Masak Pakai Minuman Beralkohol Halal Karena alkoholnya Menguap?

Waktu buka youtube resep makanan, nemu komen seperti yang menganggap minuman beralkohol halal digunakan dalam masakan sebab alkohol akan menguap pada suhu 80 derajat. Dengan demikian, asumsinya hasil masakan akhir yang dimakan sudah tidak ada alkoholnya. Benarkah demikian?

Tidak sesederhana itu masbro. Dalam pendapat mayoritas mazhab Syafi’i dan lainnya, minuman beralkohol alias minuman yang memabukkan seperti tuak, rum, anggur, sake, mirin (sake manis ala jepang) atau apa pun namanya masuk dalam kriteria khamer. Seluruh khamer dianggap najis. Jadi karena najis, maka dilarang dikonsumsi atau pun dicampurkan pada masakan. Bila tetap dilakukan, maka masakannya menjadi najis dan otomatis haram dimakan meskipun kelihatan bersih dan ueenak. Jadi, masalahnya bukan pada alkoholnya yang menguap atau tidak, tapi pada hukum najis masakannya yang tidak akan hilang sebelum disiram air sampai bersih. (Oya, perlu diketahui bahwa masakan suci yang dimasak dengan bahan najis bisa suci kembali bila disiram hingga bersih, meskipun secara kimia najisnya meresap ke dalam. Itulah bedanya hukum fikih dan sains)

Bedakan antara alkohol dan khamer. Alkohol sebagai sebuah zat kimia tidaklah najis, tetapi apabila ia menjadi atau dijadikan khamer alias minuman memabukkan, maka saat itulah ia menjadi najis. Bila secara alami sifat memabukkannya hilang dan minuman tersebut berubah menjadi cuka dengan sendirinya, maka ia kembali suci lagi sebab bukan lagi berstatus khamer. Dalam tape ada alkoholnya, tapi tape itu tidak najis karena tape bukan khamer. Dalam kencing tidak ada alkoholnya tetapi kencing najis. Jelas bukan bedanya?

Related Posts