Ambiguitas Manusia

Ilustrasi:s/ Profil-Ari Amphibiya

Jakarta ketika senja beranjak temaram. Aku jalan-jalan. Sendiri. Menelusuri jalan-jalan yang ramai, trotoar-trotoar yang berjubel dan lorong-lorong yang tak lurus. Mataku sering tertambat pada sosok-sosok. Dan aku galau. Aku merenung-renung. Sendiri. Bumi manusia nyatanya menghadirkan paradoks-paradoks kehidupan. Ada ambiguitas, ambivalensi atau dalam bahasa agama, mungkin; “kemunafikan” manusia. Manusia, sungguh, adalah makhluk Tuhan paling aneh sekaligus paling sulit didefinisikan secara tunggal.

Ia juga paling rakus dari semua ciptaan-Nya. Manusia adalah misteri bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Ia tidak sepenuhnya bergerak dengan pikirannya, tetapi juga bertindak dan berfikir dengan naluri libido dan dengan nurani. Akal sehat seringali dikalahkan oleh gairah, gejolak libido dan hasrat kuasa. Gerak tubuh manusia, perempuan maupun laki-laki didesak oleh akal-pikiran, libido, emosi dan hati-nurani secara tumpangtindih, berganti-ganti dan berubah-ubah. Identitas-identitas kultural yang sakral (atau disakralkan) dan yang provan, tak lagi penting atau digunakan secara konsisten, bahkan acap digunakan untuk mengelabuhi publik awam yang lugu.

Dalam seperangkat tubuhnya yang konon paling indah (ahsani taqwim) di antara ciptaan Tuhan yang lain, terhimpun seluruh potensi alam semesta. Manusia adalah mikrokosmos atau bahkan makrokosmos. Dan ia sengaja diciptakan Tuhan secara paradoks dan dikotomik ; tertawa dan menangis, cinta dan benci, menindas dan ditindas, menguasai dan dikuasai, kuat dan lemah, bersih dan kotor, terang dan gelap, damai dan perang, dan seterusnya.

Bahkan ternyata juga ada eksistensi antara, abu-abu, kabur dan jenis ketiga. Ini adalah realitas-realitas yang terus bergerak begitu bebas bahkan liar dalam siklus-siklus kehidupan yang entah sampai kapan akan berakhir. Ini juga agaknya yang tengah berkembang begitu marak dalam kebudayaan kini dan di sini.

Ia adalah produk zaman yang entah disebut apa, terserah orang ingin menamainya. Secara eksistensial manusia, terus bergerak, memburu, mengejar, memperebutkan dan mempertaruhkan diri untuk kenikmatan demi kenikmatan dan hasrat-hasrat (hubb al-musytahayat) yang boleh jadi tak pernah ingin berhenti dan terpuaskan.

Tuhan mengatakan dalam kitab suci al Quran bahwa “Kehidupan adalah permainan, sendagurau, gelak-tawa, kemewahan, saling membanggakan diri, berebut untuk sebuah kemegahan, memburu kenikmatan-kenikmatan dan bersaing untuk mengalahkan.

Tetapi kehidupan juga adalah kecemasan, kengerian, kegalauan, kenestapaan, keterasingan dan keinginan-keinginan untuk kemudian secara niscaya hancur lebur, lenyap, hilang.

Related Posts