Akhirat untuk Dunia

Ilustrasi:s/ SINDOnews.com

Jama’ah : “Jo semalam saya mengikuti kajian tadabbur Al Qur’an. Biar aku tidak selalu kamu sindir cuman membaca Al Qur’an hanya untuk yang sudah mati, tetapi juga untuk yang masih hidup. Tapi setelah saya ikuti aku malah jadi bingung Jo, karena ada ustadz senior bilang bahwa kehidupan akhirat itu untuk dunia dan bukan dunia untuk akhirat. Sementara ada ustadz yang lebih muda ngotot kalau kehidupan dunia itulah yang untuk akhirat dengan menyitir ayat yang arti sederhananya kejarlah kehidupan akhirat dan jangan lupakan sedikit kesenangan kehidupan dunia. Alih-alih tambah tenang aku malah tambah bingung Jo.”

Paijo : “Ha ha ha Alhamdulillah kang kalau sampeyan bingung, itu tanda jiwa pikiran kita masih normal dan sehat. Kata Yuk Tin kita ini memang dibekali potensi akal yang terbatas dan hati nurani yang punya potensi melampaui jangkauan akal jika dimaksimalkan. Akal kata Yuk Tin begitu penting sebagai alat untuk membaca realitas duniawi yang materialistis dengan bantuan panca indra. Sekalipun tanpa kendali hati nurani, akal bisa membawa pada kemajuan kesadaran material yang mungkin terasa membahagiakan manusia. Meskipun hakekatnya justru lebih membuat manusia menderita. Sedangkan jika hati nurani yang terlalu dikedepankan, bisa berpotensi menjerumuskan orang awam pada keyakinan-keyakinan imajinatif yang bahkan bisa memanipulasi kemiskinan material mereka sebagai sebuah jalan kebenaran.”

Jama’ah : “Waduh Jo, aku kok malah jadi bingung memahami pikiran Yuk Tin. Bagaimana bisa orang memakai akal tanpa nurani bisa terjebak pada kemajuan semu dan jika hanya memakai nuraninya saja akan salah memahami jalan kebenaran? Artinya keduanya sama-sama berpotensi membuat kita “tersesat.”

Paijo : “Begini kang, Yuk Tin pernah menjelaskan bahwa Tuhan telah mengajari Adam dengan (nama-nama objek) dalam alam ukhrowi (ide). Ilmu pengetahuan asasi inilah yang kemudian dijadikan modal untuk mengembangkan potensi nalar akal dan nalar nurani manusia. Tapi iblis “membujuk Adam untuk lebih mendahulukan nalar akalnya untuk membaca dan menafsiri lingkungan dengan “memakan” buah Khuldi. Bukan dengan potensi nurani atau keimanannya, menjauhi karena perintah Allah. Sebagai hukuman atas kesalahan Adam, maka Tuhan menurunkan Adam (manusia) ke dunia materi yang fana dari dunia akhirat (immateri) yang kekal.

Jama’ah : “Jadi kalau begitu pandangan ustad senior lebih bernuansa ideal atau mengedepankan nurani ketimbang akal. Sedangkan pandangan ustadz junior lebih bernuansa material karena lebih mendahulukan akal dari nurani. Mana yang lebih baik Jo?”

Paijo : “Lha kalau soal menyimpulkan pandangan orang, akang lebih canggih. Sedangkan kalau soal mana yang lebih baik? Kata Yuk Tin, kesadaran nurani (immateri) adalah kesadaran yang akan banyak menghadirkan ketenangan jiwa. Sedangkan kesadaran akal (material) akan membawa kita pada kegelisahan tak berkesudahan jika tak diimbangi kesadaran nurani keimanan. Begitulah kang, jika kita meyakini dunia ini semu dan akherat itu nyata, maka jelas pandangan ustad senior itu sudah mencapai substansi ayat yang akang tarsirkan di awal perbincangan kita. Sedangkan ustadz junior masih memahami kulitnya saja.”

Jama’ah : “Begitu ya Jo, paham aku sekarang kenapa akhirat itu kekal dan dunia itu fana. Ternyata dunia ini adalah citra semu akhirat. Jadi memang akhirat itu ada untuk dunia. Agar manusia bisa mengambil pelajaran dan bisa kembali ke akhirat dengan beramal di dunia atas dasar kesadaran nurani keimanan ruhaniyahnya dan bukan semata-mata mengandalkan kesadaran akal meterialnya.

Related Posts