Gus Dur Sosok Konsisten dan Punya Skala Prioritas - Atorcator

Gus Dur Sosok Konsisten dan Punya Skala Prioritas

Ket. Foto: Twitter Jaringan GUSDURian

Rasa-rasanya sulit menemukan sosok seperti Gus Dur. Bahkan Gus Ali kemarin dalam dalam tulisan Opininya di Jawa pos menyebut tak ada yang bisa meniru kepemimpinan Gus Dur. Namun bukan berarti sosok Gus Dur tak bisa kita tiru secara keseluruhan. Ya harus tetap kita latih dan terus mencari apa yang menarik dan menjadi nilai plus dari sosok Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ini.

Saya terlalu kerdil untuk menarasikan kehebatan dan kebesaran Gus Dur. Banyak tokoh yang sudah menggambarkan kebesaran Gus Dur. Ia bertemu dan menyaksikan langsung perjuangan dan pengorbanan Gus Dur. Dan saya bukan siapa² harus panjang lebar menarasikan sosok Gus Dur. Tapi kok semakin hari kecintaan saya pada Gus Dur terus bertumbuh dan berkembang seiring membaca tulisan beliau dan buku-buku tentang beliau.

Kecintaan saya bukan karena beliau turunan siapa dan anak siapa. Tapi karena beliau punya keberpihakan yang jelas. Rakyat kecil tertindas beliau berani pasang badan.

Coba bayangkan, satu contoh saja saya paparkan di sini ketika beliau sedang menjabat PBNU. Gus Dur dihadapkan dengan mesin-mesin pembangunan orde baru. Keberadaan Gus Dur dalam barisan perjuangan masyarakat menentang berdirinya PLTN sangatlah berarti besar. Gus Dur berani pasang badan untuk melindungi warga Nahdliyyin sekitar daerah Muria itu.

Jiwa raganya memang didedikasikan untuk membela minoritas, kebenaran dan kaum tertindas dari kedzaliman. Prinsipnya jelas. Sebagai ummat Islam, keberpihakan terhadap yang benar adalah sebuah kewajiban. Dan Gus Dur adalah sosok yang terus konsisten di jalur keberpihakan terhadap yang benar itu.

Jadi wajar kalo hidup Gus Dur pertama untuk Islam. Sebab segala tindak tanduknya memang bersumber dari ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah SWT: Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo`a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (Annisa: 75). Ini salah satu bentuk ijtihad Gus Dur yang bisa ditiru dan dilakukan oleh siapa saja yang memiliki empati terhadap kaum Mustad’ifin.

Hari ini, misalkan, kita banyak menemukan masalah yang terus direproduksi hingga muncul konflik dan mencuat ke permukaan tanpa kendali dan mampu dikendalikan. Blom lagi pada persoalan alam dan lingkungan yang terus dirusak oleh segelintir elit untuk memperkaya diri. Dan semua ini jauh dari perhatian serius dan penyelesaian lebih serius. Mentok biasanya hanya dibicarakan di meja diskusi yang sok²an tapi nihil aksi.

Nah, di tengah gaduh dan gentingnya persoalan ini pun masih banyak yang nggak sadar. Jangankan mau mengambil sikap jelas dan tegas. Sadar saja tidak. Nyaris tak ada tokoh yang memiliki posisi jelas dalam menyikapi gaduhnya problem itu. Itu yang membuat saya dan banyak orang lainnya rindu Gus Dur.

Sepertinya memang jarang sekali orang-orang mengisahkan kemesraan Gus Dur dengan keluarga, tapi keluarga Gus Dur selalu bersama Gus Dur dalam setiap perjuangan. Bukan berarti Gus Dur tidak cinta keluarga. Saya pernah baca salah tulisan yang diceritakan ibu Shinta Nuriyah Wahid, istri Gus Dur, Gus Dur termasuk suami yang cinta keluarga saat bayi atau anaknya menangis Gus Dur lah yang pertama kali mengambil menggendong bayi itu untuk diserahkan ke Bu Shinta agar disusui. Setelah bayi kenyang, diam dan tidur nyenyak Gus Dur bergegas kembali menggendong bayi untuk ditaruh di tempat tidurnya. Dan ini konon dilakukan ke 4 putrinya dengan sama.

Gus Dur adalah sosok yang memiliki skala prioritas. Mana yang harus dikedepankan dan mana yang lebih penting. Klo semua hanya bicara normatif seperti yang tampak di permukaan dalam memutus penyebaran pandemi, yo Angel tuturane.

komentar

Related Posts