Antara Pandai dan Bijak

Ilustrasi:s/ Akurat.co

Hari-hari ini saya bersyukur karena sedang menikmati posisi tamu di sebuah kota urban di kalimantan. Pagi tadi diiringi irama tipis gerimis sambil menikmati teh kapulaga dan pisang goreng, saya berbincang dengan salah orang spesial bagi saya.

Dialah sang tuan rumah, pria baik dengan segudang pengalaman kerja mulai dari kuli bangunan lalu pengawas di sebuah perusahaan bus antar kota hingga merintis sebuah perusahaan jasa pengiriman kargo di kota ini saat masih sepi penduduk 30 tahun silam. Dia bisa dianggap sebagai album survive yang telah mengembara dari timur hingga barat negeri.

Sayang, dia keburu pensiun dari pekerjaannya setelah membuat banyak orang sukses dalam beragam bisnis di kota yang maju. Kini di usia 66 tahun kesehatan fisiknya dimanfaatkan untuk fokus kepada kegiatan sosial keagamaan, antara lain pembina sebuah yayasan yang sedang membangun sebuah gedung serba guna di atas tanah yang dihibahkannya dan pembina dewan pengurus sebuah masjid besar yang dirintisnya. Karena kiprah sosialnya, pria humoris ini dikenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani di kota ini. Mengaku tak ahli agama, tapi dia dianggap salah satu tokoh agama, meski banyak pejabat mengetaghui mazhabnya tak sama dengan mazhab mereka.

Di balik cerita-ceritanya yang penuh jenaka bertabur hikmah dari pengalaman hidup bersama ragam orang dengan aneka karakter. Dia menyimpulkan bahwa orang-orang yang baik sebagai mitra bisnis biasanya buruk sebagai teman, sedangkan orang yang baik sebagai rekan sepengajian dan kegiatan organisasi pada umumnya buruk dalam kemitraan bisnis. Dia menyarankan demi menjaga hubungan tetap lestari, watak setiap orang harus dikenali melalui interaksi langsung.

Orang jadi pandai karena pengajaran. Orang menjadi bijak karena pengalaman.

Related Posts