Fiqh Lansia

Ilustrasi:s/ Travel Kompas

Ada banyak hal dalam hukum Islam yang berhubungan dengan masalah orang yang telah memasuki lanjut usia (Lansia). Misalnya dalam ibadah salat, puasa, dan haji, serta yang berkaitan dengan masalah hibah, wasiat, dan waris. Inilah yang digarisbawahi sebagai topic utama fiqh lansia.

Dalam hukum Islam, kelompok lansia masih tergolong mukallaf atau terjangkau untuk dikenai tuntutan menjalankan syariat Islam. Hanya saja tuntutan menjalankan syariat itu dapat sewaktu-waktu berobah sesuai kondisi lansia yang bersangkutan; atau tidak sama persis dengan mukallaf pada umumnya.
Perobahan dan ketidaksamaan dalam syariat Islam itu sangat mungkin terjadi, terutama jika terdapat halangan yang memberatkan (al-masyaqqat).

Allah SWT. berfirman:
“Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286).

Firman Allah SWT.
“Allah menghendaki untuk meringankan kalian” (QS. An-Nisaa: 28)

Firman Allah SWT.
“Dan Dia tidak menjadikan untuk kalian dalam agama (Islam) sesuatu yang memberatkan” (QS. Al-Hajj: 68)

Selain itu, hadits yang diriwayatkan dari Anas b. Malik menyebutkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Permudahlah kalian dan jangan mempersulit kalian!, berkumpullah kalian dan jangan bercerai-berai kalian!” (H.R. Bukhari)

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Agama itu mudah… (HR. Bukhari)

Diriwayatkan pula dari Abu Mas’ud al-Anshari yang menceritakan seseorang yang melapor kepada Nabi Muhammad., Wahai Rasul! Hampir-hampir belum pernah aku jumpai salat berjamaah yang lebih lama bersama si Fulan. Maka belum pernah aku melihat Rasulullah memberi nasehat yang kerasnya seperti orang sedang marah.

Rasulullah SAW berkata: “Wahai manusia sesungguhnya kalian merupakan sekelompok pengelana. Maka barangsiapa salat bersama orang lain hendaklah diringankan (bacaan dan gerakannya), sebab didalamnya ada orang yang sakit, orang yang lemah, dan orang yang berkebutuhan khusus” (HR. Bukhari).

Diriwayatkan juga dari Aisyah yang menyatakan bahwa: “Rasulullah SAW ketika memerintahkan kepada para sahabat, maka beliau hanya memerintahkan mengerjakan segala sesuatu yang mereka sanggup menjalani” (HR. Bukhari).

Imam asy-Syatibi berpendapat bahwa dalil-dalil al-Qur’an dan hadits yang menganulir beban berlebihan buat ummat Islam pada dasarnya memiliki kedudukan sampai tingkatan pasti (qath’i). Oleh sebab itu disusunlah kaidah fiqhiyyah yang berbunyi: al-masyaqqat tajlib al-taysir (halangan yang memberatkan dapat mendatangkan kemudahan).

“Fiqh lansia” dikembangkan dari kaidah fiqhiyyah itu. Pertimbanganya adalah faktor umur manusia sangat mempengaruhi daya fisik dan daya ingatan akalnya. Sementara dalam beribadah manusia juga membutuhkan tenaga dan kesehatan akalnya. Atas dasar inilah, kelompok lansia sangat berpotensi menghadapi masyaqqat atau halangan yang memberatkan pada saat mereka menjalankan ibadah atau hukum Islam lainnya.

Dalam hukum Islam sesuatu yang memberatkan akan melahirkan kemudahan dan keringanan, yang disebut rukhsah. Dari rukhsah inilah lahir perbedaan antara kelompok lansia dengan mukallaf pada umumnya, dalam menjalankan syariat agama. Kelompok lansia mempunyai bermacam-macam rukhsah yang harus diketahui oleh kelompok Lansia sendiri maupun orang-orang di sekelilingnya.

Namun demikian, “fiqh lansia” tidak sekedar menyuguhkan rukhsah bagi kelompok lansia. Rukhsah ibaratnya “buah” dari satu pohon yang hidup dan berakar. Kalau saja buah itu berbeda dari sejenisnya maka hal itu terjadi karena akar dan mediumnya. Akar dan medium “fiqh lansia” adalah masyaqqat yang menumbuhkan dan melahirkan buah rukhsah.

Dengan demikian, pembahasan fiqh lansia selalu menghubungkan antara rukhsah dan masyaqqat, supaya pemahaman yang didapat menjadi komprehensif dan terukur.

Related Posts