Manusia Al-Quran

Ilustrasi:s/ Kumparan

Dia adalah seorang pria berusia kisaran 50 tahun. Perawakannya tinggi dan kurus. Kumis tipisnya serasi dengan jenggot tipisnya. Sebagian rambutnya sudah memutih, terlihat waktu mulai memakan usianya. Saya bertemu dengannya lima hari yang lalu dan bertemu lagi tadi malem. Saya mengenalnya karena dia menjual beberapa bukunya di marketplace Facebook. Karena rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat kos saya, maka saya putuskan untuk berkunjung ke rumahnya begitu kami sepakat soal harga dan pilihan buku. Ketika sampai di rumahnya, saya mendapatinya sedang memotret buku-buku. Ternyata yang dia jual bukan hanya buku yang saya minati di postingan. Ada banyak sekali buku yang berceceran di lantai. Dengan sangat antusias saya bertanya: “Buku-buku ini dijual juga, pak?” Dia menjawab: “Iya. Semua saya jual, termasuk yang ada di dalam kamar. Di rak-rak yang sudah berdebu itu.”

Obrolan kami mulai mengalir. Dia ingin menjual semua bukunya (barangkali koleksinya ada lebih dari 500 judul) karena ingin pindah rumah. Rumahnya yang sekarang akan dia jual kemudian membeli rumah lainnya di kota lain. Dia tanya latarbelakang saya, barangkali karena mendapati saya pakai sarung dan peci. Saya jawab saya anak pesantren yang kemudian meneruskan kuliah di Mesir. Mendengar jawaban itu dia langsung antusias. Dia bercerita soal keadaan dia sebelum percaya adanya Tuhan. Betul, dia menjadi ateis lebih dari separuh hidupnya. Dibesarkan di keluarga yang tidak terlalu agamis, dia tidak pernah dikenalkan siapa itu Tuhan. “Kenangan saya soal agama hanyalah ibu saya,” dia mengenang, “dan saya masih ingat ketika ibu saya membaca al-Quran ia hanya membacanya sekilas.” Kenangan itu berloncatan di pikirannya. Dia tidak pernah kenal agama, apalagi Tuhan. Sampai akhirnya suatu ketika kejadian tidak disengaja mengawali perjalanan panjangnya menuju kebenaran.

Dia adalah seorang pengkaji ilmu tanah dan bekerja di hutan raya untuk memetakan area. Sudah lama sekali semenjak lulus kuliah, dia bekerja di hutan raya. Sampai suatu ketika dia mendapat panggilan untuk bekerja di Batam. Dari tempat asalnya ke Batam, ia naik pesawat. Di bandara, ketika menunggu panggilan pesawatnya, ia melihat-lihat toko buku. Di sana pandangannya tertuju kepada kitab salah satu agama. Kitab itu akhirnya dia beli dan dia baca di sepanjang perjalanannya menuju Batam. Begitu kitab itu khatam, dia penasaran dengan isi kitab agama lain. Setelah itu, dia membeli semua kitab suci, termasuk kitab suci agama yang hanya ada di Amerika. Semua kitab suci itu dia baca. Dari satu kitab ke kitab yang lain, pengembaraannya berakhir di al-Quran. Di dalam al-Quran inilah ia menemukan kebenaran sejati. Latar belakangnya sebagai orang yang benar-benar awam soal agama membawa dia ke kitab suci semua agama dan akhirnya melabuhkan dirinya ke al-Quran. Baginya, al-Quran adalah kitab suci paling lengkap. Beberapa kitab di agama lain lebih menekankan akhlak dan mengabaikan ajaran lainnya. Tetapi al-Quran, tandasnya, mencakup semua kehidupan manusia.

Ketika sudah mendalami al-Quran, dia belum berikrar. Statusnya masih ateis. Benih-benih ketertarikannya kepada Islam memang mulai tumbuh, tapi dia masih mencari kemantapan. Alhasil, dia membeli buku-buku agama Islam dan mulai mempelajarinya. Hinggai akhirnya dia sampai kepada tuntunan umrah dan haji. Dia ingin sekali umrah. Datanglah dia ke biro umrah dan haji yang dia temukan di pinggir jalan. Dia mendaftarkan diri untuk ikut umrah padahal dia masih ateis. Setelah melunasi biaya administrasi, dia tinggal menunggu panggilan kapan bisa berangkat. Tetapi Allah berkehendak lain. Biro umrah dan haji yang dia ikuti ternyata disewa oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Dia tidak jadi berangkat umrah dan uangnya dikembalikan oleh biro. Belakangan dia menyadari bahwa orang yang tidak beriman memang tidak boleh memasuki Mekah. (QS. At-Taubah:28). Dengan kemantapan hati, akhirnya dia berikrar bahwa “tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Saya tidak tahu kepada siapa dia berikrar. Yang saya tahu, melalui pengakuannya, setelah masuk Islam dia tidak pernah sekali pun masuk masjid. Beberapa saat setelah dia masuk Islam, dia mendaftar umrah lagi. Singkat cerita, dia akhirnya berangkat umrah dan masjid yang pertama kali dia masuki adalah Masjidil Haram. Begitu terharunya dia di hadapan Ka’bah. Dia tidak menyangka perjalanannya akan melabuh ke Islam. Sembilan hari umrah, dia ketagihan berada di dua kota suci. Sepulang umrah, dia langsung ke Depag untuk mendaftarkan diri naik haji. Prosesnya begitu singkat dan hanya menunggu dua tahun akhirnya dia naik haji.

Sudah dua kali saya bertemu dengan dia. Selalu saja, kami betah diskusi soal Islam sampai larut malam. Dia memang orang yang terlambat mempelajari al-Quran, tetapi semangatnya tidak pupus. Dia menghapalkan surat-surat melalui transliterasi. Dia mengaku sendiri bahwa dia tidak bisa membaca aksara Arab. Melalui muratal, dia belajar melafalkan ayat-ayat al-Quran dan dia kini sudah hapal Juz Amma dan beberapa surat panjang. Dia memang tidak hapal al-Quran, tetapi dia hapal betul terjamahan al-Quran. Dia mengingat-ingat bahwa terjemahan yang pertama kali dia beli adalah terjemahan Depag, kemudian terjemahan Buya Hamka, kemudian terjemahan Pak Quraish Shihab, kemudian, yang terakhir, terjemahannya Gus Baha. Dia hapal betul angka ayat dan nama surat. Dia belajar dari terjemahan, tetapi pemahaman Islamnya sungguh sangat dalam. Masalah yang bagi saya sangat pelik dapat dia jawab dengan tegas dan masuk akal. Saya bertanya soal pembuktian adanya Tuhan. Dia menjawabnya berdasarkan al-Quran. Bukan karena dogmatis, tetapi karena al-Quran memuat metode yang sungguh masuk akal dan dapat diterima semua orang. Dia berbicara soal harmoni alam. Latar belakang ilmu kehutanan dia pakai untuk menjelaskan bahwa alam semesta yang serba harmonis ini tidak mungkin ada begitu saja. Pasti ada yang menciptakan. Pikiran manusiawi kita selalu mencari penyebab adanya sesuatu di hadapan kita. Berarti tidak ada sesuatu apa pun yang kebetulan berada di hadapan kita. Alam semesta yang serba harmonis dan cocok untuk kehidupan manusia ini pasti ada yang menciptakan.

Dia menjual semua bukunya karena dia tidak butuh buku-buku itu lagi. Selain bahwa sebentar lagi dia ingin pindahan rumah. Baginya, al-Quran adalah pegangan hidupnya. Dia akan membaca al-Quran sampai akhir hayat. Hampir semua koleksinya sudah dia baca. Itu terbukti dari penguasannya terhadap beberapa literatur pemikiran Islam. Dia secara tegas menolak pemikiran sufi. Menurutnya, banyak sufi yang ajarannya bertentangan dengan al-Quran. Sebagian besar buku yang ada di koleksinya adalah buku tasawuf dan mistisisme, tetapi dia tidak menemukan kepuasan dari buku-buku itu. Harapan terakhir dia adalah bisa membeli tafsirnya Gus Baha’. Dua kitab itulah (terjemah dan tafsirnya Gus Baha’) yang ingin dia genggam sampai mati. Selain itu, rumah kecil beserta sepetak tanah akan dia jual. Dia ingin pindah ke suatu kota yang sepi, di daerah yang dekat dengan masjid. Hasil dari menjual rumah akan dia belikan rumah sekadarnya, sisanya akan dia pakai untuk bekal sampai mati. Dia tidak bekerja, dia tidak menikah. Dia hidup sebatang kara. Tidak, dia bersama al-Quran dan itulah satu-satunya kitab yang dapat mempersatukan pembacanya dengan Allah dalam perbincangan abadi.

Related Posts