Mengiaskan Hukum Lalu Lalang di Antara Orang Shalat dengan Hukum Lalu Lintas

Ilustrasi:s/islamedia.com

Siapa menduga, shalat yang semula menjadi bentuk hubungan manusia kepada Sang Khaliq kemudian merambah pada tatanan sosial? Buktinya ada aturan lalu lalang di hadapan orang yang shalat.

Aturan hukum lalu lalang di hadapan orang yang sedang shalat timbul sejak adanya hadits berupa sabda Rasulullah Saw:

إذا صلى أحدكم الى شيء يستره من الناس، فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه، فإن أبى فليقاتله فإنما هو شيطان (رواه البخاري)

Artinya: Jika seorang di antara kalian shalat dengan membuat batas dari manusia lainnya, kemudian ada orang yang melintas di depannya maka tolaklah. Jika orang itu tetap tidak mengindahkan maka perangilah karena dia itu syetan (HR. Bukhari).

Berdasarkan dalil ini para ulama lalu melakukan studi hukum tentang lalu lalang di depan orang yang shalat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum itu tidak berlaku dalam barisan orang-orang yang sedang shalat jamaah. Dengan pengertian lain lalu lalangnya orang di depan barisan makmum yang sedang berjamaah tidak menjadi masalah.

Adapun yang dipersoalkan adalah lalu lalang di depan imam atau orang yang shalat sendirian (munfarid), padahal imam maupun orang yang shalat sendiri itu telah memasang pembatas. Menurut mazhab Maliki dan Hanafi lalu lalang di depan imam dan orang yang salat sendiri adalah makruh. Sedangkan mazhab Syafii dan Hanbali menghukumi haram.

Apakah ketentuan hukum ini dapat diqiyaskan dengan mematuhi hukum lalu lintas? Jika dicermati para ulama mazhab membahas hukum lalu lalang di hadapan orang shalat dalam dua konteks berbeda. Pertama lalu lalang di hapan orang orang yang sedang shalat berjamaah dan yang kedua di hadapan orang yang shalat sendiri. Pada prinsipnya para ulama perlu menjelaskan aturan lalu lalang itu supaya tercipta kenyamanan dan ketertiban dalam shalat.

Jika dalam shalat saja ada aturan lalu lalang maka di jalan pun penting diselenggarakan aturan berlalu lintas denga tujuan serupa yaitu menciptakan kenyamanan, ketertiban, dan keselematan di jalan. Sebagaimana halnya aturan yang mengikat ketika sudah ada sutrah (pembatas) orang shalat maka di dalam hukum lalu lintas juga harus dipatuhi karena sudah ada pembatas jalan dan batas lajur jalan, serta traffic light.

Pendapat mazhab Syafii dan Hambali yang mengharamkan lalu lalang di depan imam dan orang yang sedang shalat sendiri juga dapat dianalogikan (ilhaq al-hukm) dalam pelanggaran lalu lintas. Pertimbangan hukumnya karena alasan sudah ada sutrah di depan orang shalat, hal yang serupa terjadi di jalan raya yang sudah terpasang pembatas jalan, lajur jalan, dan traffic light lainnya. Oleh sebab itu segala bentuk pelanggaran lalu lintas juga dihukumi haram.

Bahkan bagi umat beragama pelanggaran hukum lalu lintas tidak hanya dipahami takut akan sanksi yang dijatuhkan bagi pelanggarnya. Akan tetapi juga takut dengan keharaman hukum agama di mana setimpal antara dosa pelanggaran dan ancaman siksanya. Terlebih lagi jika pelanggaran lalu lintas itu mengakibatkan jatuhnya korban jiwa maka hal ini tentu tak dapat terpisah dari siksa kubur dan neraka.

Related Posts