melalui karya kitab-kitab klasiknya, di era ini, kita masih bisa mengenal dan tau ulama-ulama tersebut. Bisa dibayangkan jika ulama-ulama salafussalih tadi tidak menuliskan pengetahuan agamanya melalui karya, hampir bisa dipastikan kita tidak akan dapat menikmati karyanya atau bahkan mengenal namanya saja. Karena  menulis adalah bekerja untuk keabadian. Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Pramodya Anata Toer bahwa orang  boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Karena santri adalah generasi penerus ulama dan ulama adalah pewaris para anbiya, maka berkarya melalui tulisan adalah sesuatu yang seyogyanya  harus dicontoh oleh para santri.

Akan tetapi dalam kenyataannya masih sedikit sekali santri yang mau berkarya melalui tulisan. Perlu diketahui bahwa tidak serta merta sebuah karya harus sama  persis sesuai dengan  apa yang dicontohkan para salafussalih melalui kitab-kitab agamanya. Ada banyak opsi yang dapat santri aplikasikan. Melaui karya sastra misalnya. Di Indonesia sendiri ada banyak kyai yang berkarya melalui sastra. Kita ambil contoh Gus Mus yang berkarya melalui puisi dan lukisan. Atau juga bisa berkarya melalui  esai, opini, artikel dan  masih banyak lagi yang banyak dihasilkan kyai-kyai muda Indonesia.

Sama halnya dengan sebuah organisasi, dengan menghasilkan sebuah karya seseorang mempunyai alasan utuk dapat bertemu, mengenal, dan berdiskusi  banyak hal bersama orang-orang hebat sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Dan manfaat ini yang sudah dirasakan sendiri oleh penulis.

Kesalahan yang biasanya dilakukan oleh banyak orang atau dalam konteks disini adalah santri yaitu takut berbuat salah. Padahal dalam ilmu pengetahuan kesalahan adalah awal dari sebuah kebenaran. Jika ada orang yang belum atau tidak pernah berbuat salah sama sekali, maka orang tersebut tidak pernah berbuat apa-apa. Maka beranilah mencoba sesuatu yang dapat membuat kita berkembang dan maju, apapun itu, termasuk berkarya melaui tulisan.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, penulis mengutip puisi yang berbentuk nadzaman karya  Syeikh Syarafuddin Yahya al-Imrithi as-Syafi’i dalam salah satu karya monumentalnya bertajuk Ad-Durratu al Bahaiyyah atau yang lebih dikenal Nadzam al-Imrithi, yakni ‘idzil fata hasba’tiqadihi rufi’, wa kullu ma lam ya’taqid lam yantafi’ (idealnya pemuda harus memiliki keyakinan yang tinggi, sebab tanpa keyakinan apapun tidak akan berguna). Semoga bait nadzaman ini dapat menumbuhkan semangat dan keyakinan yang tinggi untuk kita dalam berkarya. Amin. Wallahu a’lam bissawab.

komentar

Related Posts