Imam Ghazali: Penyingkap dan Penejelas Terbujuknya Semua Makhluk

Ilustrasi:s/RCTI+

Beberapa tahun lalu, waktu Ramadhan, pernah membaca kitab “kecil” Imam Ghazali yang berjudul Al-Kasyfu wat-Tabyinu Fi Ghuruurul-Khalqi Ajmain (Penyingkap dan penjelas terbujuknya semua makhluk).

Dari judulnya saja bisa di tebak, siapapun, pasti kena tembak hehe. Dan kitab ini sangat recomended bagi siapapun, yang berjuluk awam ataupun alim, pendengar ataupun muballigh. Pokoknya, bagi yang senang merasa benar, kitab ini obatnya. Tapi dengan catatan besar, hati kudu nerima, sumeleh!

Cukup tiga contoh saja sebagai pengenal, dan ini saya ketik seringkasnya:

1. Tertipunya Orang Mukmin yang Suka Maksiat

Kata mereka: “Gusti Allah itu maha rahman dan pengampun” hingga tak mau beramal shalih.
Oke! Kata-kata ini bagus kalau diniatkan sebagai pengharapan, dan memang rahmat Allah luas. Namun, apakah pantas bagi yang berharap kalau dia tidak melakukan perintah penolongnya?—Dan ingat!! Allah pun juga punya sifat murka dan penyiksa. Lhawong adanya hamba untuk mengabdi, kok malah ita-itu, bergaya jadi penguasa.

Ada juga yg mengandalkan abah-embahnya. Hei! Ayah dan kakek kalian yang mulia itu, takut pada Allah ta’ala! Ibadahnya kenceng! Ingat tak kisah Nabi Nuh dan putranya?! Beliau ingin mengangkat Kan’an ke bahtera, namun Allah menenggelamkannya!
“Yang menyangka akan selamat dengan ketaqwaan ayahnya. Ibarat orang yang menyangka kenyang, kalau ayahnya yang makan, atau segar, sebab ayahnya minum.”

2. Tertipunya Orang Alim

Kadang mereka cuma mementingkan hukum dzahir, mengesampingkan batin. Mempeng amal ibadah, tapi full riya’, sombong, hasud, rakus kuasa, ingin kondang dll. yang bisa melebur amal.
Atau sebenarnya mereka sudah mampu melaksanakan syariat dzahir batin, tapi merasa mumpuni dan kagum pada dirinya sendiri; terperdaya pandangan orang awam. Ia anggap yang bisa terasuki sifat ujub (bangga diri) hanyalah orang awam, sedang ia tidak! Hingga nampak halusinasi kesombongan.

Tanpa sadar ia ingin jadi pemimpin dan ingin mencari ketenaran! Mereka tertipu dengan prasangka: “Bahwa semua itu, karena memulyakan agama dan ilmu, bukan kesombongan”. Pada titik ini, Iblis bersorak-sorai. “Orang alim yang jelek, seperti batu besar yang menghalangi air sampai ke tanaman. Ia tak bisa menyerap air ataupun menampungnya” dadi raono manfaate kangge ummat.
(Baik ulama yang hanya suka ilmu fiqh/bahtsu, ulama yang hanya berdiam diri, ulama ahli ilmu kalam, semuanya di kupas tuntas tipu daya untuk mereka)

3. Bagi yang Suka Tutur-tutur

(Termasuk buat status fesbuk 😅 Sengaja saya tulis komplit, biar tumancep ke penulis, istilah wong jowo, “Nek ngajar liyan, awake dewe kudu di remekke ndisik” muga inipun hanya bertujuan belajar, mencari ridha Allah Ta’ala, bukan lainnya, Amin)

Mereka; para muballigh, penceramah, pembuat status, makalah, penulis bebas etc. Sibuk dengan tutur-tutur dan suka meluhurkan orang yang berbicara tentang akhlaq diri, dan sifat hati; baik berupa takut kepada Allah, harapan padaNya, sabar, syukur, tawakkal, zuhud, yakin, ikhlas, dan jujur.

Mereka bisa terperdaya! Lho kok?!

Iya! Sebab dengan berbicara sifat-sifat diatas dan mengajak masyarakat untuk melakukannya, dia kadang menyangka termasuk yang melakukannya. Padahal, ia bukan golongan yang punya sifat-sifat yang dikisahkannya. Hanya sedikit sekali yang ia amalkan! Bahkan awam musliminpun bisa melakukannya.

Keterperdayaan mereka begitu dalam; mereka sangat takjub dengan dirinya. Menyangka ilmu cinta pada Allahnya telah mensamudra. Menyangka golongan dari orang-orang yang selamat dalam pandangan Alllah Ta’ala. Menyangka dia pasti diampuni sebab kata-katanya tentang zuhud, padahal sepi dari amal.

Keterperdayaan mereka begitu dalam, bahkan dari generasi sebelumnya. Karena mereka menyangka cinta Allah dan RasulNya, padahal tak mampu mengamalkan kerumitan ikhlas.
Mereka menganggap masuk golongan orang ikhlas tapi tak mampu meredam aib-aib yang tersamar pada diri. Anggapannya, ia termasuk orang-orang bersih. Tapi, semua sifat yang ia lakukan, malah menampakkan sangat cintanya pada dunia melebihi siapapun!. Mereka menampakkan kezuhudan, namun sejatinya sangat rakus dunia. Mereka menyemangati berbuat ikhlas, tapi bukan golongan orang-orang ikhlas. Mengajak kepada Allah, tapi malah lari dariNya. Menakut-nakuti siksa Allah, namun dia tenang-tenang saja.

Mengingatkan agar masyarakat berdzikir pada Allah, tapi dia sendiri lupa. Mengajak mendekat pada Allah, tapi dia menjauhiNya. Mencaci sifat-sifat tercela, tapi dia melakukannya. Mengajak agar meninggalkan makhluk, hanya kepada Allah, tapi dia malah sangat ingin mereka mendekat memujinya, jika penggemarnya dilarang hadir di majlisnya, dunia berasa sempit, padahal begitu luasnya. Mereka sangka, tujuannya adalah memperbaiki makhluk. Namun, jika ada saingan, yang mana masyarakat lebih tertarik kepada rivalnya, maka ia akan mati ngenes, dan mulai timbul dengki. Jika ada yang memuji saingannya, maka orang tersebut menjadi makluq Allah yang paling dibencinya. Mereka sangat besar potensi terperdayanya, sulit diingatkan untuk kembali pada kebenaran!

Alhamdulillah, cukup tiga saja ini yang jadi cuplikan kitab recomended bagi semua muslimin. Hadeh, awak rasane koyo di antemi.

Salam.

Related Posts