Masjidku Kemana?

Ilustrasi:s/ Harakatuna.com

Seorang jama’ah senior mendatangi Paijo dan bertanya: “Jo aku sudah lama tidak melihat Yuk Tin, kemana beliau ?”

Paijo: “Yuk Tin sudah undur diri dan sekarang jadi “komisaris” warung saja pak.”

Jama’ah : “Lho kok kayak tokoh masyarakat saja jadi komisaris segala he he he. Sebenarnya aku mau tanya sama beliau kenapa sekarang masjid-masjid begitu kering dan gersang. Hanya berisi manusia egois yang tak lagi peduli pada sesama. Kemanakah perginya ruh masjid-masjid itu Jo, kok sekarang isinya berlomba menghias fisik dan keras-kerasan toa semata. Satu lagi sekarang malah muncul budaya makan-makan yang semakin nggak jelas arahnya. Kalau jaman Nabi memang yang dilayani adalah para pencari “Nabi” dari luar Madinah yang bekalnya minim, sehingga Nabi dan sahabatnya yang mampu turut menanggung kebutuhan pokok mereka. Tapi sekarang malah pengurusnya dan orang-orang sekitar masjid yang kaya yang menikmati. Kenapa tidak untuk mengentaskan kemiskinan langsung saja?”

Paijo : “Dunia ini telah berubah dan kita juga hidup di tempat serta zaman yang berbeda dengan era kenabian pak. Zaman Nabi masjid adalah pusat segala kegiatan, bukan hanya tempat ibadah ritual semata, tetapi juga jadi basis atau pusat segala kegiatan Nabi yang melibatkan ummat. Di masjid itulah ummat kadang menginap jika kemalaman dalam perjalanan atau mereka yang tak punya tempat berteduh dari panas dan hujan. Di masjid pula Nabi dan para sahabat membangun kekuatan sosial, ekonomi, kebudayaan dan bahkan strategi sosial politik dalam memberdayakan ummat. Kata Yuk Tin, sejak kemunculan “birokrasi” agama lewat penafsiran yang makin rinci dalam kitab-kitab fiqh itulah kemudian Islam menjadi begitu rumit. Akhirnya ummat terjerat sendiri dalam kerumitan birokrasi hukum yang sebenarnya hasil penafsiran ulama terhadap teks dan konteks kehidupan di era kenabian. Demi menjaga kesucian dan kebersihan masjid akhirnya digembok oleh pengurusnya dan hanya dibuka waktu sholat saja. Akhirnya masjid hanya sekedar menjadi monumen, ia kehilangan fungsi substantif nya. Makanya Yuk Tin meminta saya untuk menjaga warung ini tetap bisa terbuka dan melayani siapapun yang minta pelayanan. Syaratnya hanya rasa Cinta dan saling menghormati serta menghargai. Meskipun demikian kata Yuk Tin kita tidak boleh menyalahkan para pengurus masjid itu, karena mereka juga orang-orang yang kerja sosial dan nggak dibayar. Di zaman akhir ini sudah untung ada orang yang masih mau mengurus masjid, meskipun tetap harus dinasehati agar mereka paling tidak bisa belajar bagaimana Nabi dulu mengelola masjid sebagai pusat Peradaban Islam”.

Jama’ah : “Syukurlah Jo, kita masih punya Yuk Tin yang selalu menjaga cahaya Cinta Nya dengan sepenuh hati. Baiklah Jo, aku akan sowan ke Yuk Tin ditempatnya beruzlah. Terimakasih kamu masih mau menjaga warung tinggalan Yuk Tin ini.

Related Posts