Spiritualitas Semu, Merasa Imannya Telah Melampaui Nabi

Pohon labu yang lemah dan ringkih itu punya buah sebesar kepala— sementara beringin yang kokoh dengan pohon tinggi menjulang berbuah sebesar lalat. Tuhan sedang bercanda —kata musafir itu sambil merebahkan badan dibawah pohon beringin besar sebelum buah beringin kecil itu jatuh persis di pucuk hidungnya yang pesek.

Bukan hanya umat Islam yang ke-marab—penganut Kresten pun juga ke-menggres alias ke barat-baratan dan memuja Eropa setinggi langit. Perilaku penganut agama kurang lebih sama. Bagi umat Islam dan Kresten, Arab dan Eropa dianggap sumber kebenaran begitulah seterusnya. Bisa jadi Huntington benar, bahwa benturan peradaban adalah nyata mengangkangi iman. Bukan agama yang dibela, tapi peradaban: Cina, Eropa dan Arab itulah yang sedang bertengkar, lantas diberi cap agama sebagai bahan bakarnya.

Saya tak tau apakah ini problem akut atau sesuatu yang natural berjalan sebagai implikasi yang melekat dari beragama. Tak salah jika Marx berkata bahwa agama adalah candu. Nietche berkata sinis bahwa agama hanyalah ilusi. Ditimpali Rocky Gerung bahwa agama (kitab suci) adalah fiksi.

Tapi bagaimana dengan pikiran bahwa agama adalah lifestyle, semacam gaya hidup atau cara hidup: cara makan, cara minum, cara berpakaian hingga cara masuk surga atau cara meraih hidup enak dengan efisien. Tapi ini tasyabuh. Jadi tak boleh meniru agama lain, termausuk pakaian, cara makan, cara berjalan, cara menyisir rambut hingga minyak wangi. Lantas bagaimana dengan gadget dan kendaraan, apa masuk kategori tasyabuh ? Hidup memang ruwet alias rumit kata Prof Haidar Nashir ketua PP Muhammadiyah.

Bagi umat Islam, gamis adalah yang terbaik, bagi penganut Kresten, jas dan vantovel lebih prestige— pizza dan KFC mungkin lebih menarik mileneal ketimbang pisang atau ayam goreng mbok berek. Sebelum makanan dan pakaian diberi label agama dan cap kafer.

Kita memang sedang ‘bercengkerama’ dengan kebiasaan atau tradisi yang disakralkan, hingga yang kuat yang tersisa, untuk menghindari dari kata perang atau benturan peradaban, meski terdengar keren tapi mengerikan.

Dr Alim Nogotirto mengajukan premis menarik :’pentingnya berpikir proposional tentang membangun relasi yang baik antar pemeluk agama dan mencampur adukkan keyakinan beragama”, saya merasakan kegelisahan yang sangat dari cendekiawan muda ini, tentang realitas masih banyaknya yang gagal paham dan urap memahami. Akibatnya sangat fatal, mengucapkan selamat natal, selamat hari nyepi di identikkan dengan ‘pengakuan’ yang mengakibatkan hilangnya iman. Lantas syahadatnya dianggap batal dan harus di ulang.

Tapi tak usah kawatir, pada setiap agama, pada setiap era, selalu ada yang begini. Jadi jangan heran ketika lelaki pelontos berjanggut lebat lantang berkata : ‘Wahai Muhammad berbuat adilah ! Iman nabi pun dipertanyakan. Jadi ini memang soal pikiran atau agama yang telah menjadi candu, bikin mabuk dan susah diajak berpikir proposional. Rizal Sukma berkata pendek: ‘orang yang suka sebar berita hoax biasanya tak suka klarifikasi atau tabayun’. Jadi apa yang harus dilakukan : ‘saatnya orang baik berkata lantang, jangan diam, tutur Buya Syafi’i Maarif. Maka saya akan terus menulis, dan berkata lantang, apapun itu.

Related Posts