Apakah Pelaku Bom Bunuh Diri Bisa Dikatakan Mati Syahid?

Ilustrasi:s/ Kompas.com

Isu tentang sebuah ambisi yg semakin hari semakin menampakkan aksi. Mereka yang rela melakukan tindakan segala misi dalam istilah lain biasa disebut dengan separatisme politis.

Sebagai aksi, tak jarang mereka juga melakukan pengeboman di tempat yang dinilai sebagai sarang maksiat tanpa mentaati hukum yang berlaku. Bahkan mereka rela mati demi menyandang status sebagai syahid. Sebab mereka menilai apa yang dilakukan adalah bentuk dari jihad.

Perihal bom bunuh diri, syariat tidak pernah melegalkan tindakan tersebut sekalipun dalam rangka memperjuangkan kebenaran. Karena bagaimanapun agama Islam tidak menyukai seseorang yang mati dalam keadaan konyol.

Dalam peperangan yang diizinkan, Syara’ pun tak sembarangan minimal ada keyakinan bahwa dengan menyerang musuh dan membunuhnya dapat membangkitkan semangat juang kaum muslimin, tapi tidak untuk Konteks NKRI sebab status non muslimnya “Fi dzimmatil musta’man alias dalam lindungan negara.

Dalam literatur Fiqih, kriteria Syahid yang diprospek masuk syurga mencakup 2 golongan:

Pertama, Syahid dunia yakni orang yang terbunuh dalam medan peperangan melawan orang kafir dan matinya sebab perang, bukan sebab yang lain. Dan yang kedua, adalah syahid akhirat yakni orang yang mati dengan sebab-sebab syahadah seperti meninggal karena tenggelam, sakit perut, tertimpa reruntuhan (musibah) dan lain-lain.

Melihat rincian tersebut tentu perilaku bom bunuh diri belum bisa untuk dikatakan sebagai syuhada, terlebih jika mereka termasuk dari golongan separatis sehingga mayatnya tetap dimandikan dishalati layaknya mayat muslim yang lain.

Related Posts