Begitu Mulianya Wanita, tidak Berpuasa karena Berhalangan sudah termasuk Ibadah

Ilustrasi:s/ Flower Cilmp

Puasa merupakan salah satu amaliah yang di syariatkan baik puasa wajib ataupun sunnah bagi umat muslim yang sudah baligh.

Namun, bagi perempuan yang sedang haid, Islam mengaturnya tak bisa berpuasa. Mengapa Allah melarang perempuan haid untuk berpuasa.

Ibnu Hajar mengatakan : “Larangan shalat bagi perempuan haid adalah perkara yang telah jelas karena kesucian dipersyaratkan dalam shalat dan perempuan haid tidak dalam keadaan suci.

Adapun puasa tidak dipersyaratkan di dalamnya kesucian maka larangan puasa bagi perempuan haid itu sifatnya adalah ta’abudi (hal yang bersifat ibadah semata) sehingga butuh suatu nash pelarangan berbeda dengan shalat”.

Jadi, larangan berpuasa bagi perempuan haid ini sifatnya ta’abudi (ibadah semata) yang wallahu a’lam akan hikmah di balik larangan tersebut. Sebagian ulama mengatakan bahwa larangan ini merupakan bentuk rahmat Allah kepada para perempuan.

Mengapa dianggap rahmat? Ini karena perempuan dalam keadaan lemah ketika haid dan melakukan puasa ketika itu tentu akan menambah kelemahan dan akhirnya akan membahayakan jiwanya. Orang yg tidak mampu beramal karena udzur, sementara ada keinginan / niat besar darinya untuk beramal maka dia tetap mendapatkan pahala. Mereka tidak beramal bukan karena malas. Mereka tidak beramal karena udzur.

Ketika Rasulullah dan para sahabat berangkat jihad, ada beberapa orang yang udzur, sehingga tidak ikut berangkat. Beliau mengatakan:

إن بالمدينة أقواما ما سرْتم مسيرا ولا قطعتم واديا إلا كانوا معكم

Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang, setiap kali kalian menempuh perjalanan atau melintasi lembah, mereka selalu bersama kalian

Para sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, meskipun mereka diam saja di Madinah?”Jawab Nabi :

وهم بالمدينة ، حبسهم العذر

Meskipun mereka di Madinah. Mereka tidak ikut jihad karena udzur (Hr. Bukhari)”

‏Dalam hadis lain, dari Abu Musa al Asy’ari ra :

اذا مرض العبد أو سافر , كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

Apabila seorang hamba mengalami sakit atau safar (sehingga tidak bisa beramal) maka tetap dicatat untuknya sebagaimana amal rutinnya ketika dia tidak safar dan dalam kondisi sehat. (Hr Ahmad, Bukhari)”

Hadis ini berlaku untuk amalan yang dirutinkan seorang mukmin, kemudian dia tidak mampu melaksanakannya karena udzur (halangan) .

Para ulama menyamakan status wanita haid dan nifas sebagaimana orang sakit, dimana mereka tetap mendapat pahala shalat ketika haid.

Karena mereka memiliki penghalang yang diterima oleh syariat. dan ini tentu dengan syarat, disertai keinginan yang jujur dan tekad kuat untuk beramal, andai dia tidak memiliki udzur.

Jadi rukhsoh bagi wanita yang halangan itu bagian dari ibadah, karena mejauhi larangan Allah atas ibadah puasa yang menghalanginya untuk ditunaikan sebagai ibadah.

(Fathul Bari)

والله اعلم

Semoga bermanfaat

Related Posts