Jokowi dan Panggung Politik

Ilustrasi: media tempo

Sejak kemunculannya yang “fenomenal” sebagai wali kota Solo. Jokowi sudah menjadi magnet politik yang terus “dipoles” sehingga sukses menjadi gubernur DKI dan memuncak menjadi presiden. Sebuah “prestasi” politik yang tidak mudah dilampaui oleh siapapun. Terlepas dari sosoknya yang “sederhana” Jokowi adalah politisi yang cukup konsisten dalam menjaga reputasi dan citra politiknya di depan publik. Bahkan menjadi sosok yang dianggap “tanpa cela” bagi pendukung fanatiknya. Hal inilah yang membuat lawan-lawan politiknya susah mencari celah kelemahan yang bisa menjatuhkan Jokowi.

Salah satu isu yang sejak awal sering didengungkan oleh lawan politik Jokowi adalah isu bahwa Jokowi adalah “boneka politik” Megawati. Penampilan Jokowi yang “lugu dan sederhana” yang awalnya dianggap sebagai kelemahan, justru menjadi kekuatan yang mampu menciptakan simpati masyarakat. Harapan lahirnya sebuah pemerintahan sipil yang demokratis dan kuat menjadi alasan di balik kekalahan Prabowo yang dicitrakan mewakili tradisi politik militer tegas dan cerdas. Kekecewaan rakyat terhadap prestasi biasa saja presiden SBY yang berlatar militer juga menyumbang sedikit keraguan pada sosok Prabowo. Akibatnya memainkan isu figur militer tidak lagi menarik simpati pemilih, apalagi lawan Prabowo terus mendengungkan isu pelanggaran HAM. Disinilah figur sang mantan jenderal kalah simpati dengan sosok “tukang kayu” mantan walikota solo yang sudah menjadi media darling. Hal ini pula yang kemudian semakin mendorong pihak Prabowo memainkan isu populisme agama di ronde kedua.

Sebagai tokoh yang dibesarkan PDIP, Jokowi mampu mempertahankan kepercayaan politisnya bukan hanya di tubuh PDIP tetapi juga di parpol pendukung yang lain. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya dukungan politik di periode keduanya, yang bahkan semakin kuat mengakar bukan hanya di PDIP, tetapi juga di kalangan massa sipil dan Islam tradisional. Meskipun belum mampu mendapatkan kepercayaan penuh dari kalangan Islam modernis dan Islam politik. Tetapi Jokowi tetap mampu menjaga hubungan baik dengan beberapa elit mereka. Bukti terbaru dari jeleknya citra politik Jokowi di mata kalangan Islam modernis dan Islam politik paling tidak bisa dilihat dari pidato ketua HMI beberapa saat lalu, yang secara gamblang menuduh sebagian elit penguasa (yang dekat dengan Jokowi) berusaha memecah belah ummat Islam..Isu yang selalu diulang-ulang para tokoh Islam politik yang Istiqomah menjelekkan regim. Isu yang belum atau kurang efektif dalam menghadapi Jokowi ini pun alih-alih menjatuhkan Jokowi, justru malah menjadi alat politik yang bisa ditarik ulur oleh Jokowi. Salah satunya adalah degan kesediaan pihak istana merima Amin Rais dan TP3 nya yang melaporkan isu pelanggaran HAM Polri terhadap FPI. Padahal Amin Rais adalah salah satu tokoh Islam modernis sekaligus figur politisi “Islam” yang selalu beroposisi dengan pemerintahan Jokowi.

Pertanyaan apa begitu percaya diri akhir-akhir ini meskipun didera beragam problem yang sangat komplek.di tengah Pandemi dan resesi ekonomi? Kenapa Jokowi begitu kuat dan susah dijatuhkan popularitasnya? Salah satunya adalah Jokowi saat ini bukan hanya menjadi magnet politik, tetapi sudah menjadi panggung politik itu sendiri. Lihat saja, semua isu tentang Jokowi dan keluarganya mengalahkan isu-isu politik yang lebih substantif. Isu politik pangan yang salah urus dan juga isu lainya yang mendasar tiba-tiba tampak datar-datar saja, malah kalah gaungnya dengan isu “ghosting” yang melibatkan anaknya. Isu ekonomi yang terus tergerus wabah Covid-19 kalah dengan isu kudeta partai yang melibatkan pejabat istana. Apalagi sekarang ditambah berita kedatangan Amin Rais ke Istana, maka jadilah semua isu politik strategis tersebut kalah dengan isu-isu sampah politik, yang memang bisa menaikkan rating berita dan viral di medsos.

Bersambung…

Related Posts