Olengnya Perahu Brahmana dari India yang Menantang Sunan Bonang - Atorcator

Olengnya Perahu Brahmana dari India yang Menantang Sunan Bonang

Ilustrasi: histori.id

Cerita yang agak kocak kedengarannya. Seorang Brahmana yang jauh-jauh datang dari negeri Sakhrukan yakni India menuju pulau Jawa untuk menantang kesaktian dan ketinggian ilmu Sunan Bonang.

Mungkin cerita ini sudah ada yang tau, namun perlu disampaikan karena mungkin dari orang-orang juga belum ada yang tau.

Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim nama aslinya. Beliau adalah putra kelahiran dari pasangan Nayi Ageng Manila dan Raden Ali Rahmat yang orang-orang menyebutnya Sunan Ampel.

Sunan Bonang adalah seorang Wali Songo yang berilmu tinggi. Berkat ilmunya yang tinggi ia mendirikan pesantren di Tuban, Jawa Timur dan murid-muridnya sangat banyak. Mulai dari Tuban itu sendiri, Bawean hingga Madura.

Dan ilmunya yang tinggi itu sampai terkenal ke negeri sebrang yakni India. Seorang dari India mendengar Sunan Bonang yang memiliki kesaktian dan ilmu yang tinggi, ia ingin menantang dan berbedat.

Ketika itu, Brahmana yang dari India berangkat ke Tuban melalui kapal laut atau berlayar. Jauh tidak dari India ke Tuban Indonesia? Banget bukan? Apalagi melewati lautan, ombak besar tantangannya. Serrem.

Kapal/perahu pun membawa kitab-kitab tebal, ya ceritanya begitu. Entah setebal apa kitabnya saya penulis tentu tidak tahu. Setebal bangunan Malaysia tau setebal bangunan gedung China.

Sungguh berniat sekali orang itu datang dengan jarak yang amat jauh dan membutuhkan waktu yang jelas sangat lama agar sampai ke tempat tujuan. Ditambah lagi muatan kitab tebal, ombak besar menggulung-gulung dan menghantam perahu/kapalnya. Rowet sekali kedengarannya.

Sungguh aneh bin tak nyangka. Nasib nahas itu menghampiri Brahmana. Sesampainya diperjalanan aliyas di tengah lautan, perahunya oleng tidak karuan dan akhirnya terbalik lah perahu itu. Semua kitab yang tebal dibawanya menjadi hilang ditelan ombak dan saksinya adalah pasir-pasir di pantai.

Sungguh kasihan nasibnya. Butuh waktu berapa menit atau berapa jam diwaktu ngambil kitab dan dibawanya ke perahu. Tebal? yang jelas agak berat. Itupun bukan hanya satu kitab. Wajar, yang namanya siap tanding memang memerlukan banyak data dan referensi. Apalagi mau berdebat tentang keagamaan. Sungguh semangat sekali Brahmana itu, haruskah kita beri aplos?

Olengnya perahu itu membuat kitab-kitab tebal sebagai bahan perdebatan hilang dan sirna di tengah lautan. Tenggelam semua kitab itu. Itupun saat masih mau berangkat yakni belum berdebat. Andai saja sudah berdebat, misalkan perahu itu ditakdirkan oleng dan membuat kitabnya hilang, mungkin secara akal mendingan. Lah..!!! ini belum sampai tujuan sudah kehilangan kitabnya. Sungguh malanng nasib mu tuan….

Si Brahmana pun tergeletak bin terpapar bin terdampar ditepi pantai dalam keadaan yang tak sadar. Olengnya perahunya membuat sopirnya (Brahmana) oleng juga. Entah terdampar seperti apa, penulis tidak tau. Yang jelas Brahmana itu tidak sadar seperti orang yang baru minum alkohol. Oleng tuan… enggak oleng gak jago… katanya begitu menurut kaum pemuda penerus bangsa.

Setelah sadar dari olengnya, Si Brahmana melihat sosok lelaki berpakain baju putih lagi memegang tongkat, lalu berhenti berjalan karena si Brahmana menyapannya.

Lalu menyapanya, entah menyapa dalam keadaan duduk biasa, bersila atau berdiri atau bahkan tertidur karena baru sadar, tidak tau. Entah saat menyapa, apakah bajunya penuh pasir karena abis oleng dan terdampar di pasir lautan, atau terlebih dahulu sebelum menyapa memang bajunya dibersihkan? Wallahu wa’lam Bis-Showab…

Tuan Brahmana menyapa “Daerah mana ini tuan”? Mau tidak nanya pun yang jelas ia tetap tidak akan tau, karena baru sekali ia sampai di tempat itu. Baru sekali ples nahas sekali, yang jelas ia bertanya setelah sadar dari Olengnya.

Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Brahmana yang baru saja sadar dari Olengnya. Lelaki itu diam dan hanya menancapkan tongkatnya ke pasir tanah pantai.

“Tuan sebenarnya dari mana, kok tidak mengenal daerah ini” Jawab lelaki bertongkat itu setelah menancapkan tongkatnya. “Dari India, yang ingin bertemu Sunan Bonang untuk berdebat keagamaan” “Sayangnya kitab tebal yang saya bawa tenggelam ke lautan” tegasnya, si oleng mulai tegas ya bund.

Mendengar jawaban itu, sosok lelaki lalu mencabut tongkatnya. Dan keluarlah air dari lubang tongkat itu, semua kitab-kitab tebal yang baru saja hilang tenggelam, keluar kembali.

“Benarkah ini kitab tuan yang tadi tenggelam” tanya si lelaki bertongkat itu. Dan si Oleng pun berkata dalam hatinya, “sungguh tinggi ilmu orang berbaju putih ini” si oleng mulai keget bund.

Si Oleng pun bertnya, ” Tuan siapa?” lelaki itu menjawab, “Orang-orang menyebut saya dengan sebutan Sunan Bonang”. Seketika itu, si Brahmana atau si Oleng lalu bertekuk lutut dan meminta maaf dan akhirnya mau menjadi muridnya Sunan Bonang.

Usut demi usut, entah kitab tebal itu dibawa pulang kembali ke kampungnya ke India atau bagaimana, ditinggal saja, Wallahu Wa’lam. Yang jelas si Oleng percuma datang jauh-jauh ditambah ditimpa musibah lagi tak sampai berdebat pula, (Percuma belum debat, udah menyerah, gak mikir beratnya kitab tebalnya ya) dan akhirnya bertekuk lutut

komentar

Related Posts