Ahli Hadis Butuh kepada Ahli Fikih

Ilustrasi:s/ Atorcator.com

Tawadhu’nya para ahli hadits dihadapan ahli fikih. Bahwa ahli fikih semisal Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad, Al-Laits, dan lainnya adalah di antara pelita umat. Jika para ahli hadits saja amat butuh kepada ahli fikih, maka siapa kita, siapa guru kita, yang mungkin merasa tak butuh atau tak mau merujuk pada para imam fikih atau imam mazhab tersebut.

Berkata al-Imam Ibnu ‘Uyainah rahimahullāh:

الحديث مضلة الا للفقهاء

Hadits itu bisa menyesatkan kecuali untuk para ahli fikih.

Berkata al-Imam Ibn Wahb rahimahullāh:

“Setiap ahli hadits yang tidak memiliki imam panutan dalam fikih, maka dia tersesat. Sekiranya Allāh tidak menyelamatkan kami melalui Mālik dan Al-Laīts, niscaya kami akan tersesat.”

Anda bisa bayangkan, sekelas ahli hadits di masa salaf saja butuh pada ahli fikih. Maka siapa Anda yang bukan ahli hadits? Atau siapa Anda yang meski bergelut dengan hadits tapi tak butuh pada imam fikih? Semoga kita atau ustadz-ustadz kita atau ulama-ulama kita bisa meniru para ahli hadits terdahulu. Oleh karenanya, mereka banyak yang bermazhab dengan salah satu di antara imam mazhab fikih. Karena ketawadhuan mereka juga tentunya. Rahimahumullāh.

Maka, hafal hadits meski ribuan atau mengkaji hadits saja tidak cukup apabila kita tak belajar fikih juga. Karena dikhawatirkan seperti apa yang disampaikan para ulama di atas. Allāhu a’lam.

Sumber: Kitab Al-Jāmi’, milik Imam Ibn Abi Zaid al-Qairuwaniy, hlm: 118-119

Related Posts