Sunan Gresik, Sang Penyelamat Gadis Cantik Ketika Berdakwah

Ilustrasi; sekolah.net

Sunan Gresik atau yang lebih dikenal di kalangan masyarakat adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Sunan Gresik merupakan salah satu dari Wali Songo yang menurut sejarah merupakan orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa dan merupakan senior dari Delapan Wali lainnya.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim, menurut beberapa sejarah terkenal dengan sebutan Kakek Bantal dan Syaikh Maghribi. Beliau merupakan orang ahli dalam bidang tata negara.

Beliau berasal dari Iran, ada yang mengatakan dari Gujatat dan Arab. Dan di wekipedia berasal dari Provensi Samarqand, Uzbekistan.

Tahun 1404 M. Beliau menyampaikan Islam di tanah Jawa dan Beliau menetap di Gresik, Jawa Timur. Dan Beliau wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 822 H atau bertepatan dengan 7 April 1419. Beliau dibumikan di Desa Gapurosukolilo, Gresik.

Beliau dalam menyampaikan ajaran Islam di Gresik, pada waktu itu masyarakat yang masih menganut agama Hindu-Budha. Beliau tentu tidak langsung mengajarkan agama Islam. Akan tetapi Beliau lebih dulu berbaur dengan masyarakat dan beradabtasi tanpa merusakan ataupun menentang agama mereka.

Beliau dalam menyampaikan agama Islam dengan ajaran Islam sendiri. Yakni dengan lemah-lembut, sopan dalam berbicara kepada masyarakat, santun kepada fakir miskin dan menghargainya kepada orang yg lebih tua serta menyayanginya kepada yang lebih muda.

Pertama-tama beliau sering bilang kepada masyarakat bahwa di dalam Islam tidak memandang perbedaan. Baik dalam agama, etnis, suku ataupun budaya. Dengan begitu, akhirnya masyarakat mudah mengikuti beliau dan memeluk agama Islam.

Semuanya di mata manusia sama, kecuali di mata Sang Pencipta. Sama dalam artian masyarakat kecil dan besar adalah mendapatkan hak sama, sama rata, sama rasa. Sekecil apapun kedudukan manusia sangat boleh dan Islam sendiri memperbolehkan masyarakat kecil berbaur dengan masyarakat yang kedudukannya jauh lebih tinggi.

Orang-orang yang menganut agama Hindu-Budha ketika itu langsung merasa puas dan bangga terhadap ucapan beliau. Seakan-akan orang Hindu pada waktu sudah memiliki pembela atas Hak Asasinya dalam Berkemanusiaan. Dengan suka rela, rendah hati dan rela hati orang-orang ketika itu berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Pada suatu hari Beliua mendengar kabar melalui berita, bahwa di suatu daerah ada bencana. Mendengar berita itu, Beliau bersama Lima murid-muridnya menuju ke tempat itu untuk membagikan bantuan kepada para korban bencana yang menderita.

Setelah itu, Beliau masih mengelilingi tempat bencana dan terus berjalan bersama para muridnya, barang kali masih ada para korban yang tidak kebagian bantuan.

Dalam perjalanannya, akhirnya Beliau melihat orang banyak yang berkerumunan. Lalu Beliau mendekati orang banyak itu bersama muridnya. Beliau dengan muridnya berada di belakang orang banyak itu.

Di tempat itu ternyata Beliau melihat gadis ayu berpakaian putih yang sedang berada di suatu panggung yang terbuat dari tumpukan batu-batu. Gadis itu dipegang oleh dua orang lelaki yang keliatannya amat kejam dan di depannya ada orang tua yang memegang tongkat.

Gadis itu sebernya meringis ketakutan dan meronta-ronta agar bisa lepas dari pegangan dua pria kuat itu. Beliau setiba di tempat, menanyakan hal itu kepada orang banyak.

Setelah dijelaskan, ternyata gadis itu mau dijadikan tumbal atau korban untuk dibunuh oleh pendeta agar terjadi hujan karena musim kemarau panjang, dan tidak pernah turun hujan.

Beliau hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar penjelasan itu, namun hati nya berkata “Kejamnya kedzaliman itu, itulah perbuatan mereka yang belum mengenal Tuhan alam semesta”.

Sang pendeta pun siap mengeksekusi gadis ayu itu. Meliahat itu, Sunan Gresik atau Syaikh Maulanan Malik Ibrahim mencoba mencegahnya lewat kata-kata cegahan dari arah kejauhan yakni dibelakang orang banyak.

Akhirnya sang pendeta itu tidak bisa berbuat apa-apa, acuh saja. Ketika belatinya hendak sampai ke badan gadis ayu itu, ia tak kuasa menahan berat belatinya seperti dihadang dan terhalang oleh lempengan besi tebal.

Singkat cerita, pendeta pun merasa aneh. Pendeta pun mencoba memakai ajian batin nya, namun juga tak berhasil. Orang-orang pun kaget, mengapa tiba-tiba berhenti? Pendeta tua itu akhirnya melihat ke semua orang dan akhirnya melihat Syaikh Maulana Malik Ibrahim.

Pendeta itu marah, dan Beliau meminta maaf bukan maksud mengganggu. Hanya saja Beliau bertanya, apa maksud hal ini dilakukan. Orang yang berkerumunan itu serentak menjawab, bahwa sudah terdapat dua korban, namun juga hujan tak pernah turun.

Pendeta pun menjawab, ini baru dua kali. Dan dengan dibunuhnya gadis itu, maka hujan akan turun.

Syaihk Maulana Malik Ibrahim pun bertanya, “Jika tak terjadi hujan lagi, apakah kalian semua masih mau mencari korban untuk dibunuh”? Pendeta makin amarah. Pendeta itu menyuruh dua pengikutnya untuk menangkap Beliau, namun akhirnya kaki dua anak buah pendeta itu kram berat dan tidak bisa berjalan.

“Kami butuh hujan” kata orang-orang yang berkerumunan itu. Sunan Gresik pun mengabulkan permintaan mereka dengan syarat melepaskan gadis ayu tersebut. Pendeta tak setuju. Dan menjawab jika tidak terjadi hujan, pendeta akan membunuh Sunan Gresik dan semu orang di tempat itu, termasuk murid Beliau. Beliau tidak menolak dan menjawab “Silahkan…!

Akhirnya, Beliau bersama muridnya melakukan shalat sunnah. Selesai sholat, awan mulai menghitam tebal dan akhirnya hujan turun. Orang-orang yang membutuhkan hujan itu sangat gembira dengan turunnya hujan. Pendeta akhirnga merasa iri dan meninggalkan tempat itu tanpa sebutir kata dan pada akhirnya bebaslah gadis itu.

Orang-orang banyak itu bersujud dan menyembah Beliau. Namun beliau menyeeuhnya bangun. Karena sesama manusia tidak boleh menyembah manusia. Rasa terima kasih akhirnya dikeluarkan oleh orang-orang itu. Dan Beliau berkata “ilmu itu hanya ada pada agama Islam, jika ingin tau ilmu nya, ingin hujan tanpa ada korban, kalian harus mengenal Allah dahulu. Disitulah orang-orang mengikuti Beliau dan memeluk agama Islam.

*Disarikan dalam buku “Kisah Wali Songo Penyebar Islam di Tanah Jawa” Penulis: Baidlowi Syamsuri. Penerbit APOLLO Surabaya

Related Posts