Pengalaman Membaca - Atorcator

Pengalaman Membaca

Ilustrasi; penulis, Moh. Syahri

Saya beruntung sekali punya teman-teman yang aktif membaca, aktif menulis, bahkan tak sedikit juga yang responsif terhadap perkembangan zaman yang mampu dituangkan dalam tulisan maupun diskusi. Sehingga setiap hari pun rasanya kurang afdhol klo saya tidak membaca. Meskipun hanya satu lembar.

“Kamu calon konglomerat ya, Kamu harus rajin belajar dan membaca, jangan ditelan sendiri. Berbagilah dengan teman-teman yang tak mendapat pendidikan”. kata Wiji Thukul.

Target saya tiap hari harus membaca minimal satu lembar dan tidak ada batas maksimal. Lah, bagaimana mungkin saya bisa bergaul dengan mereka sedangkan saya sendiri minim bacaan. Bisa-bisa nggak nyambung otak saya. Saya termasuk orang yang memiliki pengalaman menghadapi orang selalu ngajak diskusi tapi nggak dibekali dengan bacaan yang kuat. Ambyarrr nggak karuan. Ngawur tanpa dasar. Logikanya kacau. Dan akhirnya menyerang personal. Baperan. Dan tidak bisa membedakan kritik dan cemoohan.

Kebiasaan saya membaca ini berlanjut hingga dalam kondisi apa saja. Mau sesibuk apapun saya sempatkan membaca. Nggak sempat baca buku ya muthalaah kitab yang akan dibaca di pengajian pesantren. Ya intinya membaca. Apapun itu. Jangan sekali-kali membatasi bacaan selagi itu bisa diambil manfaatnya.

Prinsip saya sederhana seperti yang sering saya sampaikan bermula dari menyisihkan uang untuk membeli buku. Dan berikan sedikit waktu untuk membaca buku. Dan buku itu akan membuka wawasanmu. Dan kamu tidak jadi orang jumud.

Kebiasaan saya membaca adalah di pagi hari setelah selesai ngaji di pesantren begitu juga dengan menulis. Kebiasaan ini terinspirasi dengan Prof. Imam Suprayogo, ternyata setelah saya coba benar-benar terasa nikmatnya. Rasanya otak sangat fresh. Membaca satu lembar kadang butuh 15 menit untuk memahami. Habis itu saya tutup. Dan lanjut Bermedia sosial. Baca buku dulu baru berlanjut ke media sosial. Tidak usah lama-lama. Toh lama² baca dan berlembar-lembar klo tidak paham juga nggak ada gunanya. Makanya Banyak membaca tapi juga harus diimbangi dengan rajin berpikir, biar nggak oleng 🤣🤣🤣.

Ingat kata Ferdinand Setia Budi, Orang yang membaca terlalu banyak, tetapi menggunakan otaknya (berpikir) terlalu sedikit, maka akan jatuh pada kemalasan berpikir. Maka benar kata guru saya, Cara terbaik membela islam adalah dengan menuntut ilmu agama yang baik, belajar yang sungguh-sungguh, rajin membaca buku, dan cari guru yang mengajarkan kasih sayang.

komentar

Related Posts