Debat Kusir

Ilustrasi:s/ check porsi haji app.

Imam Ja’far As-Shadiq (702-7655 M) pernah berdiskusi dengan Imam Abu Hanifah (699-767 M) yang dikenal sangat mengandalkan rasio dan analogi.

Imam Ja’far bertanya, “Menurut Anda, mana yang lebih besar dosanya antara pembunuhan dan perzinaan?”

“Pembunuhan,” jawab Abu Hanifah.

“Jika demikian, kenapa Allah menuntut dua saksi menyangkut pembunuhan dan empat orang menyangkut perzinaan? Apakah ini dapat dianalogikan?”

Lebih lanjut, Imam Ja’far bertanya, “Mana yang lebih besar kenajisannya antara kencing dan mani?”

Abu Hanifah menjawab, “Kencing.”

“Jika demikian, kenapa Allah memerintahkan berwudu untuk salat setelah kencing dan memerintahkan mandi setelah keluar mani?”

Kemudian, Imam Ja’far bertanya lagi, “Yang lebih utama itu salat atau puasa?”

“Salat,” kata Abu Hanifah.

Imam Ja’far segera memburu, “Jika demikian, kenapa Allah tidak mewajibkan wanita mengganti salatnya setelah bersih dari haid, tetapi justru mewajibkan mengganti puasa?”

Kisah di atas saya kutip dari buku “Logika Agama” karya M Quraish Shihab untuk menggambarkan bahwa tidak semua ajaran Islam harus dianalogikan atau dipahami akal. Sebagian di antaranya cukup dilaksanakan saja berdasarkan petunjuk Rasulullah.

Kelemahan fatal umat Islam hari ini adalah sering memperdebatkan suatu persoalan yang kita sendiri justru alpa melaksanakannya. Terlebih di media sosial. Yang awam sekalipun berani mengecam dan mengumpat seorang pakar, hanya karena berbeda pendapat.

Tidak peduli status dan kedudukan persoalan yang sedang diperselisihkan itu, pokoknya asal beda, pasti mengundang kecaman dan umpatan. Silakan cermati sendiri. Karena itu, berselancar di dunia maya benar-benar dibutuhkan kontrol diri yang kuat, serta kedewasaan intelektual, sosial, dan spiritual.

Beragama yang menyejukkan adalah menjalankan semua kewajiban tanpa kecuali, dan mengamalkan yang sunah sekuat kemampuan. Amalan sunah, pertama-tama, mungkin, kita pilih yang paling ringan dan sederhana, kemudian pelan-pelan kita tingkatkan kuantitas dan kualitasnya.

Ibadah bukan untuk diperdebatkan, melainkan diamalkan dan dirasakan. Jika berhasil menemukan manfaat dan hikmah dari ibadah yang dilakukan, saat itulah kita akan merasakan kedamaian yang luar biasa. Ibadah juga cukup dilaksanakan sesuai tata cara yang diyakini benar, tanpa menyalahkan orang lain yang berbeda.

Debat kusir tidak akan mampu menyelesaikan persoalan dan tidak pula akan dapat menghadirkan kenyamanan di hati. Sebab itu, jangan beradu logika hanya untuk merendahkan orang lain yang tidak sealiran. Simaklah salah satu kisah kelompok Sofisme di Yunani era Socrates berikut.

Suatu kali, seorang sofis, yang terkenal mendewakan akal itu, bertemu seorang pemuda, lalu berkata, “Maukah aku buktikan kepadamu dengan akal bahwa engkau adalah keledai?”

“Cobalah. Aku akan mendengarkannya,” jawab pemuda itu.

Sofis melanjutkan, “Bukankah aku bukan engkau, dan engkau juga bukan aku?”

“Itu benar,” kata pemuda.

Sofis kemudian melanjutkan, “Dan, aku bukanlah seekor keledai.”

“Benar. Tidak diragukan lagi. Engkau bukanlah keledai,” tegas pemuda tadi.

Tiba-tiba, pengguna akal menukas, “Nah, karena aku bukan engkau dan aku juga bukan keledai, kalau begitu engkaulah yang keledai.”

Itulah ilustrasi ekstrem dari orang yang menggunakan akalnya hanya untuk menghinakan pihak lain. Sepintas, ucapan tersebut terdengar masuk akal, tetapi sebetulnya menunjukkan kepicikan si penuduh itu sendiri.

Related Posts